ArtikelOpini

Puasa Manusia membentuk Karakter Bangsa

3 Mins read

(Sumber Gambar: Redaksi Sejuk.ID)

Puasa dapat dikatakan sebagai ibadah yang istimewa dalam Islam. Keistimewaan itu antara lain terletak pada adanya keterlibatan banyak aspek dalam diri manusia selama menjalankan ibadah puasa, baik aspek yang bersifat jasmaniah maupun aspek yang bersifat rohaniah, aspek emosional dan aspek spritual. Hal ini dapat dilihat dari aturan-aturan dalam melaksanakan ibadah puasa. Jika dilihat hikmah-hikmah yang terdapat dalam pelaksanaan ibadah puasa tersebut sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Pendidikan pada dasarnya usaha untuk mengembangkan segala potensi dalam diri manusia, baik potensi jasmani maupun potensi rohani. Menurut Sidi Gazalba (1985 : 147), “puasa dikerjakan karena ibadat, tapi mengandung hikmah bagi yang melakukannya. Hikmah ialah rahasia dan manfaat yang terkandung. Hikmah puasa ber-efek kepada ruhaniah dan jasmaniah”.

Pendidikan itu menurut Prof. Soegarda Poerbakawatja sebagaimana dikutip oleh Hamdani Ali menjelaskan bahwa “pendidikan dalam arti umumnya mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya kepada ke generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama sebaik baiknya,” (Hamdani Ali, 1993 : 189).

Bustanuddin Agus menjelaskan bahwa “yang dituju dalam mengajar, dengan arti memberikan ilmu pengetahuan, hanya aspek kognitif (pengenalan) saja, sedangkan yang dituju dalam mendidik mencakup kepribadian anak secara utuh yang biasa dirinci kepada aspek kognitif, afektif (perasaan), dan psikomotorik (pelaksanaan)”.

Pendidikan kita bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah SWT, menambah kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Karena itu menurut Islam, ibadah puasa adalah menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela dan melanggar ajaran Islam. Dengan kata lain puasa bukan sekadar amal ibadah fisik, melainkan juga amal ibadah rohani yang dapat menyelamatkan dan menyejahterakan manusia, baik kehidupan lahir maupun batin, di dunia dan akhirat.

Kemampuan untuk menahan dan mengendalikan diri ini tidaklah semata diraih begitu saja, tetapi memerlukan proses latihan atau pendidikan secara terus menerus, teratur, dan mengikuti prosedur tertentu. Karena itu jangka waktu pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan didesain selama satu bulan agar menimbulkan efek positif dan mencapai sasaran yang diinginkan, yaitu taqwa. Taqwa adalah kondisi jiwa seseorang yang penuh dengan kesadaran akan kehadiran Allah SWT yang Maha Mengawasi dalam segenap aktifitasnya, di mana saja dan kapan saja, sehingga mendorong dirinya untuk selalu patuh dan taat mengerjakan segala perintah dan menjauhi laranganNya. Taqwa berasal dari dalam diri, karena itu ia sangat bersifat pribadi.

Beberapa nilai-nilai pendidikan penting yang bisa digali dari pelaksanaan ibadah puasa diantaranya:

Pertama, puasa mengajari kita untuk senantiasa menahan dan mengendalikan diri. Karakter ini sangat dibutuhkan bukan hanya untuk pejabat, tetapi juga untuk rakyat, pelajar, guru, pegawai, pengusaha, dan sebagainya.

Kedua, ketika berpuasa kita juga dilatih dan ditempa untuk sabar, peduli akan sesama, rajin dalam beribadah dan aktivitas-aktivitas positif lainnya, disiplin dan peneladanan sifat-sifat Tuhan kepada diri manusia. Karakter sabar, disiplin, rajin dan peduli ini, sangat penting perannya guna membawa bangsa bangkit dari krisis berkepanjangan. Sikap sabar dan tabah juga akan menempa setiap pribadi bangsa untuk berlapang dada ketika segenap usaha yang dilakukan, belum menemukan titik keberhasilan.

Ketiga, puasa mengajari kita untuk memiliki kepekaan (sense of responsibility) sensibilitas dan tanggung jawab sosial maupun pribadi. Salah satu hikmah puasa adalah penanaman solidaritas sosial dengan anjuran berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama dalam bentuk tindakan menolong beban kaum fakir miskin. Jika hal ini bisa terus berjalan pada waktu lain di luar bulan puasa, maka akan menjadi karakter bangsa yang patut disyukuri.

Keempat, melalui puasa sebulan penuh umat Islam akan dilatih, digembleng mempererat dan memperkokoh persaudaraan, senasib-sepenanggungan, mencintai dan menyayangi keluarga, memakmurkan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Jika dilihat hikmah-hikmah yang terdapat dalam pelaksanaan Ibadah puasa tersebut sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha untuk mengembangkan segala potensi dalam diri manusia, baik potensi jasmani maupun potensi rohani.

Sebagaimana dikatakan Hasan Langgulung bahwa tujuan-tujuan pendidikan Islam harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, yaitu fungsi spiritual yang berkaitan dengan akidah dan iman, fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individual termasuk nilai-nilai yang menyangkut derajat manusia ke derajat yang lebih sempurna, dan fungsi sosial yang berkaitan dengan aturan sosial yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat di mana masing-masing memiliki hak-hak dan tanggungjawab untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam praktek ibadah dalam Islam memiliki nilai-nilai pendidikan. Demikian pula dalam ibadah puasa terdapat nilai-nilai pendidikan yang bisa dilaksanakan dalam proses belajar-mengajar di sekolah.

Puasa menjadi sarana efektif penanaman sekaligus pengaplikasian nilai-nilai pendidikan Islam. Nilai pendidikan yang bisa digali dari pelaksanaan ibadah puasa karena puasa mengajari kita untuk senantiasa menahan dan mengendalikan diri. Karakter ini sangat dibutuhkan bukan hanya untuk rakyat, tetapi juga untuk pejabat, pelajar, guru, pegawai, pengusaha, dan sebagainya. Jika karakter ini sudah tertanam dan tumbuh subur dalam setiap pribadi bangsa, setidaknya akan meminimalisirkan praktek korupsi, kolusi, nepotisme, suap, dan praktek-praktek tercela. Untuk mengatasi dan mengurangi segala masalah dan penyakit tersebut yakni dengan puasa karena puasa merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah SWT.

34 posts

About author
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Articles
Related posts
Opini

SUDAH TAPI BELUM; analisis linguistik

2 Mins read
Opini

Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Laki-laki untuk Kepemimpinan Keluarga

3 Mins read
Opini

Empat Makanan yang Kerap Ditemui Saat Hari Raya Idul Adha

3 Mins read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *