Opini

Ber-IMM Secara Kaffah

5 Mins read

Sejuk.IDIMM atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi otonom di lingkup persyarikatan Muhammadiyah. Dimana organisasi itu tumbuh dan berkembang, maka kultur yang dibawa pun sangat beragam sekali. Apabila adik dari IMM sendiri dalam persyarikatan yaitu IPM memiliki kultur administratif dan pergerakan di sekolah – sekolah, maka IMM lebih memilih untuk terjun ke sosial masyarakat. Ini adalah titik poin perbedaan antara IPM dan IMM walaupun mereka secara berturut – turut merupakan jenjang perkaderan yang ada di Muhammadiyah.

Mungkin banyak dari kader IPM yang ketika pertama kali menjejakkan kaki di IMM memiliki tanda tanya besar seperti halnya saya, bagaimana IMM tidak bisa secemerlang IPM di mata menteri pemuda dan olahraga Indonesia lewat ajang penganugerahan OKP (organisasi kepemudaan terbaik). Karena memang tema besar atau ranah gerak yang digalang oleh IMM murni untuk sosial kemasyarakatan. Sehingga tidak jarang administrasi IMM tidak sebagus IPM. Padahal perlakuan administratif sendiri merupakan salah satu poin dalam penilaian OKP terbaik. Sehingga biarlah IPM selaku adik di persyarikatan bersinar lewat penghargaan administratifnya sedangkan IMM cemerlang di hati masyarakat lewat aksi sosialnya.

Setiap kampus pastilah memiliki cerita yang berbeda mengenai eksistensi dari organisasi ini. Apabila kita menengok ke PTM (perguruan tinggi Muhammadiyah) – PTM yang tersebar di Indonesia, maka tak jarang IMM telah diakui legalitasnya sekaligus menjadi organisasi internal kampus setara dengan BEM atau badan eksekutif mahasiswa. Lain halnya apabila kita melihat kondisi di kampus – kampus negeri. IMM masuk ke dalam kategori organisasi ekstra kampus (omek) bersanding dengan HMI, HTI, KMNU, hingga KAMMI. Selain basis massa yang relatif lebih sedikit, juga sumber dana yang harus digalang secara swasembada.

Namun bukan sebuah jaminan apabila basis massa yang besar mampu mempengaruhi kebesaran dari organisasi tersebut. Percuma saja memiliki massa besar namun peneguhan ideologi organisasi tidak tertanam secara massif di setiap kader. Lebih baik kuantitas sedikit namun kualitas—dalam hal ini idealisme gerakan—sangat ditekankan. Begitu pula dengan ber-IMM, diperlukan jenjang kepemilikan dan keikutsertaan secara kaffah atau menyeluruh.

Untuk ber-IMM secara kaffah kita harus melalui beberapa tahapan secara berurutan. Jenjang pertama pemahaman mengenai keislaman. Yang paling mendasar adalah kita harus bisa mendefinisikan tuhan serta kaidah ketuhanan dengan singkat, padat, dan menyeluruh tanpa berbelit – belit hingga membuat orang bingung. Jenjang selanjutnya adalah pemahaman ber-Muhammadiyah. Memahami arah gerak dan tujuan besar yang dimiliki oleh Muhammadiyah hingga menanamkan di dalam hati nurani bahwa Muhammadiyah bukanlah sebuah alat untuk mencari penghidupan apalagi jabatan, sesuai dengan yang diutarakan oleh founding father Muhammadiyah, kyai haji Ahmad Dahlan. Hidup – hidupilah Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Setelah dua jenjang tersebut berhasil melampaui, maka kini giliran jenjang ketiga siap untuk di tapaki. Yaitu menghayati dan mendalami makna baik yang tersurat maupun tersirat yang terkandung dalam trilogi IMM sekaligus ruh dari pergerakan IMM sendiri. Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Tiga hal inilah yang nantinya akan meneguhkan idealisme setiap kader yang berkecimpung di lingkup IMM untuk tidak mudah terbawa arus sekaligus memperdalam skill berpikir kritis dalam berorganisasi maupun bermasyarakat.

IMM sebagai anak dari Ortom Muhammadiyah, mempunyai cita-cita yang besar untuk memastikan proses pencerdasan dan kepemimpinan itu terus mengalir seperti air, layaknya sebuah mata air yg menjadi sumber kehidupan untuk Bangsa dan negara. Al Qur’an surat an Nisa ayat 9 menegaskan bahwa “Janganlah kalian meninggalkan generasi yg lemah”
Maka imm dan Perserikatan Muhammadiyah harus terus mencetak dan melahirkan pemimpin bangsa dan negara untuk umat Islam yg dicita-cita oleh Muhammadiyah.
Setiap organisasi pasti memiliki tujuan, setiap tujuan pasti akan diupayakan perwujudannya dan setiap perwujudan membutuhkan waktu yang panjang. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi pasti memiliki tujuan. Tujuan IMM bukan lain sebagai panjang tangan perwujudan tujuan Muhammadiyah, karena IMM sebagai organisasi sayap (eksponen) dari Muhammadiyah memiliki peran penting untuk membantu Muhammadiyah mewujudkan cita-cita besarnya terkhusus pada kalangan mahasiswa.

Peran penting IMM untuk mewujudkan tujuan Muhammadiyah pada kalangan mahasiswa merupakan faktor internal berdirinya, pada 14 Maret 1964 di tengah karut-marut kondisi bangsa pada saat itu. Berdirinya IMM menjadi harapan bagi Muhammadiyah terhadap kaum muda yang digodok dalam lingkungan kampus. Harapannya anak muda atau kader IMM mampu menjadi seorang revolusioner yang dapat mengubah organisasi dan bangsanya.

Harapan besar Muhammadiyah terhadap kader IMM termaktub dalam tujuan IMM itu sendiri, “Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Tujuan IMM sangat detail menjelaskan posisi kader IMM. Sebagai organisasi, frasa mengusahakan merupakan sebuah upaya sadar bahwa seorang kader dapat membentuk diri ataupun kelompoknya dalam batasan normal sesuai dengan batasan ikatan.
Tradisi keilmuan dalam tubuh IMM harus tetap digalakkan dan benar-benar menjadi budaya. Agar tradisi keilmuan menjadi budaya, maka kader IMM selayaknya menjadikan organisasinya sebagai akademi. Akademi yang dimaksud bukan seperti yang kita lihat saat ini, namun sebaliknya akademi pada konteks ini merujuk pada sekolah berbentuk taman yang didirikan oleh plato di athena sebagai tempat berkumpul para intelektual untuk menimba berbagai disiplin ilmu.

Gerakan perkaderan dan gerakan sosial yang harus terus dibingkai dengan ilmu menyiratkan urgensi sebenarnya mengapa kader IMM harus menjadikan organisasinya sebagai akademi sesuai dengan konsep yang semestinya.

Maka dengan demikian, maksud dan tujuan Muhammadiyah mendirikan IMM sebagai gerakan ilmu dan amal akan dapat terealisasi. Mengemban tugas berat, bukan berarti menyurutkan semangat kader untuk berjuang. Sebagai akademisi islam yang berakhlak mulia ilmu yang dimiliki harus diamalkan secara praktis untuk membebaskan dan memanusiakan manusia. Kemudian setiap amalan kader harus benar-benar mencerminkan dirinya sebagai individu yang taat dalam menjalankan perintah agama.

“Cita-cita yang tak diperjuangkan serupa membaca hanya sekata, tak mendapat arti dan makna.”
Trilogi yang dimiliki IMM mestinya dapat dipahami oleh seluruh kader IMM, pemahamannya tidak hanya sekedar dogma bahwa trilogi adalah ideologi belaka. Namun, Trilogi harus menjadi ruh keilmuan setiap kader IMM yang kemudian menjadi prinsip gerakan yang berlandaskan pada tradisi akademik.

Jika trilogi hanya dijadikan sebagai ideologi, trilogi tersebut akan menjadi candu bagi kader IMM dan akan menegasikan ilmu pengetahuan sebagai upaya revitalisasi dan inovasi perkaderan. Gerakan perkaderan dan gerakan sosial IMM sudah seharusnya berlandaskan keilmuan yang mapan sesuai dengan karakter IMM dan Muhammadiyah, tidak lagi bertengkar teori siapa atau ilmu apa yang akan IMM gunakan.

Sebagai gerakan perkaderan iklim yang harus dibangun dalam tubuh IMM adalah membentuk kader-kader ideolog yang memiliki pengetahuan Namun hal ini menjadi masalah dalam tubuh IMM, ketidak sinkronan antara perkaderan dan keilmuan menjadi penyebab masalah dari hal tersebut. Namun, jika kita perhatikan lebih dalam lagi, ideologi tanpa ilmu akan menjadi dogma belaka dan menjadikan kader fanatik buta terhadap ikatan, sebaliknya ilmu tanpa ideologi akan menjadikan kader liar dan menghantam segala batasan norma.

Cinta itu kadang membosankan. Sirna setelah semuanya didapatkan. Kadang cinta terdiri dari ungkapan alay beranak lebay yang mengarah kepada syatahat (ucapan tak dimengerti) oleh manusia normal. Cinta itu kadang mengarahkan kita pada pemahaman postulat sehingga menjadi dogma yang tidak layak dicari alasannya.

Justru, di sanalah letak kesalahan ketika kader hanya sekedar mencintai tanpa internalisasi dan kristalisasi rasa dalam aspek perjuangan. Kehadiran rasa ber-IMM mutlak diperlukan, sehingga cinta kader terhadap IMM tidak lagi dalam domain teoritis semata namun bertumbuh dalam praksis karakter gerakan kader.

Rasa itu akan memanggil dan menjaga kader. Agar tak hanya sekedar masuk di IMM lalu keluar dengan alasan ketidaksesuaian, ketidakcocokan, dan sederet alasan lain yang sejatinya tak memiliki rasa dalam ber-IMM. Mari kita rawat IMM dengan penuh kesadaran, Karena kita adalah kader Persyarikatan, kader umat juga sebagai kader bangsa. Jangan kendor apalagi memilih mundur dalam mengurusi IMM. Selalu hadirkan rasa dalam tarikan nafas pengabdian! Abadilah IMM-ku!

Sebagai gerakan sosial ilmu menjadi bingkai untuk pengetahuan dasar ikatan dalam bergerak, karena jika tidak ada ilmu yang dimiliki gerakan akan berjalan secara sporadis dan tujuan tidak akan tercapai. Dalam gerakan sosial ilmu dasar pemberdayaan dan pembebasan masyarakat harus benar-benar dikuasai oleh kader secara individu ataupun kelompok untuk terjun langsung ke masyarakat.

Penulis : Abdurrahman (Ketua Umum Pikom IMM FAI UNISMUH MAKASSAR)

666 posts

About author
Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama.
Articles
    Related posts
    Opini

    Empat Makanan yang Kerap Ditemui Saat Hari Raya Idul Adha

    3 Mins read
    Opini

    Filantropi Islam dan Masa Depan Kemanusiaan

    4 Mins read
    Opini

    Seni Menyikapi Kabar Media Melalui Teori Dromologi Paul Virilio

    3 Mins read

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *