Oleh : Kens Geo Danuarta
SEJUK.ID – Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar lembaran-lembaran biasa, melainkan sebagai sesuatu yang dibaca, dipahami, dan dipelajari. Banyak peristiwa menakjubkan yang terjadi dan diceritakan di dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah tersebut bukanlah dongeng belaka, melainkan cerita yang benar-benar pernah terjadi, bahkan sebagian di antaranya mungkin akan terjadi di masa depan.
Di antara kisah-kisah tersebut, tentu kita tidak asing dengan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam—tentang ketampanan wajahnya yang luar biasa. Ketampanan Yusuf membuat istri Al-Aziz, seorang pejabat tinggi di negeri itu, yakni Zulaikha, terpesona hingga akhirnya ia tergoda.
Suatu ketika, saat nafsunya tidak lagi dapat dikendalikan, Zulaikha menggoda Yusuf yang berada satu ruangan dengannya. Yusuf, sebagai manusia biasa, awalnya sempat tertarik untuk menanggapi godaan itu. Namun, Allah menjaga Nabi-Nya dari perbuatan tercela. Yusuf pun tersadar dan segera melarikan diri dari godaan Zulaikha. Ia selamat dari perbuatan maksiat karena perlindungan dan kekuatan dari Allah.
Peristiwa ini membuat Zulaikha malu, terlebih dalam riwayat disebutkan bahwa suaminya mendapati mereka berdua di dalam kamar. Terjadilah saling tuduh antara Yusuf dan Zulaikha. Namun, dalam proses perdebatan itu, Yusuf berhasil menunjukkan bukti bahwa dirinya tidak bersalah. Cerita ini semula menjadi rahasia di antara mereka, tetapi tak mampu dicegah untuk tersebar ke luar istana.
Kisah tentang istri pejabat yang tergoda oleh ketampanan Yusuf—yang saat itu hanyalah seorang budak—menjadi buah bibir masyarakat. Orang-orang ramai membicarakan Zulaikha, menggibahnya tanpa henti. Hingga suatu ketika, Zulaikha mengundang para wanita itu ke istana. Masing-masing diberi tempat duduk yang empuk, sebilah pisau tajam, dan hidangan berupa daging dan buah untuk dikupas.
Ketika para wanita itu sedang sibuk memotong buah dan daging, Zulaikha memanggil Yusuf agar keluar dan menemui mereka. Saat Yusuf muncul, seolah tempat itu didatangi malaikat. Setiap mata yang memandangnya terbelalak, terpukau oleh ketampanan Yusuf. Mereka memujanya hingga dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa mereka berkata, “Ini bukan manusia, ini adalah malaikat.”
Kekaguman mereka membuat kekacauan terjadi. Darah tiba-tiba menetes dari jari-jemari mereka karena tidak sadar telah mengiris tangan sendiri, bukan lagi buah atau daging. Zulaikha pun menegur mereka, “Kalian sibuk membicarakanku atas perlakuanku kepada Yusuf. Kini, saat kalian sendiri melihatnya, kalian tidak sadar telah mengiris jari kalian sendiri.”
Para wanita itu pulang dengan rasa malu yang luar biasa. Mereka yang semula sibuk mencela Zulaikha, kini sadar bahwa jika berada di posisinya, mereka bisa saja melakukan hal yang sama.
Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Zulaikha, Yusuf, dan para wanita negeri itu. Di balik keinginan Allah menampakkan ketampanan Yusuf dan keteguhannya melawan nafsu, ada pelajaran tentang sikap manusia dalam menilai orang lain. Para wanita itu awalnya hanya mendengar gosip dan langsung mencela Zulaikha dengan seburuk-buruknya celaan. Namun saat melihat sendiri ketampanan Yusuf, mereka bahkan tak sadar melukai diri mereka sendiri.
Begitu pula kita. Saat mendengar keburukan seseorang, sering kali kita langsung menggunjing, mencela, bahkan menghina, tanpa pernah bertanya: “Jika aku berada di posisinya, apakah aku akan selamat dari dosa yang sama?” Kita sibuk mencela, tetapi lalai mencari tahu penyebab di balik perbuatan itu.
Contohnya, ketika mendengar tetangga mencuri, kita mencelanya seburuk mungkin, tanpa berusaha memahami latar belakangnya. Mungkin saja ia mencuri karena kita, sebagai tetangga, acuh terhadap kesulitannya. Kita hanya memikirkan, “Yang penting perut saya kenyang.”
Kita memang berkewajiban menasihati pelaku keburukan, tetapi kita dilarang untuk menggunjingnya. Nabi ﷺ pernah memperingatkan dalam sabdanya:
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Siapa yang mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali telah melakukan dosa yang sama.”
(HR. Tirmidzi No. 2505. Syaikh Al-Albani berkata: hadits ini maudhu’/palsu).
Bukan berarti kita membiarkan keburukan, tetapi kita harus tetap mengingkarinya dengan cara yang bijak dan tidak merendahkan pelakunya. Nabi bahkan memberikan peringatan keras: siapa yang menjelekkan orang lain karena dosanya, maka dikhawatirkan ia akan melakukan dosa yang sama.
Maka, penting bagi kita untuk menjaga diri ketika melihat orang lain melakukan dosa—menahan diri dari menggunjing, menjelekkan, apalagi menyebarkan aibnya. Sebab, kita tidak pernah tahu apa alasan di balik perbuatannya. Bisa jadi, jika kita berada di posisi yang sama, kita akan melakukan hal serupa. Wallahu a’lam.


