SEJUK.ID – Dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menggelar acara Bedah Buku berjudul “Tutur Aksara: Jejak Budaya, Membangun Deposit Peradaban” pada Kamis (25/9/2025). Kegiatan ini berlangsung di Aula Graha Pustaka Lantai 2, Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Acara tersebut dihadiri peserta pelatihan menulis konten lokal Jawa Timur, guru, pustakawan, pegiat literasi, pemerhati budaya, akademisi, mahasiswa, serta siswa-siswi sekolah dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Sekretaris Dinas, Arif Widodo, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, bedah buku bukan sekadar menghasilkan tulisan lalu diterbitkan, tetapi merupakan langkah konkret dalam pengembangan gagasan literasi. Hal ini sejalan dengan visi Perpustakaan Nasional RI dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yakni membangun literasi berbasis inklusi sosial, memperluas pengetahuan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bedah buku ini menghadirkan dua penulis, Devan Firmansyah dan Hanifah Hikmawati, serta dua pembedah, Dhahana Adi Pungkas (akademisi dan local interpreter) dan Indria Pramuhapsari (Editor Harian Disway). Diskusi dipandu oleh Bambang Prakoso, Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Devan Firmansyah membahas karyanya “Polaman Negeri Air Bertabur Folklor, Mitos, Sejarah, dan Budaya”. Buku ini merupakan hasil riset selama 10 tahun (2015–2025). Ia mengungkapkan, di kawasan Polaman, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, setidaknya terdapat 14 folklor berupa mitos, dongeng, legenda, dan tradisi lisan. Selain itu, ditemukan 7 folklor di sekitar sumber mata air Polaman, 3 kisah Desa Kalisurak/Kalirejo dalam karya sastra, 1 peristiwa sejarah tahun 1947, serta 3 budaya turun-temurun yang masih bertahan. “Apa yang dilakukan melalui buku ini adalah upaya menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya Pasal 5 dan Pasal 16,” ungkap Devan.
Sementara itu, Hanifah Hikmawati melalui bukunya “Deverivikasi Tempe Ngawi” menegaskan eksistensi Ngawi di kancah nasional dan internasional melalui kuliner tradisional berbahan dasar tempe. Berbagai inovasi olahan seperti keripik tempe, cokelat tempe, granola tempe, hingga produk kreatif lainnya diharapkan mampu mengangkat nilai ekonomi lokal.
Dhahana Adi Pungkas menekankan pentingnya mendokumentasikan budaya lokal ke dalam literasi. Menurutnya, karya tulis semacam ini berfungsi sebagai bargaining value sekaligus penguat identitas kebangsaan. “Buku ini juga menjadi ruang budaya agar tetap eksis, tumbuh, dan berkembang sebagai katalis dalam menghadapi modernisasi,” ujarnya.
Sementara itu, Indria Pramuhapsari memberikan apresiasi kepada para penulis. Ia menilai, riset yang mendalam menjadikan karya mereka memiliki fondasi yang kuat dalam menyampaikan informasi. “Peradaban tidak dibangun dalam sehari atau setahun. Langkah berani mendokumentasikan budaya lokal mungkin belum terasa dampaknya sekarang, tetapi inilah laku yang bermanfaat dan harus terus dilanjutkan, jangan berhenti di sini,” pungkasnya. (*)


