Opini

Seni Menyikapi Kabar Media Melalui Teori Dromologi Paul Virilio

3 Mins read

Oleh: Sugiati

Baru-baru ini publik sedang digegerkan dengan beberapa berita yang santer diperbincangkan. Berita tersebut mendapatkan tempat dihati masyarakat untuk diperhatikan secara seksama, bahkan tidak jarang dari mereka yang memberikan komentar, dugaan atau kritik mendalam atas kasus-kasus yang tengah marak diperbincangkan. Berita dan kasus-kasus inilah yang secara tidak langsung membuka jalan diskusi di ranah publik, menjadikan publik lebih terbuka terhadap issue-issue sekitar dan lebih kritis terhadap kabar-kabar yang marak diperbincangkan.

Berita dan kasus-kasus tersebut dapat dikelompokan dari yang menghebohkan hingga yang tak kunjung ada akhirnya. Kasus-kasus itu misalnya; kasus dugaan pemukulan anjing oleh satpam, desas desus pencalonan Anies Baswedan dengan Kaesang Pangarep di PILKADA Jakarta, kasus anak SMP yang menjadikan Palestina sebagai bahan lelucon, berita tentang pro dan kontra TAPERA, kasus Ibu melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya hingga kasus Vina yang sampai hari ini belum ada ujungya dan masih banyak beberapa kasus lainnya yang sedang hangat dibicarakan oleh publik.

Berita-berita tersebut tentu diketahui karena adanya media yang mengabarkan sehingga meluas dan menyebar menjadi sebuah kabar yang menghidupkan diskusi publik secara tidak langsung, hingga membuka kemampuan kritis publik dalam menanggapi kasus-kasus diatas. Tentu saja media memberitakan peristiwa diatas dengan menampilkan citra dan substansi kepada khalayak.

Meski begitu, mirisnya adalah sebagian besar masyarakat justru hanya menganggap citra tersebut sebagai delusi sehingga mengkesampingkan substansi atau bahkan tidak menemukan substansi dari apa yang diberitakan. Percepatan media massa membuat sebagian orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi namun tidak jarang juga dari beberapa orang tersebut terlalu dini mencerna apa yang mereka lihat berdasarkan citra yang tampak. Hasilnya, banyak orang hanya mengedepankan emosional saat melihat berita-berita tersebut.

Hal ini yang kemudian begitu disayangkan, bahwa percepatan media yang diharapkan dapat menjadi jembatan masyarakat untuk lebih kritis dan terbuka terhadap issue publik serta dapat melihat dengan jeli dan hati-hati malah menimbulkan persepsi yang kian menampilkan perilaku tidak dapat mengontrol diri. Masyarakat yang demikian berarti gagal dalam mencerna sajian berita dari media dengan bijak di era yang serba cepat.

Analisis mendalam tentang hal tersebut dilakukan dengan menggunakan teori dromologi dari Virilio. Virilio dalam teorinya menjelaskan bahwa manusia yang menelan kejadian dengan mentah melalui media, sama halnya dengan kehilangan waktu untuk refleksi. Masyarakat tersebut seakan gagal menanyakan konteks dibalik terjadinya peristiwa-peristiwa diatas. Tentu memerlukan mengapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi. Namun, sayangnya masyarakat sekan enggan memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan itu dan menelan mentah-mentah apa yang mereka peroleh dari media.

Virilio dalam teorinya juga menunjukan bahwa dominasi citra menjadi lebih kuat daripada substansi. Hal ini yang ditunjukan pada fenomena saat ini. Sebagian masyarakat cenderung mengkesampingkan substansi sehingga mereka dengan mudah menilai dan bahkan tidak mampu merefleksi diri tentang apa yang telah mereka lihat dan dengarkan tersebut menjadi kajian analitis, kritis dan menemukan solusi.

Beberapa kejadian memerlukan alasan mengapa hal itu harus dan dapat terjadi. Tentu hal ini juga berkaitan dengan lokasi kejadian, bahkan bagaimana lingkungan sekitar membuat kejadian tersebut terjadi. Atas beberapa respon masyarakat yang kurang cermat memahami, maka terjadi yang namanya deteritorialisasi. Mereka seakan melupakan bagaimana tempat, lingkungan dan suasana di tempat kejadian. Siapa yang mesti disalahkan?

Tentu saja di negeri tercinta ini, sebaiknya tidak main hakim sendiri. Perlu pengamatan mendalam, memahami berbagai hal yang terjadi serta memahami sebab dan akibat yang melatarbelakangi. Sebagian dari kita merasa hadir dalam peristiwa tersebut sehingga berhak menilai mana yang benar dan salah serta mudah sekali menghakimi, padahal kita hanya melihat citra yang ditampilkan oleh media, tidak lebih. Kita senantiasa paling mengetahui apa yang terjadi padahal yang kita saksikan hanyalah fragmen kecil, yang ditampilkan melalui citra.

Terlepas dari kurang cermatnya kita dalam menanggapi beberapa peristiwa melalui media, seringkali informasi yang kita dapat juga kurang lengkap sehingga menyebabkan miskomunikasi massal. Fenomena ini menjadi mengerikan, manakala dialami oleh sebagian besar orang. Jadi, sebenarnya banyak dari kita yang seakan tahu apa yang terjadi, mengerti apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi dan mencerca yang terlihat bersalah hingga menimpalkan belas kasih pada yang terlihat terintimidasi merupakan gambaran dari bagaimana kita kehilangan proses refleksi diri, terjebak pada delusi kehadiran serta adanya miskomunikasi massal.

Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan? Tentu saja untuk menghindari hal tersebut terjadi lagi, kita sebagai warganet yang bijak dapat melakukan edukasi literasi media dan kritis terhadap informasi. Hal ini dilakukan agar kita lebih memahami informasi secara keseluruhan, substansi yang dihadirkan sehingga tidak mudah terprovokasi oleh informasi-informasi yang sifatnya hanya setengah-setengah.

Selain itu, kita sebagai masyarakat dan warganet yang cerdas juga perlu mengedepankan verifikasi fakta sebelum berbagi. Sederhananya adalah kita pastikan terlebih dahulu, apakah berita dan peristiwa yang ada tersebut benar adanya atau hanya beberapa fragmen kecil yang tidak teruji kebenarannya. Maka setelah itu kita bisa menentukan sikap untuk berbagi atau mengurungkan niat berbagi.

Terakhir, kita perlu membentuk budaya refleksi kritis. Teori dromologi mengkritik hilangnya refleksi pada masyarakat yang sedari dini menangkap pemberitaan, menyikapi hal itu dengan cepat akibat percepatan informasi. Hal ini agar kita dapat tidak terburu-buru melegitimasi yang mana yang salah, yang mana yang benar serta dapat kritis dalam menanggapi pemberitaan dan peristiwa yang sudah terkonfirmasi kebenarannya.

Sugiati, Penulis Buku dan Kolumnis.

689 posts

About author
Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama.
Articles
    Related posts
    Opini

    SUDAH TAPI BELUM; analisis linguistik

    2 Mins read
    Opini

    Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Laki-laki untuk Kepemimpinan Keluarga

    3 Mins read
    Opini

    Empat Makanan yang Kerap Ditemui Saat Hari Raya Idul Adha

    3 Mins read

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *