Opini

Pendidikan Tanpa Akhlak yang Baik

3 Mins read

Sejuk.IDPendidikan tanpa akhlak ibarat kapal tanpa Kompas. dia terus berjalan namun tak memiliki arah. Ilmu tanpa akhlak yang baik hanya akan menjadi sia-sia. Bahkan ilmu tanpa akhlak akan menyebabkan kehancuran.
Kualitas manusia di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak dapat hanya diukur dengan tingkat keilmuan saja, tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menilai dari akhlak orang tersebut. Manusia tanpa akhlak akan menjadikan dirinya lupa diri dan condong merusak.

Akhlak yang mulia harus ditanamkan pada generasi sejak dini. Orang yang memiliki akhlak mulia akan berbuat baik kepada sesama manusia, terutama pada orang tua mereka, saudara-saudara mereka, dan masyarakat sekitar mereka. Generasi milenial lahir berdampingan dengan teknologi seperti komputer, gadget, dan lain sebagainya. Hal ini membuat semua tindakan harus dilakukan dengan proses digitalisasi yang tentunya memengaruhi seluruh aspek dalam kehidupan masyarakat.

Dalam berkomunikasi, generasi milenial sudah jarang menggunakan komunikasi verbal, namun menggunakan semi verbal yaitu dengan bantuan teknologi. Seperti yang kita ketahui teknologi sangat krusial dan dapat menyebabkan dampak yang serius jika manusia menggunakannya dengan cara ketergantungan.
Akhlak tentang kesopanan menjadi salah satu fokus dalam dampak dari komunikasi secara pasif. Tidak sedikit generasi milenial yang tidak menerapkan akhlaknya kepada orang yang lebih tua, bahkan menyamakannya dengan teman sebayanya.

Dalam hubungan ini, Ustaz Gani Isa mengutip Al-Kindi, salah seorang filsuf awal abad pertengahan menyebutkan, bahwa bangsa “Barat” pada satu sisi tingkat kecerdasannya, mampu melahirkan berbagai ilmu pengetahuan, baik sains maupun teknologi, tetapi mereka justru angkuh dan sombong, tidak mau peduli dengan akhlak. Menurutnya, ada yang memprediksi sekaligus menyebutkan bahwa memasuki abad ke-XXI, merupakan abad kejatuhan moral, manusia lepas kendali dengan Allah sebagai Tuhannya, sehingga melahirkan tiga ciri.

Pertama, nilai kemanusian yang tidak bertuhan (Humanisme). Kedua, nilai materi yang tidak bertuhan (materialisme). Ketiga, perilaku yang tidak bertuhan (ateisme).
Nilai kemanusiaan tanpa Tuhan hanya akan menimbulkan pembelaan terhadap dirinya sendiri ataupun suatu golongan. Bahkan bila perlu agama dihancurkan, isu-isu Global diangkat, dan isu-isu HAM diangkat hanya untuk kepentingan pribadi.
Untuk nilai materi yang tak bertuhan maka hal tersebut akan Tak memiliki batasan halal dan haram. Nafsu menjadi hal yang diutamakan karena sifat tamak dari manusia, sehingga bila perlu manusia akan saling bunuh hanya karena ingin mendapatkan harta.

Ada pula perilaku yang tak bertuhan hanya akan menimbulkan kesombongan-kesombongan, contohnya saja seperti sifat Firaun, Namrud, Qorun. Manusia akan bersifat semena-mena terhadap kedudukannya ataupun terhadap perilakunya.

Sehingga dalam hal ini, manusia tak memiliki batasan dalam berperilaku.
Dalam dunia pendidikan sudah seharusnya mengedepankan akhlak sebelum ilmu. Hal ini berfungsi sebagai wadah dari segala pengetahuan yang telah dipelajari oleh manusia. Agar manusia mampu menerapkan keilmuannya di jalan yang lurus dan benar serta tidak merugikan orang lain Karena dia memiliki kepandaian di atas orang lain. Contohnya saja pada zaman ini perkembangan teknologi informasi telah berkembang pesat. Dengan demikian ilmu tentang teknologi informasi tentunya telah maju. Seseorang yang telah mempelajari dan menguasai materinya dengan sangat bagus maka dia akan dapat menggunakan teknologi informasi sesuka hatinya.

Apabila hal seperti demikian tidak didasari dengan akhlak yang mulia maka hal tersebut hanya akan merusak dan merugikan orang lain. Misalnya saja seperti penyebaran hoax, provokasi, pencurian, dll yang berbasis digital. Pendidikan agama akan menumbuhkan semangat dalam kebaikan, budi pekerti dan akhlak yang baik. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran dalam diri akan batas-batas dalam berperilaku. Seperti contoh pada perkembangan digital, maka orang yang memiliki akhlak yang baik akan menggunakannya sebagai sumber kebaikannya.

Misalnya saja orang tersebut membuat berita-berita yang menginspirasi banyak orang. Terlebih lagi apabila dia menjadi seorang Da’i, maka tentu hal tersebut akan menjadi panutan bagi para masyarakat yang dia sebarkan kebaikannya. Akhlak baik tentunya akan menjadi contoh yang baik pula bagi masyarakat. Da’i yang memiliki akhlak baik maka dakwahnya akan mudah diterima
oleh masyarakat.

Seorang Da’i yang tidak memiliki akhlak yang baik maka masyarakat juga tidak menyukai akan dakwahnya. Sekalipun yang disampaikannya merupakan materi yang sangat indah untuk didengarkan tetapi apabila akhlak dai tersebut buruk, maka masyarakat juga akan bosan untuk mendengarkannya.

Para ulama terdahulu mereka belajar adab sebelum ilmu. Mereka sangat memperhatikan akhlak dan adab. Mereka sangat berhati-hati, jangan sampai dakwah mereka yang rusak karena kurangnya adab dan akhlak. Ulama terdahulu benar-benar memperhatikan adab dan akhlak mereka melebihi pentingnya mempelajari ilmu. Saat ini sangatlah penting untuk memahami dan mengajarkan akhlak pada generasi penerus. Di era saat ini adab dan akhlak mulai memudar oleh perkembangan zaman. Kebanyakan orang mengabaikan betapa pentingnya peran adab dan akhlak.

Dapat kita simpulkan bahwasanya adab jauh lebih penting daripada ilmu. Mempunyai sedikit adab itu lebih penting dan bermanfaat daripada mempunyai banyak ilmu tetapi tidak beradab. Karena orang yang berilmu belum tentu beradab akan tetapi orang yang beradab sudah pasti berilmu. Kita harus meletakkan adab di atas ilmu.

Penulis : Izrasyiar Qalbu Ridhoni (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang)

660 posts

About author
Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama.
Articles
    Related posts
    Opini

    Seni Menyikapi Kabar Media Melalui Teori Dromologi Paul Virilio

    3 Mins read
    Opini

    Krisis Giat Remaja Masa Kini Hingga Muncul Istilah Remaja Jompo

    3 Mins read
    Opini

    Realitas Gelap Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat

    4 Mins read

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *