NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Kecewa kepada Manusia, Mendekatlah kepada Allah

3 Mins read

Oleh: M. Alim Akbar, Pengajar SD Muhammadiyah 2 Babat, Anggota Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi PCM Babat

SEJUK.ID – Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu pernah merasakan kekecewaan ketika kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan. Kekecewaan dapat muncul akibat ucapan yang menyakitkan, janji yang tidak ditepati, sikap yang berubah, atau kepercayaan yang dikhianati. Perasaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, cara seseorang menyikapinya menentukan apakah kekecewaan akan menjadi pelajaran berharga atau justru tumbuh menjadi dendam.

Hubungan antarmanusia tidak selalu berjalan mulus karena setiap orang memiliki karakter, kepentingan, dan cara pandang yang berbeda. Terkadang, orang yang kita percaya justru melakukan sesuatu yang melukai hati. Sebaliknya, orang yang kita harapkan memahami keadaan malah menunjukkan sikap yang mengecewakan. Dalam situasi seperti ini, seorang muslim perlu menjaga ketenangan hati agar tidak membiarkan emosi sesaat merusak hubungan, menghilangkan kebijaksanaan, atau menjauhkannya dari nilai-nilai Islam.

Islam memberikan tuntunan yang jelas ketika seseorang menghadapi perlakuan orang lain yang menimbulkan kekecewaan. Ajaran Islam tidak hanya mendorong umatnya untuk bersabar, tetapi juga mengajarkan kelembutan, pengendalian diri, kesediaan memaafkan, dan keteguhan dalam bertawakal kepada Allah SWT. Salah satu pedoman penting mengenai sikap tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 159. Ayat ini mengajarkan bahwa kelembutan dapat menjaga hubungan, sedangkan tawakal menguatkan langkah setelah seseorang mengambil keputusan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Baca Juga:  Jalur Alternatif Dakwah Melalui Media Sosial

Artinya: “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS Ali Imran: 159).

Ayat tersebut mengandung pelajaran mendalam bagi siapa pun yang sedang menghadapi kekecewaan akibat perilaku orang lain. Allah SWT menunjukkan pentingnya bersikap lemah lembut, memaafkan, memohonkan ampunan, bermusyawarah, dan bertawakal. Pesan ini mengingatkan kita bahwa luka hati tidak harus berujung pada kemarahan berkepanjangan, permusuhan, atau keinginan membalas keburukan dengan keburukan yang sama.

Keteladanan Rasulullah saw. memperlihatkan bahwa kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang mampu menjaga martabat seseorang. Ketika menghadapi kesalahan orang lain, kita tetap dapat bersikap tegas tanpa menghina, menyampaikan keberatan tanpa mencaci, dan memperbaiki keadaan tanpa memperbesar persoalan. Sikap seperti ini membutuhkan kedewasaan karena seseorang harus mampu mengelola perasaannya sebelum menentukan tindakan yang tepat.

Rasulullah saw. juga mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak semata-mata terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan emosi merupakan bagian penting dari kekuatan seorang muslim. Ketika seseorang mengecewakan kita, kemarahan mungkin muncul secara spontan. Namun, kita tetap memiliki kesempatan untuk memilih respons yang lebih bijaksana. Menahan diri dari ucapan kasar, menghindari tindakan tergesa-gesa, dan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk menenangkan pikiran merupakan langkah nyata dalam menjalankan ajaran Rasulullah saw.

Baca Juga:  Pengaruh Algoritma di Opini Publik

Namun, memaafkan tidak berarti membenarkan setiap kesalahan atau membiarkan orang lain terus menyakiti kita. Seorang muslim tetap perlu menetapkan batas yang sehat, menyampaikan persoalan dengan baik, dan mengambil langkah perlindungan apabila perilaku seseorang terus menimbulkan kerugian. Dengan demikian, kelembutan dapat berjalan beriringan dengan ketegasan, sedangkan kesabaran tidak menghilangkan hak seseorang untuk mencari penyelesaian yang adil.

Kekecewaan juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Ketika harapan kepada manusia tidak terpenuhi, kita perlu mengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah SWT adalah tempat bersandar dalam setiap keadaan. Kesadaran tersebut membantu kita menata kembali harapan, memperbaiki niat, dan memandang persoalan secara lebih jernih tanpa menggantungkan seluruh kebahagiaan pada perlakuan orang lain.

Meski demikian, tawakal bukanlah alasan untuk berhenti berusaha atau membiarkan persoalan tanpa penyelesaian. Kita tetap perlu mencari solusi, membangun komunikasi yang sehat, meminta nasihat ketika diperlukan, serta melakukan perbaikan sesuai dengan kemampuan. Setelah berikhtiar dan mempertimbangkan langkah yang tepat, kita menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT dengan keyakinan bahwa tidak semua perkara berada dalam kendali manusia.

Dalam menghadapi kekecewaan, menjaga lisan menjadi salah satu ujian yang tidak mudah. Seseorang mungkin mampu menyembunyikan kesedihan di hadapan banyak orang, tetapi ucapan yang terlontar ketika marah dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada persoalan yang memicunya. Oleh karena itu, membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara, menghindari penyebaran aib, dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa orang lain memiliki niat buruk merupakan bagian dari ikhtiar menjaga akhlak.

Selain itu, kita perlu membedakan antara berprasangka baik dan mengabaikan kenyataan. Berprasangka baik berarti tidak tergesa-gesa menuduh orang lain tanpa bukti. Sementara itu, sikap bijaksana menuntut kita untuk tetap melihat persoalan secara objektif. Dengan keseimbangan tersebut, kita dapat menjaga hati dari prasangka berlebihan sekaligus mengambil keputusan berdasarkan fakta dan pertimbangan yang matang.

Baca Juga:  Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Laki-laki untuk Kepemimpinan Keluarga

Pada akhirnya, tidak semua kekecewaan harus berakhir dengan putusnya hubungan. Namun, tidak semua persoalan pula dapat diselesaikan hanya dengan permintaan maaf. Ada kalanya hubungan perlu diperbaiki, ada waktunya kita perlu menjaga jarak, dan ada pula keadaan yang menuntut kita menerima kenyataan dengan lapang dada. Apa pun jalan yang dipilih, jangan sampai rasa kecewa mengubah kita menjadi pribadi yang kehilangan kelembutan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Kekecewaan terhadap manusia memang dapat meninggalkan luka, tetapi kita tidak perlu membiarkan luka tersebut menguasai seluruh kehidupan. Jadikan pengalaman itu sebagai kesempatan untuk memperkuat kesabaran, memperbaiki akhlak, memaafkan dengan bijaksana, dan meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT. Dengan terus berikhtiar, menjaga perkataan, mencari solusi, dan bertawakal, semoga setiap ujian hati mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih matang, berlapang dada, dan teguh dalam menjalani kehidupan. (*)

1379 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Belajar Fisika, Memahami Kehidupan

3 Mins read
Oleh: Rosyida Husniyah, S.Pd. SEJUK.ID – Pernahkah kita membayangkan bahwa sebutir telur, segelas air, dan sebuah balon bisa mengajarkan sesuatu yang lebih…
Opini

Tiga Sebab Kemunduran Islam: Meninggalkan Ilmu, Cinta Dunia, dan Saling Mencaci

3 Mins read
Oleh: Ahmad Rusdi SEJUK.ID – Dunia Islam dalam catatan sejarah mengalami pasang surut. Pada suatu masa, umat Islam berada di puncak kejayaan….
Opini

Sumsum Tulang Kurban, Nikmat yang Kerap Terlupakan

3 Mins read
Oleh: Nashrul Mu’minin SEJUK.ID – Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan suasana yang khas. Daging sapi dan kambing dibagikan ke rumah-rumah, dapur mulai…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *