SEJUK.ID – Semangat literasi bergema dari Joglo Sedjati, Desa Gajah, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (23/5/2026) malam. Taman Baca Masyarakat (TBM) Sedjati bekerja sama dengan Yayasan Sedjati Insani Cendekia Babat, Lamongan, menggelar Malam Kajian Literasi bertema “Kiat Meramu Tulisan Menjadi Cuan: Membangun Ekosistem Literasi Tiga Kota Lamongan–Bojonegoro–Tuban”.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga penulis nasional untuk berbagi pengalaman dan proses kreatif selama menekuni dunia kepenulisan hingga dikenal secara luas di tingkat nasional.
Tiga narasumber yang hadir ialah Mahfud Ikhwan, novelis asal Desa Lembor, Brondong, Lamongan, yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan beredar hingga India serta Mesir. Narasumber kedua ialah Ahmad Rifai Rifan, penulis asal Turi, Lamongan, lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang telah menerbitkan lebih dari 200 judul buku motivasi keislaman. Adapun narasumber ketiga ialah Aditya Akbar Hakim, guru Bahasa Indonesia yang produktif menulis buku hingga berhasil menembus penerbit mayor dan pasar pembaca Malaysia.
Dalam sesi diskusi, Aditya Akbar Hakim melontarkan pernyataan yang memantik antusiasme peserta.
“Saya hanya ingin memprovokasi teman-teman agar segera menulis buku, apa pun tema dan bentuknya. Sebelum ajal menjemput, pastikan kita meninggalkan nama dan karya dalam bentuk buku. Itulah warisan yang benar-benar abadi karena gagasannya bisa melintasi waktu dan generasi,” ujar guru SMA Negeri 2 Lamongan tersebut.
Aditya yang kini tengah menempuh program doktoral di Universitas Muhammadiyah Malang itu menambahkan, seseorang akan kehilangan jejak intelektualnya apabila tidak meninggalkan karya tulis.
“Menyesallah mereka yang telah meninggal tetapi belum pernah menulis buku karena tidak meninggalkan warisan intelektual bagi generasi setelahnya,” katanya.
Sementara itu, Ahmad Rifai Rifan membagikan kiat menjadi penulis produktif yang hampir setiap bulan mampu menyelesaikan satu buku.
“Kuncinya konsisten, konsisten, dan konsisten. Tidak ada kiat yang bisa mengalahkan keseriusan dan kedisiplinan,” ujarnya.
Rifai mengaku lebih banyak menulis tema-tema ringan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca. Salah satu bukunya, Tuhan, Maaf Aku Sedang Sibuk, disebut telah mengalami cetak ulang hingga 20 kali sejak pertama kali diterbitkan.
Di penghujung forum, Mahfud Ikhwan berbagi kisah perjalanan kreatifnya hingga menghasilkan karya-karya yang mendapat banyak penghargaan nasional dan kerap dikaji di berbagai kampus luar negeri. Salah satu novelnya bahkan segera diadaptasi menjadi film oleh rumah produksi di Jakarta.
“Saya menulis karena merasa itulah jalan hidup yang paling mungkin saya tempuh. Modal menulis itu sederhana, cukup merenung, lalu menuangkannya dalam tulisan,” tutur Mahfud.
Peraih Anugerah Kebudayaan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X tersebut menjelaskan bahwa ide-ide sederhana yang ditemui sehari-hari dapat dirangkai menjadi karya sastra yang bernilai.
Pendiri sekaligus pengelola TBM Sedjati, M. Sulthon Haekal, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu menjaga semangat literasi di tengah derasnya arus media sosial yang dinilai kerap mendangkalkan cara berpikir masyarakat.
“Kita ingin semangat berpikir mendalam, terstruktur, argumentatif, kaya kata, dan kaya imajinasi tetap tumbuh. Meski berada di kota kecil yang jauh dari pusat, api literasi harus terus menyala,” ujarnya.
Haekal juga membuka peluang kolaborasi bagi komunitas literasi lain untuk menggelar kegiatan serupa di Joglo Sedjati secara gratis demi mendukung perkembangan budaya baca dan tulis.
Kajian literasi ini merupakan agenda kedua yang digelar TBM Sedjati. Sebelumnya, pada September 2025, kegiatan serupa menghadirkan penulis nasional Gol A Gong yang juga dikenal sebagai Duta Baca Indonesia.
Acara yang dimoderatori Sekretaris Jenderal Ikatan Guru Indonesia (IGI), Dr. Hibatun Wafiroh, tersebut dihadiri puluhan pelajar, mahasiswa, guru, penulis, dan pegiat TBM dari Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro. Bahkan setelah forum resmi ditutup, sebagian peserta masih bertahan untuk berdiskusi hingga dini hari. (*)


