Oleh: Ahmad Rusdi
SEJUK.ID – Dunia Islam dalam catatan sejarah mengalami pasang surut. Pada suatu masa, umat Islam berada di puncak kejayaan. Namun, pada masa yang lain, sinarnya meredup.
Di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., umat Islam berhasil mencapai kejayaan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 23 tahun. Beliau mampu mengubah wajah Jazirah Arab yang diliputi kejahiliahan menjadi masyarakat yang beradab.
Bangsa Arab yang sebelumnya terisolasi di tengah padang pasir dan kurang dikenal dunia, melalui perjuangan dan ajaran Rasulullah, tumbuh menjadi kekuatan yang diperhitungkan oleh dua kekuatan besar saat itu, yakni Romawi dan Persia.
Keberhasilan Rasulullah membawa umat Islam mencapai kedudukan terhormat dan mulia tidak terlepas dari inti ajaran yang beliau sampaikan.
Sebagaimana diketahui, wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah perintah membaca. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam Islam. Ketika mencari dan mencintai ilmu menjadi identitas umat, Allah Swt. akan mengangkat derajat mereka.
Ajaran berikutnya yang membawa umat Islam menuju jalan yang lurus ialah pendidikan tentang kesederhanaan hidup. Dalam istilah yang lebih populer, prinsip ini dikenal sebagai zuhud, yaitu sikap menempatkan dunia secara proporsional dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan.
Rasulullah saw. tidak sekadar mendidik para sahabat melalui teori, tetapi juga menjadikan kepribadian beliau sebagai teladan dalam menerapkan sikap zuhud.
Keberhasilan umat Islam pada masa Rasulullah sebagai pembawa pencerahan juga tidak dapat dilepaskan dari ajaran persaudaraan dan pentingnya persatuan. Suku-suku Arab yang pada masa jahiliah kerap bertikai dan bermusuhan berhasil didamaikan dan dipersatukan.
Melalui ketiga inti ajaran tersebut, umat Islam memperoleh kedudukan terhormat, baik di sisi Allah Swt. maupun di hadapan sesama manusia.
Sebaliknya, umat Islam berpotensi mengalami kemunduran ketika meninggalkan ilmu pengetahuan, terjebak dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta saling mencaci dan menghina.
Mari kita telaah satu per satu ketiga penyebab tersebut.
Meninggalkan Ilmu Pengetahuan
Sebab pertama yang menjadikan umat Islam rapuh dan mengalami kemunduran ialah ditinggalkannya ilmu pengetahuan. Ketika ilmu tidak lagi diminati, bahkan dianggap sebagai penghambat kebebasan hidup, di situlah awal ketertinggalan bermula.
Terlebih lagi, ketika dikotomi ilmu masih menjadi pandangan yang mendominasi dunia pendidikan, keadaan tersebut berpotensi membatasi ruang belajar para pelajar. Ketakutan dan ancaman justru lebih nyaring disuarakan daripada optimisme dan semangat untuk mengembangkan pengetahuan.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam didorong untuk belajar sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya, dan seluas-luasnya. Mereka dapat menuntut ilmu ke Arab Saudi atau Mesir yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat, maupun ke Amerika Serikat dan Eropa yang menjadi pusat perkembangan berbagai bidang sains dan teknologi.
Di mana pun ilmu dicari, prinsipnya tetap sama: membaca dan belajar harus dilandasi niat yang benar serta berorientasi pada kemaslahatan, dengan tetap berpegang pada pesan wahyu pertama, yakni membaca dengan nama Tuhan.
Terlalu Mencintai Dunia
Sebab berikutnya yang meruntuhkan semangat juang kaum muslimin sekaligus menjadi sumber kekeruhan dalam tubuh umat Islam adalah kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.
Ketika kepentingan duniawi dikejar dengan menghalalkan segala cara, jabatan diraih dengan menjatuhkan kawan sendiri, dan kemewahan dijadikan tujuan utama kehidupan, di situlah perpecahan mulai tumbuh. Kepentingan kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan bersama.
Jika kita cermati, gaya hidup hedonistis kini tidak hanya dilakukan oleh kalangan atas, tetapi juga telah merambah kalangan bawah. Prinsip hidup sederhana seolah-olah mulai ditinggalkan. Upaya mencari penghidupan tidak lagi ditempatkan sebagai sarana untuk meraih rida Allah Swt., melainkan sekadar untuk memenuhi keinginan duniawi.
Padahal, mencintai dunia secara berlebihan hingga melupakan Allah Swt. dapat menghambat kemajuan, menyuburkan permusuhan, sekaligus memutus tali persaudaraan.
Dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan sepenuhnya. Namun, dunia semestinya ditempatkan sebagai sarana untuk melakukan kebaikan, bukan sebagai tujuan akhir yang menguasai seluruh kehidupan.
Saling Mencaci dan Menghina
Kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat melahirkan tabiat saling mencela, menghina, dan mencaci maki. Tidak jarang, perilaku tersebut muncul bukan karena persoalan besar, melainkan akibat persoalan kecil yang dibesar-besarkan.
Sebagai contoh, dalam persoalan fikih, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, terkadang ada pihak yang justru mempersempit ruang perbedaan dan memaksakan satu pandangan seolah-olah menjadi satu-satunya kebenaran.
Dalam persoalan furuk atau cabang-cabang agama, misalnya, terdapat perbedaan dalam merujuk dan memahami dalil hukum. Akibatnya, beberapa praktik keagamaan di kalangan umat Islam memiliki perbedaan.
Dalam menyikapi perbedaan tersebut, masih ada sebagian orang yang belum mampu berlapang dada. Bahkan, ada yang tega mengatakan, “Bagi yang tidak sama, bukan dari golongan kami.”
Sikap semacam ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya perilaku saling menghina dan menjelek-jelekkan di antara sesama umat Islam.
Keadaan akan semakin rumit apabila cacian datang dari kalangan pemimpin atau tokoh, kemudian ditiru oleh masyarakat di tingkat akar rumput. Persoalan yang semula dapat diselesaikan dengan bijaksana justru menjadi semakin kusut.
Jika keadaan tersebut tidak segera dibenahi, umat Islam berisiko terpecah belah. Padahal, perpecahan merupakan salah satu faktor internal yang dapat melemahkan kekuatan umat.
Dalam catatan sejarah, ketiga sebab tersebut kerap menjadi bagian dari persoalan internal yang menghambat kemajuan umat Islam. Karena itu, kemunduran tidak seharusnya hanya dipandang sebagai akibat tekanan dari luar, tetapi juga perlu menjadi bahan introspeksi terhadap keadaan di dalam tubuh umat sendiri.
Kembali kepada Ilmu, Kesederhanaan, dan Persaudaraan
Oleh karena itu, agar kita turut berperan dalam memajukan Islam, marilah terus belajar dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Jika belum mampu berkontribusi secara langsung dalam pengembangan ilmu, setidaknya kita dapat menyemangati generasi berikutnya agar terus belajar dan mengembangkan diri.
Selain itu, terapkan pola hidup sederhana, tempatkan dunia secara proporsional, berlapang dadalah dalam menyikapi perbedaan, serta tumbuhkan kasih sayang terhadap sesama.
Kemajuan umat Islam tidak cukup dibangun dengan kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu. Kemajuan itu harus diwujudkan melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu, keteladanan dalam menjalani kehidupan, dan komitmen untuk merawat persaudaraan.
Dengan demikian, umat Islam dapat kembali menguatkan perannya sebagai umat yang berilmu, berakhlak, dan membawa rahmat bagi sesama. (*)


