ArtikelOpini

Ekspresi Puasa dalam Umat Beragama

6 Mins read

(Sumber Gambar: Redaksi Sejuk.ID)

Puasa menurut Kristen Protestan dalam Alkitab Perjanjian Lama disebut dengan Tsom, Tsum yang berarti merendahkan diri. Dalam tradisi Yahudi puasa pada hari perdamaian atau grafirat adala kewajiban bagi ummat Allah (Imamat 16:29,31, Bilangan 29:7). Lamanya puasa ini adalah sehari penuh, orang yang melanggarnya dihukum mati.(Imamat 23:27-32). Dalam Perjanjian Baru puasa adalah terjemahan dari kata kerja nesteo, kata substansinya nesteia. Puasa yang dilakukan menurut kebutuhan biasanya dikaitkan dengan suatu keperluan, umpamanya untuk persiapan menerima firman Allah (Keluaran 34:28, Daniel 9:3). Sebagai tanda penyesalan atau pertobatan individual dan kolektif (Raja-raja 21:27), tanda kedukaan (1 Samuel 31: 13), permohonan berkat Allah (2 Samuel 12:16 ).

Yesus tidak mengharuskan orang untuk berpuasa, tetapi ia sendiri berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun (Matius 4:1-2). Ia juga mengatakan jenis setan tertentu tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa (Matius 17:20-21). Alam jemaat Perjanjian Baru dijalankan puasa, misalnya oleh Paulus setelah pertobatannya (Kisah rasul 9:9-13), oleh beberapa di Antiokia pada waktu mana Roh Kudus menyuruh mereka mengasingkan Barnabas dan Paulus untuk tugas yang ditentukan Allah kepada mereka (Kisah Rasul 13:2). Puasa ditiadakan oleh Martin Luther, bapak reformasi karena menganggap itu buatan manusia seperti dikatakannya dalam konferensi Ausburg. Tetapi sekarang puasa sebagai ibadah sudah banyak dipraktekkan umat Kristen.

Puasa dikalangan umat Kristen meliputi puasa hari Rabu yang merupakan hari penghianatan terhadap nabi Isa hingga tertangkap, dan puasa pada hari Jum‟at. Sesudah itu, puasa Agung selama 55 hari, yang 40 hari merupakan puasa yang dilakukan nabi Isa ditambah dua minggu (dua pekan) sebagai persiapan dan penderitaan. Dalam menjalankan puasa-puasa tersebut mereka tidak dibenarkan memakan daging hewan apapun juga atau apa saja yang bersifat hewani, yang dibolehkan hanyalah jenis-jenis tumbuhan.

Dalam Kristen pada umumnya, ajaran puasa intinya adalah pertobatan, melawan keinginan duniawi, dan dilarang untuk memekan daging, yang diperbolehkan hanyalah memakan tumbuh-tumbuhan. Dalam beberapa aliran Kristen hanya pelaksanaan dan tata caranya saja yang berbeda inti dan tujuannya sama.(Ahmad Shalabi, Perbandingan Agama).

Puasa menurut agama Kristen Katholik adalah tindakan sukarela berpantang sama sekali atau sebagian makanan dan minuman baik untuk tujuan keagamaan ataupun untuk tujuan lain. Umat Kristen mewarisi kebiasaan puasa dari agama Yahudi. Dikalangan umat Yahudi, Hari Raya Penebusan merupakan saat istimewa untuk puasa umum. Namun dalam Perjanjian Lama terdapat pula puasa khusus baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun bersma-sama. Puasa dapat membebaskan darang dari ketergantungan jasmani, dari ketidakseimbangan emosional, dan dapat mengarahkan perhatian kepada sesame manusia dengan memberi derma dan kepada Tuhan yang dicari dalam doa dengan lebih mudah. Maka puasa Kristiani selalu bersatu dengan derma dan doa. Arti dan maksud puasa ialah memudahkan pertobatan dan kepekaan terhadap nilai-nilai rohani.

Bagi orang Kristen, praketk puasa mendapatkan otoritas dari teladan dan ajaran Yesus sendiri sehingga sudah merupakan tradisi yang lama. Puasa Yesus selama 40 hari setelah pembabtisannya menjadi model dan ajaran tentang puasa dalam arti Kristen. Yesus menekankan bahwa puasa harus dilakukan demi kemuliaan Allah semata-mata dan bukan untuk dilihat dan mendapat pujian atau perhatian manusia.

Maka Yesus menasihatkan kepada pengikutnya bahwa setiap orang yang berpuasa harus melakukannya secara diam-diam supaya hanya Allah yang mengetahui dan membalasnya (Matius 6: 16-18). Waktu berpuasa setelah ia meninggalkan mereka (Matius 9:14-15). Ini merupakan dasar bagi puasa dalam Gereja Perdana (Kisah Rasul 13:3, 14:23).

Dalam tradisi Kahtolik pelaksanaan puasa diadakan 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu. Angka 40 mengingatkan akan 40 tahun bangsa Israel menjelajah gurun sebelum masuk tanah suci; 40 hari Musa berada di gunung Sinai; dan terutama lamanya Yesus berpuasa selama 40 hari. Masa ini disebut masa Prapaskah atau masa tobat dan persiapan diri 34 untuk hari Raya Paskah. Pada masa ini juga Gereja Katholik mengadakan Aksi Puasa Pembangunan. Aksi ini merupakan tanda solidaritas.

Puasa menurut agama Konghucu secara definisi tidak sama persis dengan pemahaman yang dikenal dalam keseharian masyarakat Indonesia, yakni tidak makan dalam waktu tertentu atau makan hewan (vegetarian). Puasa dala Hindu tidak diwajibkan. Tujuan puasa untuk mensucikan diri menjelang sembahyang besar, ataupun pada saat memanjatkan doa khusus. Misalnya ada sebuah ayat yang mengatakan: “Maha besar Tuhan. Pencipta alam semesta, demikianlah manusia berpuasa memebersihkan diri, dengan pakaian bersih lengkap bersujud bersembahyang kepada Nya”.

Puasa terdiri dari banyak tingkatan, ada yang hanya berpantang memakan daging hewan secara permanen maupun hanya pada hari-hari sembahyang khusus; ada juga yang puasa tidak makan dana tau tidak minum untuk jangka waktu tertentu dan hari-hari tertentu, semua ini disesuaikan dengan niat orang yang melaksanakan puasa, dan tujuan utamanya adalah mengukuhjan niat serta tekad yang lebih kuat dalam menyampaikan doa menghadap Tuhan.

Tidak ada kewajiban berpuasa dalam agama Konghucu, akan tetapi itu semua kembali kepada pribadi umatnya masing-masing. Puasa dalam ajaran Konghucu mempunyai dua keutamaan dalam pelaksanaannya, yaitu berpantang untuk tidak terjerumus ke dalam hawa hafsu dan menjaga diri untuk bisa memperbaiki dari kekeliruan. Dua hal ini yang menjadi keutamaan bagi umat Konghucu yang menjalankan puasa. Dengan demikian, puasa yangdilaksanakan umat Konghucu akan berbeda sesuai dengan maksud tujuan dilaksanakan puasa itu, namun memiliki ini yang sama yaitu membina diri.

Puasa menurut agama Hindu berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata Upa dan Wasa. Artinya dekat atau mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Puasa menurut Hindu adalah tidak sekedar menahan haus dan lapar, tidak untuk merasakan

bagaimana menjadi orang miskin dan serba kekurangan. Puasa dalam Hindu adalah untuk mengendalikan hawa nafsu Indra, mengendalikan pikiran, dan pikiran berada di bawah kesadaran budhi. Berpuasa melibatkan pengendalian diri dan beberapa pengorbanan.

Setelah dalam kurun waktu tertentu, semangat pengorbanan dan perilaku terkendali akan mengakibatkan karakter moral seseorang dan yang jelas akan mengangkat status sosial dan profesionalisme seseorang. Komitmen untuk berpuasa akan membuat seseorang sadar akan ketaatan dan nilai-nilai mulai dari dirinya. Seseorang yang berpuasa akan cenderung bertumbuh menjadi lebih baik. Ingatlah bahwa berpuasa adalah menuju jalan kehidupan berdisiplin secara professional dan spiritual. Secara professional dapat memberi kesuksesan, dan yang disebutkan terakhir mungkin dapat membuka pintu-pintu surga.

Dari uraian di atas, puasa menurut Hindu bukan hanya sekedar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, banyak keutamaan yang akan diperoleh bagi umat Hindu yang menjalankan ibdah puasa. Diantaranya: secara individual akan menjadi pribadi yang lebih baik, yang bisa menjaga dari perbuatan-perbuatan jahat. Di samping itu pula, akan memperoleh kesuksesan dalam kehidupan, serta menggapai tujuan yang abadi yaitu surga.

Puasa menurut agama Islam dalam kaidah bahasa bisa diartikan sebagai menahan. Menahan di sini, yaitu menahan dari hal-hal yang masuk ke dalam mulut dalam bentuk makanan dan minuman, bahkan juga diartikan menahan dari perbuatan dan bicara. Sementara pengertian puasa secara syariat Islam disepakati para ulama, yaitu menahan dari apa pun yang membatalkan puasa, disertai niat untuk berpuasa dari terbit fajar sampai tenggelam matahari (maghrib). Ada pula sebagian ulama yang mendefinisikan kata-kata “membatalkan puasa” itu sebagai perbuatan dua anggota badan, yaitu perut dan alat kelamin.

Dalam islam perintah puasa memang hanya secara khusus diwajibkan oleh Allah bagi orang-orang yang beriman, yaitu meyakini Allah sebagai Rabb mereka; yang menciptakan, melahirkan, memberi rizki, menganugerahi kehidupan, menentukan ajal, dan menempatkan mereka pada kehidupan abadi kelak di akhirat. Sebagaimana perintah puasa di dalam (Q.S. al-Baqarah 2:183) sebagai berikut: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Sedikit memaparkan tentang “takwa”. Takwa secara harfiah, yaitu, memelihara diri. Karena orang-orang yang bertakwa ia akan memelihara dirinya dari perbuatan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh Allah. Menurut ulama, pengertian takwa adalah “menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang oleh Allah”.

Jika manusia bertakwa dengan sebenar-benarnya maka akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki, kabahagiaan yang abadi dengan masuk ke dalam surga-Nya Allah. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut: (Q.S. 3: 133). ”Bersegeralah kalian menuju kepada ampunan Allah, dan memohon surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. Oleh karena itu, kita harus mencantumkan puasa Ramadhan dalam agenda ibadah agar tidak kehilangan kesempatan emas yang hanya dijumpai sekali dalam setahun untuk mendapatkan ampunan Allah.

Lantas, mengapa Al-Qur‟an menghendaki hal itu? Pertama, dengan berpuasa orang akan berfikir. Kedua, puasa mengajarkan disiplin diri, ia yang mampu menjalankan tuntutan bulan puasa ini tidak akan mengalami kesukaran dan biasa mengendalikan keinginannya. Dengan berpuasa akan meningkatkan dia secara jelas akan kelemahan dasarnya dan ketergantungannya. Akhirnya puasa akan memperhalus rasa kasih sayang.

Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, Allah masih memberikan akses dan kesempatan kepada umatnya untuk melakukan komunikasi dengan jalur khusus, yaitu dengan melakukan puasa-puasa sunah yang dijanjikan oleh Allah dengan pahala yang sangat luar biasa. Apa saja puasa sunnah itu, diantarnya: puasa sunnah hari Senin dan Kamis, puasa sunnah nabi Daud, puasa sunnah Syawal, puasa sunnah Muharram, puasa Asyura, puasa sunnah Syakban, puasa sunnah hari Arafah dan puasa sunnah ayyamul bidh (puasa yang dilakukan selama tigahari pada tanggal 13,14 dan 15).

Sebagai tambahan, pahala bagi ibadah pusa juga disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW. Dari Sahl bin Sa‟ad, dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, beliau bersabda: ”Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya”(HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152). Berdasarkan hadis tersebut, sungguh berbahagialah bagi orang-orang yang berpuasa, karena Allah menjanjikan surga baginya pada kehidupan di akhirat nanti. Di dunia saja orang yang berpuasa ia akan merasa hidup bahagia karena dicukupi semua kebutuhan dan keperluannya oleh Allah.

34 posts

About author
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Articles
Related posts
Opini

Aktivis Muda Muhammadiyah Jawa Barat Mantap Mendukung Ganjar-Mahfud MD

2 Mins read
Opini

Identitas Indonesia: Simfoni Kebhinekaan Abadi

3 Mins read
Opini

Tingkat Dampak Positif Video Game pada Aspek Kognitif Sosial

2 Mins read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *