NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Segelas Kopi di Malam Tahun Baru

5 Mins read

Oleh: Redi Irawan, Anggota PCIM Iran

SEJUK.ID – Malam ini adalah malam tahun baru. Malam yang oleh banyak orang dianggap sakral untuk bersorak dan tertawa. Malam yang oleh banyak orang diperlakukan sebagai batas simbolik antara yang lama dan yang baru, antara lelah dan harapan, antara luka dan janji kebahagiaan. Langit sibuk menyalakan kembang api, suara ledakannya memecah udara, seolah dunia ingin memastikan bahwa pergantian waktu tidak berlalu tanpa tanda. Satu tahun telah ditutup dan tahun lain telah dibuka dengan gegap gempita.

Namun aku tidak berada di tengah keramaian itu. Aku tidak duduk di halaman rumah bersama keluarga, tidak menyalakan api untuk membakar ikan atau jagung, tidak menapaki jalan panjang menuju puncak gunung bersama teman-teman. Sebelum maghrib aku  ke masjid untuk shalat berjamaah, sepanjang jalan aku memperhatikan semua orang sibuk mempersiapkan agenda berkumpul. Ada yang membakar ikan dan jagung bersama keluarga, ada yang tertawa dalam lingkaran persahabatan, ada pula yang memilih naik ke puncak gunung, ingin menyambut tahun baru dari ketinggian, mungkin agar terlihat lebih dekat dengan langit.

Malam ini aku menyaksikan semua itu dari kejauhan. Dari sudut kosan yang sempit tanpa alas. Dari ruang sunyi yang tidak disiapkan untuk perayaan. Di hadapanku hanya ada buku-buku yang terbuka, catatan-catatan yang penuh coretan, dan segelas kopi yang perlahan kehilangan hangatnya. Tidak ada agenda, tidak ada hitungan mundur, tidak ada suara tawa yang menyebut namaku. Kesedihan itu datang secara perlahan, tidak tiba-tiba. Ia merayap seperti dingin yang masuk lewat celah jendela. Awalnya hanya rasa sepi, lalu berubah menjadi perih, kemudian menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Bagaimana denganku? Apakah aku salah memilih jalan? Apakah hidupku terlalu serius? Apakah aku kehilangan sesuatu yang tak akan kembali?

Aku merasa seperti bayangan, Ada, tapi tidak diperhatikan. Aku tidak iri pada kebahagiaan orang lain, tidak pula membenci keramaian. Aku hanya merasa seolah tersingkir dari dunia, berdiri di pinggir jalan kehidupan, menyaksikan arus manusia yang melaju tanpa menoleh. Ketika dunia sedang berpesta, sementara aku diminta menepi, diminta menunggu, diminta bersabar tanpa tahu sampai kapan.

Baca Juga:  Kenalkan Muhammadiyah ke Masyarakat Iran, PCIM Iran Adakan Kurban

Tidak ada yang menemaniku malam ini, Hanya aku dan diriku sendiri. Dalam tradisi tasawuf, inilah yang oleh para sufi disebut khalwah kesendirian yang disengaja. Sebuah ruang sunyi tempat seorang hamba dipertemukan dengan dirinya sendiri. Tanpa topeng, tanpa sorak, tanpa pengakuan manusia.

Aku tidak tahu apakah aku layak menyebut kesendirianku sebagai khalwah, tetapi malam ini aku merasakan bahwa sunyi ini bukan kebetulan tetapi undangan. Seakan hidup sedang memintaku menepi, berhenti sejenak dari sorak dunia, dan mendengar sesuatu yang lebih dalam di dalam diriku.

Aku membuka pintu kost sedikit mengintip suasana di luar, kemudian aku kembali berwudhu dan melaksanakan shalat sunah. Air mataku jatuh pelan ketika aku mengucapkan Asyhadu an la ilaha illah wa asyhaduanna muhammad rasulullah di dalam shalatku. Ia adalah air mata kejujuran. Dalam tasawuf, tangis yang lahir dari kesadaran diri lebih berharga daripada tawa yang lupa arah pulang. Aku menangis karena lelah. Lelah menahan rindu pada kehidupan yang sederhana. Lelah menunda kebahagiaan demi sesuatu yang belum tentu bisa kuraih. Lelah meyakinkan diri bahwa semua ini akan ada artinya kelak. lelah memikul mimpi besar dalam kesendirian. Namun justru di titik terendah itu, aku merasakan kehadiran yang paling dekat. Saat semua manusia seakan menjauh, Allah terasa begitu dekat. Malam ini, tidak ada yang melihat air mataku.Tapi aku percaya, Allah melihatnya. Dia melihat seorang hamba yang sedang berjuang, yang memilih duduk bersama buku-buku ketika dunia memanggilnya untuk bersenang-senang. Dia melihat hati yang rapuh, tapi tidak menyerah. Dia melihat kesabaran yang tidak dipamerkan, doa-doa yang tak sempat diucapkan.

Di antara halaman-halaman buku yang kubuka, pikiranku melayang pada satu pertanyaan besar: apakah ini harga yang harus kubayar untuk sebuah gelar PhD? Tanggal lima Januari semakin dekat. Ujian itu bukan hanya menguji pengetahuan, tapi juga menguji jiwaku. Menguji apakah aku sanggup tetap bertahan di tengah kesepian, apakah aku bisa terus berjalan ketika semua orang seakan telah sampai lebih dulu. Apakah aku sanggup memilih buku ketika dunia menawarkan pesta?

Baca Juga:  Ilusi Produktivitas di Balik Mahasiswa Aktif

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini adalah bagian dari perjuangan. Namun di balik keyakinan itu, ada hati yang tetap manusiawi, ingin ditemani, ingin merasa diakui. Tasawuf tidak pernah menafikan rasa. Ia tidak memerintahkan manusia menjadi batu. Justru tasawuf mengajarkan untuk jujur pada rasa, lalu menyerahkannya kembali kepada Allah.

Di tengah kesunyian itu, ingatanku melayang pada seorang dosen yang sangat kukagumi (Adel Meghdadian). Ia bukan hanya guru di ruang kelas, tetapi guru kehidupan. Ia pernah bercerita tentang masa-masa ketika mengerjakan disertasinya, masa yang jauh dari kata nyaman. Kondisi ekonominya sempit. Ia memilih mengasingkan diri dari rumah, bukan karena membenci keluarga, melainkan demi menjaga fokus dan martabat. Makanannya sederhana: roti, dan sesekali ayam yang dimasaknya dengan kuah diperbanyak. Ia hanya mengambil kuahnya untuk makan hari itu. Daging ayamnya dimasak kembali untuk hari berikutnya dan kembali, yang disantap hanya kuahnya.

Kisah itu selalu menusuk hatiku. Dalam tasawuf, kesederhanaan semacam itu disebut zuhud: bukan kemiskinan yang dipaksakan, melainkan kebebasan dari ketergantungan. Ia tidak memusuhi dunia, tetapi menolak menjadikannya pusat perhatian. Tubuhnya diberi sekadar bertahan, sementara ruhnya diberi kelimpahan makna. Dari dapur yang sunyi, dari panci berisi kuah encer, lahirlah pemikiran-pemikiran yang kelak memberi cahaya bagi banyak orang.

Setiap kali ia lelah menulis disertasi, ia membaca novel. Ia memberi jiwanya ruang bernapas. Ia memahami bahwa riyadhah, latihan ruhani tidak selalu berarti memaksa diri tanpa jeda. Ada kebijaksanaan dalam memberi istirahat yang tepat. Dalam hikmah para arif, menjaga jiwa agar tidak patah adalah bagian dari ibadah. Ali bin Abi Thalib juga mengatakan istirahatlah ketika engkau merasa lelah.

Malam ini, aku mencoba meneladani jejak itu, meski dengan caraku sendiri. Aku tidak membaca novel. Ketika kepalaku terasa berat dan pikiranku mulai lelah, aku memutar audio rekaman kelas. Aku mendengarkan penjelasan Gholamreza Fayazi tentang Bidayatul Hikmah. Suaranya mengalir tenang, seperti dzikir intelektual yang merapikan kembali pikiranku. Kadang aku lanjutkan dengan penjelasan Ayatullah Hasan Zadeh Amuli tentang Fushush al-Hikam, rekaman yang telah lama kuunduh, seolah menungguku tepat di fase hidup ini.

Baca Juga:  Kemiskinan Akibat Hutang Negara

Di antara suara-suara itu, aku menemukan jenis istirahat yang berbeda. Bukan hiburan, tetapi ketenangan. Hikmah-hikmah tentang wujud, akal, dan hakikat tidak hanya memperkaya pikiranku, tetapi juga menenangkan hatiku. Aku merasa seolah duduk di majelis sunyi para pencari, majelis yang tidak ramai, tetapi penuh kehadiran makna.

Perlahan aku mulai memahami,  jalan ini memang tidak pernah ditujukan untuk semua orang. Jalan ilmu dan tasawuf hampir selalu melewati fase lapar, lapar secara jasmani, lapar secara sosial, dan lapar akan pengakuan. Ada masa ketika seorang pencari harus rela tidak dimengerti, tidak ditemani, bahkan disalahpahami. Tetapi justru di situlah latihan dimulai. Ketika dunia tidak lagi memanjakan, hati dipaksa bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Malam ini aku tidak merayakan tahun baru dengan sorak. Aku merayakannya dengan kesadaran. Kesadaran bahwa hidup tidak selalu Adil, tetapi selalu mendidik. Kesadaran bahwa kesendirian tidak selalu hukuman, kadang ia adalah karunia tersembunyi. Seorang sufi pernah berkata, “Jika engkau ingin mengenal Tuhan, bersedialah untuk sendiri.” Dan malam ini, dalam kesendirianku, aku mulai mengenal betapa rapuh diriku, sekaligus betapa dekatnya Dia denganku.

Jika kelak aku berhasil melewati ujian ini, jika suatu hari aku sampai pada tujuan yang kuimpikan, aku ingin mengingat malam ini. Malam ketika aku duduk sendiri di sudut kosan tanpa alas, dengan mata basah dan hati gemetar, namun tidak lari. Dalam tasawuf, yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang sampai, melainkan seberapa jujur ia berjalan. Dan malam ini, aku berjalan pelan tetapi menghadap ke arah cahaya.

Dan jika tulisan ini sampai ke tangan seseorang yang juga merasa sendirian malam ini, aku ingin kamu tahu. Kamu tidak tertinggal, kamu hanya sedang ditempa. Kesepianmu bukan tanda kegagalan. Ia mungkin tanda bahwa Allah sedang menyiapkanmu untuk sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang membutuhkan kedalaman, bukan sekadar keramaian.

Malam ini sunyi.

Malam ini sedih.

Malam ini berat.

Malam ini pahit, tetapi ia memurnikan. Seperti kopi yang kuminum malam ini. Pahit, hangat, dan membangunkan.

1222 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Sumsum Tulang Kurban, Nikmat yang Kerap Terlupakan

3 Mins read
Oleh: Nashrul Mu’minin SEJUK.ID – Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan suasana yang khas. Daging sapi dan kambing dibagikan ke rumah-rumah, dapur mulai…
Opini

Wahyu Rofi dan Dua Medali Emas dari Latihan Mandiri di Muhammadiyah Games 2026

2 Mins read
Oleh: Dr. Maftuhah, M.Pd. MuhammadiyahLamongan.com – Ajang Muhammadiyah Games 2026 menjadi ruang lahirnya atlet-atlet muda Muhammadiyah yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga…
Opini

Ilusi Produktivitas di Balik Mahasiswa Aktif

3 Mins read
Oleh: Alya Nurul Ain, Dep. Bidang RPK Pikom IMM Teknik Unismuh Makassar (2025–2026) SEJUK.ID – Menjadi mahasiswa aktif kerap dianggap sebagai simbol…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *