NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Sumsum Tulang Kurban, Nikmat yang Kerap Terlupakan

3 Mins read

Oleh: Nashrul Mu’minin

SEJUK.ID – Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan suasana yang khas. Daging sapi dan kambing dibagikan ke rumah-rumah, dapur mulai sibuk sejak pagi, dan aroma rempah perlahan memenuhi udara. Di tengah semarak itu, masyarakat biasanya berlomba mengolah bagian terbaik hewan kurban menjadi sate, gulai, rendang, atau tongseng.

Namun, ada satu bagian yang kerap luput dari perhatian, yakni sumsum tulang. Banyak orang lebih memilih daging has, iga, atau bagian empuk lainnya, sementara tulang hanya berakhir menjadi pelengkap kuah. Padahal, di balik tulang itu tersimpan cita rasa gurih yang kaya sekaligus nilai penghormatan terhadap nikmat Allah SWT.

Dalam tradisi Islam, hewan kurban bukan sekadar bahan pangan. Kurban merupakan bagian dari syiar ibadah yang mengandung nilai syukur, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap rezeki. Karena itu, pemanfaatan seluruh bagian hewan dipandang sebagai bagian dari adab dalam beribadah.

Allah SWT berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kurban bukan sekadar prosesi penyembelihan, melainkan ibadah yang melahirkan rasa syukur. Allah SWT juga berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa inti kurban terletak pada ketakwaan, bukan semata pada banyaknya daging yang dibagikan. Karena itu, memanfaatkan hewan kurban secara bijak juga menjadi bagian dari wujud syukur.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

كُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا
“Makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah.” (HR. Muslim)

Para ulama menjadikan hadis tersebut sebagai landasan bahwa daging kurban boleh dimakan sendiri, disimpan, maupun dibagikan kepada orang lain. Menariknya, para fuqaha tidak membatasi pemanfaatan hanya pada daging merah. Tulang, kepala, kaki, lemak, hingga sumsum juga termasuk bagian yang boleh dimanfaatkan selama tidak diperjualbelikan apabila berasal dari kurban ibadah.

Baca Juga:  Mengoptimalkan Potensi Sumber Daya Manusia

Mazhab Hanafi memandang pemanfaatan seluruh bagian hewan kurban sebagai bentuk penghormatan terhadap nikmat Allah. Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa tulang, lemak, dan bagian lain boleh dimanfaatkan pemilik kurban untuk kebutuhan rumah tangga. Dalam Al-Hidayah, disebutkan bahwa memanfaatkan bagian hewan lebih utama daripada membiarkannya terbuang sia-sia.

Pandangan serupa juga ditemukan dalam mazhab Maliki. Malikiyah menganjurkan keluarga yang berkurban ikut menikmati hasil kurbannya agar syiar nikmat Allah tampak dalam kehidupan sehari-hari. Tulang yang diolah menjadi kuah, kaldu, atau sop sumsum dipandang sebagai bentuk intifa’ atau pemanfaatan yang dibolehkan.

Sementara itu, mazhab Syafi’i menganjurkan daging kurban sunnah dibagi menjadi tiga bagian: sebagian dimakan sendiri, sebagian dihadiahkan, dan sebagian disedekahkan. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan bahwa orang yang berkurban dianjurkan mencicipi hewan kurbannya sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi SAW. Bahkan, pengolahan menjadi masakan keluarga dipandang sebagai bagian dari mengambil keberkahan (tabarruk).

Rasulullah SAW sendiri dikenal menyukai makanan berkuah. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:

إِذَا طَبَخْتُمْ مَرَقًا فَأَكْثِرُوا مَاءَهُ
“Jika kalian memasak kuah, perbanyaklah airnya.” (HR. Muslim)

Para ulama memaknai hadis tersebut sebagai anjuran memperluas manfaat makanan agar dapat dinikmati lebih banyak orang. Dalam konteks Iduladha, semangkuk sop sumsum atau kaldu tulang yang dibagikan kepada tetangga bukan sekadar hidangan, melainkan juga simbol ukhuwah dan kebersamaan.

Di banyak tempat, pengolahan sumsum tulang justru menjadi tradisi kuliner yang khas. Tulang sapi biasanya dipanggang terlebih dahulu agar aroma lemaknya keluar, kemudian direbus bersama bawang putih, jahe, lada, cengkeh, dan pala. Sumsum yang meleleh ke dalam kuah menghasilkan rasa gurih alami tanpa tambahan penyedap.

Untuk tulang kambing, teknik pengolahannya sedikit berbeda. Tulang lazim direndam dengan jeruk nipis dan jahe untuk mengurangi aroma prengus, lalu direbus perlahan bersama serai, daun salam, kayu manis, ketumbar, dan jintan. Hasil akhirnya menyerupai sop iga dengan tekstur sumsum yang lembut di bagian tengah tulang.

Baca Juga:  Film Hamka dan Pelajaran Bagi Kader IMM

Ada pula cara tradisional yang kini mulai jarang ditemui, yakni membakar tulang langsung di atas bara hingga lemaknya meleleh. Sumsum kemudian disantap bersama garam, cabai, dan perasan jeruk limau. Teknik ini mirip dengan olahan bone marrow roast di kawasan Timur Tengah yang menonjolkan rasa gurih pekat dan kaya kolagen.

Di balik semua itu, sumsum tulang menyimpan pelajaran yang lebih dalam tentang makna kurban. Bagian yang sering dianggap sisa ternyata menyimpan kenikmatan dan keberkahan. Islam mengajarkan agar manusia tidak hanya mengambil yang tampak terbaik menurut pandangan mata, tetapi juga menghargai seluruh nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)

Karena itu, mengolah tulang kurban menjadi kaldu, sup, maupun sajian sumsum bukan semata urusan rasa. Di dalamnya terdapat nilai syukur, penghormatan terhadap amanah ibadah, dan upaya menjaga agar nikmat Allah tidak berakhir menjadi sesuatu yang terbuang. (*)

1202 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Wahyu Rofi dan Dua Medali Emas dari Latihan Mandiri di Muhammadiyah Games 2026

2 Mins read
Oleh: Dr. Maftuhah, M.Pd. MuhammadiyahLamongan.com – Ajang Muhammadiyah Games 2026 menjadi ruang lahirnya atlet-atlet muda Muhammadiyah yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga…
Opini

Ilusi Produktivitas di Balik Mahasiswa Aktif

3 Mins read
Oleh: Alya Nurul Ain, Dep. Bidang RPK Pikom IMM Teknik Unismuh Makassar (2025–2026) SEJUK.ID – Menjadi mahasiswa aktif kerap dianggap sebagai simbol…
Opini

Perempuan dan Peradaban

4 Mins read
Oleh: Aulia Safitri, A.Md.Kes., Bendahara Pustakaloka Cendekia Kota Metro dan Anggota RPK PC IMM Kota Metro SEJUK.ID – Perempuan kerap hadir sebagai…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *