NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Ilusi Produktivitas di Balik Mahasiswa Aktif

3 Mins read

Oleh: Alya Nurul Ain, Dep. Bidang RPK Pikom IMM Teknik Unismuh Makassar (2025–2026)

SEJUK.ID – Menjadi mahasiswa aktif kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan sekaligus produktivitas. Di lingkungan kampus, mahasiswa ideal sering digambarkan sebagai sosok yang mampu menyeimbangkan tuntutan akademik dengan keterlibatan dalam berbagai organisasi. Keaktifan organisasi dipandang sebagai nilai tambah yang prestisius, bahkan dalam banyak situasi berubah menjadi “standar tak tertulis” untuk menilai siapa yang layak disebut mahasiswa unggulan.

Namun, di balik citra itu, tersimpan realitas yang lebih kompleks: tekanan, kelelahan, dan tuntutan yang sering luput dibicarakan.

Sebagai mahasiswa semester empat yang aktif berorganisasi, saya merasakan langsung bagaimana tuntutan tersebut tidak selalu sejalan dengan kapasitas individu. Di satu sisi, dunia akademik menuntut fokus, konsistensi, dan pemahaman mendalam terhadap materi perkuliahan. Di sisi lain, organisasi menghadirkan dinamika yang tidak kalah menyita energi: rapat hingga larut malam, tanggung jawab kepanitiaan yang datang silih berganti, hingga ekspektasi untuk selalu hadir dan berkontribusi secara maksimal.

Dua hal itu kerap tidak berjalan beriringan. Keduanya justru saling berebut waktu dalam ruang yang terbatas.

Persoalan utamanya bukan terletak pada organisasi itu sendiri, melainkan pada budaya yang mengitarinya. Tanpa disadari, organisasi mahasiswa acap menciptakan sistem yang eksploitatif terhadap anggotanya. Loyalitas sering diukur bukan dari kualitas kontribusi, melainkan dari seberapa besar waktu dan tenaga yang rela dikorbankan.

Mahasiswa yang memilih memprioritaskan akademik kerap dianggap “kurang aktif” atau tidak serius berorganisasi. Sebaliknya, mereka yang terlalu tenggelam dalam aktivitas organisasi justru berisiko kehilangan fokus terhadap tujuan utama sebagai pelajar.

Dalam situasi seperti itu, dilema menjadi sesuatu yang nyaris tak terhindarkan. Saya kerap merasa bersalah ketika capaian akademik tidak maksimal, seolah telah mengkhianati tujuan awal memasuki perguruan tinggi. Tekanan moral juga datang dari berbagai arah, terutama harapan orang tua yang menempatkan keberhasilan akademik sebagai prioritas utama.

Baca Juga:  Histori dan Relevansi Puasa Manusia Masa Kini

Meski demikian, meninggalkan organisasi bukan perkara mudah. Di dalamnya, saya menemukan banyak pelajaran yang tidak diajarkan di ruang kelas: kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, manajemen konflik, hingga cara beradaptasi dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Kontradiksi itu menunjukkan perlunya kritik yang jujur terhadap sistem organisasi mahasiswa. Idealnya, organisasi menjadi ruang pengembangan diri yang saling mendukung dan menguatkan, bukan justru berubah menjadi beban tambahan yang perlahan menguras energi anggotanya.

Sayangnya, banyak organisasi belum mampu membangun sistem yang sehat dan berkelanjutan. Pembagian tugas yang tidak proporsional, budaya sungkan untuk menolak permintaan, serta glorifikasi terhadap kesibukan menjadi faktor yang memperparah keadaan.

Lebih jauh, mahasiswa sering terjebak dalam ilusi produktivitas. Banyaknya aktivitas kerap dianggap setara dengan pencapaian nyata, padahal tidak semua kesibukan menghasilkan perkembangan yang bermakna. Dalam konteks ini, organisasi dapat menjadi pedang bermata dua: memberi pengalaman berharga, tetapi juga berpotensi mengalihkan perhatian dari hal-hal yang lebih esensial bagi masa depan.

Dampaknya tidak hanya terasa pada aspek akademik, tetapi juga kesehatan mental dan fisik mahasiswa. Kelelahan kronis, stres berkepanjangan, hingga hilangnya motivasi perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar—bahkan dibanggakan.

Kalimat seperti, “Aku hampir tidak tidur semalam karena rapat,” seolah menjadi medali kehormatan yang pantas dipamerkan. Padahal, normalisasi terhadap kelelahan adalah sesuatu yang berbahaya. Ketika mahasiswa terus dipaksa memenuhi berbagai tuntutan tanpa waktu istirahat yang memadai, yang terjadi bukan lagi pengembangan diri, melainkan kelelahan berkepanjangan yang perlahan mengikis potensi terbaik mereka.

Karena itu, sudah saatnya paradigma tentang “mahasiswa aktif” ditinjau ulang. Menjadi aktif tidak berarti harus terlibat dalam semua kegiatan, melainkan mampu memilih aktivitas yang benar-benar relevan dan bermakna bagi tujuan pribadi.

Baca Juga:  Hikmah di Balik Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Keberanian untuk berkata “tidak” terhadap sesuatu yang tidak sejalan dengan prioritas bukan bentuk kelemahan. Sebaliknya, itu merupakan bagian dari kedewasaan dalam mengelola diri dan menentukan arah hidup. Tanpa kemampuan tersebut, mahasiswa hanya akan terus terjebak dalam siklus kelelahan yang tidak produktif.

Organisasi mahasiswa juga perlu melakukan refleksi terhadap sistem yang selama ini dijalankan. Apakah organisasi benar-benar menjadi ruang belajar yang sehat bagi anggotanya? Atau justru tanpa sadar berubah menjadi sumber tekanan yang menggerus kesejahteraan mereka?

Pertanyaan itu penting dijawab secara jujur oleh seluruh pihak, mulai dari pengurus hingga anggota baru. Sebab, organisasi yang sehat bukan organisasi yang memaksa anggotanya melampaui batas, melainkan organisasi yang mampu menghargai kapasitas setiap individu.

Pada akhirnya, perjalanan sebagai mahasiswa bukan soal seberapa sibuk seseorang terlihat di mata orang lain, melainkan seberapa bermakna proses yang dijalani. Ambisi memang penting, tetapi ambisi tanpa kesadaran terhadap batas diri hanya akan berujung pada kelelahan dan kehilangan arah.

Mencari keseimbangan antara akademik dan organisasi memang tidak mudah. Tidak ada rumus tunggal yang berlaku untuk semua orang. Namun, upaya menemukan keseimbangan itu sendiri merupakan langkah penting agar mahasiswa tetap berjalan di jalur yang dipilihnya dengan penuh kesadaran.

Dan pada akhirnya, menjadi mahasiswa hebat bukan tentang tampak paling sibuk atau paling mengesankan di permukaan. Yang lebih penting adalah menjadi pribadi yang mengenali batas dirinya, mampu menjaga keseimbangan di tengah tuntutan, serta tetap setia pada tujuan yang benar-benar ingin dicapai. (*)

1187 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Perempuan dan Peradaban

4 Mins read
Oleh: Aulia Safitri, A.Md.Kes., Bendahara Pustakaloka Cendekia Kota Metro dan Anggota RPK PC IMM Kota Metro SEJUK.ID – Perempuan kerap hadir sebagai…
Opini

IPM ke Depan Jangan Sampai Salah Memposisikan Diri

3 Mins read
Oleh: Noval Sahnitri, Ketua Bidang KDI PW IPM Lampung SEJUK.ID – Selama satu dekade terakhir, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berkembang cukup pesat….
Opini

Hari Pers Sedunia 2026: Momentum Guru dan Siswa Perkuat Literasi dari Ruang Kelas

2 Mins read
Oleh: Ma’in SEJUK.ID – Tanggal 3 Mei kembali diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia. Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *