SEJUK.ID – Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menutup kegiatan Coaching Instruktur Pendamping Perkaderan bagi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) wilayah Asia Pasifik dan Mediterania, yang meliputi Maroko, Libya, Thailand, dan Mesir, pada Kamis (4/7). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi momentum untuk menyelaraskan arah gerakan kader Muhammadiyah yang mengabdi di dalam maupun luar negeri.
Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan atau yang akrab disapa Gus Bach, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus MPKSDI serta kader Muhammadiyah di berbagai negara. Menurutnya, kader merupakan pilar utama Persyarikatan yang memikul tanggung jawab strategis, yakni membina jamaah dan anggota di akar rumput sekaligus menyiapkan diri menjadi aktivis hingga pemimpin Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada masa depan.
“Di mana pun dan kapan pun, kader harus siap sedia berkhidmat untuk memajukan gerak dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” ujar Gus Bach.
Dalam amanat penutupnya, Gus Bach menegaskan bahwa kader Muhammadiyah yang berada di luar negeri memiliki dua peran besar. Pertama, mereka merupakan duta sekaligus striker dakwah Muhammadiyah yang bertugas memperkenalkan, menyebarluaskan, serta melakukan penetrasi gagasan Islam Berkemajuan kepada masyarakat internasional.
Menurutnya, Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah menawarkan wajah Islam yang modern, moderat, inklusif, dan membawa rahmat bagi semesta. Karena itu, keberadaan kader diaspora menjadi ujung tombak untuk memperkenalkan nilai-nilai tersebut di berbagai belahan dunia.
Peran kedua yang tak kalah penting adalah sebagai jembatan peradaban. Kader diaspora dinilai memiliki posisi strategis untuk menghubungkan Muhammadiyah di Indonesia dengan dinamika masyarakat global, baik di lingkungan sesama muslim maupun lintas agama.
“Kalian adalah jembatan yang menghubungkan Muhammadiyah di Indonesia dengan dinamika di mancanegara, baik dengan sesama muslim maupun lintas iman, untuk bersinergi membangun peradaban yang lebih baik,” katanya.
Melalui proses pengkaderan ini, MPKSDI berharap visi, idealisme, serta cita-cita gerakan Muhammadiyah dapat ditransmisikan secara utuh kepada seluruh kader di berbagai negara. Dengan demikian, perbedaan perspektif maupun kultur organisasi antara Muhammadiyah di dalam negeri dan luar negeri dapat semakin diperkecil.
Gus Bach juga mengaku bangga terhadap para kader yang sedang menempuh studi, menjadi diaspora, maupun bekerja sebagai pekerja migran. Di tengah kesibukan menjalankan aktivitas akademik dan profesional, mereka tetap meluangkan waktu untuk menggerakkan roda Persyarikatan.
Ia bahkan menyebut para kader tersebut sebagai the chosen people atau orang-orang terpilih sekaligus khairu ummah yang tetap istiqamah mengabdi kepada Muhammadiyah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Menatap masa depan, Gus Bach optimistis para kader yang kini menimba pengalaman di luar negeri akan menjadi modal besar bagi Muhammadiyah. Dalam kurun 10 hingga 20 tahun mendatang, mereka diyakini akan kembali ke Indonesia dengan bekal wawasan internasional, pengalaman global, serta jejaring yang kuat untuk memperkuat kepemimpinan Persyarikatan.
Mengakhiri sambutannya, Gus Bach mendoakan agar seluruh kader Muhammadiyah di luar negeri diberikan kelancaran dalam menempuh studi maupun menjalankan aktivitasnya. Ia juga melemparkan gagasan untuk menggelar temu besar kader diaspora pada Muktamar Muhammadiyah 2027 di Medan.
“Mudah-mudahan suatu saat kita bisa berjumpa. Jika belum sempat, insyaallah kita berkumpul dalam kopi darat kader Muhammadiyah sealam semesta pada Muktamar Muhammadiyah tahun 2027 di Medan,” pungkasnya. (*)
Penulis : Assalimi | Editor : Fathan Faris Saputro


