ArtikelOpini

Aktivis Intelektual Islam Memberdayakan Masyarakat

4 Mins read

(Sumber Gambar: Redaksi SEJUK.ID)

Istilah intelektual berasal dari kata „alim (bahasa Arab) yang artinya seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dan dalam tingkatan tertinggi. Istilah „ilm awalnya dipergunakan sebagai pengetahuan tentang hadits-hadits Nabi yang menghasilkan hukum positif dan teologi. Oleh karena itu, apapun fungsi mereka tetap diperhatikan, karena para intelektual merupakan satu-satunya pembuat keputusan, kebijakan serta memberi berbagai solusi dari berbagai dimensi kehidupan untuk menuju pada kesempurnaan.

Dilihat lebih luas, kata intelektual dapat diartikan “arif” dalam bahasa Indonesia. Karena “arif” itu sendiri berarti; cerdik pandai, bijaksana, berilmu. Dalam bahasa Arab, intelektual adalah عاقل مدزك مثقف عقلى ذهنى orang berakal, orang yang mengetahui, berbudaya, akal, pikiran. مثقف menurut Abu Luwis berasal dari kata artinya mengajarkan (علم) dan هرب)) (mendidik/moral). Jadi, مثقف berarti تعلم و تهرب berilmu dan berakhlak luhur.

Dengan demikian, terdapat beberapa karakteristik dasar yang membedakan kaum intelektual dengan anggota masyarakat lainnya. Karakteristik itu terutama terletak pada penggunaan intelek, akal pikiran bukan untuk hal-hal praktis, tetapi lebih berorientasi pada pengembangan ide-ide dan pengawalan kemurnian syari‟at.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Alaq: 1-5 yang berbunyi: Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(Q.S. Al-Alaq: 1-5). Maksudnya Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Jadi, intelektual islam adalah seorang muslim yang memiliki kecerdasan yang dikaruniai bakat ilmu pengetahuan di bidangnya, orang-orang yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat dan mempunyai hasil karya. Lalu untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan pesan apa yang dia pelajari di akademisi dan pendidikan kepada publik. Intelektual yang selalu berkiprah melakukan aktivitas produktif bermanfaat untuk kebaikan dan kemajuan umat manusia.

Seorang intelektual akan senantiasa mendayagunakan akalnya untuk mengembangkan ilmu yang ditekuninya. Pemberdayaan akal merupakan media efektif untuk menemukan dan mengaktualisasikan potensi diri. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang senantiasa mendorong umatnya untuk berpikir. Jika seseorang mampu melakukan hal ini secara optimal maka ia bisa disebut sebagai seorang intelektual Muslim.

Seorang intelektual muslim memiliki beberapa karakteristik. Pertama, berzikir atau mengingat Tuhan dalam setiap situasi dan kondisi. Ia berzikir tidak hanya pada saat tertentu saja, melainkan pada setiap waktu. Kedua, mencermati secara detail fenomena yang terdapat di alam raya. Hal ini memberikan manfaat untuk memahami tujuan hidup manusia dan memahami kebesaran Tuhan. Selain itu, manfaat lain yang bisa diperoleh adalah kebahagiaan dan kenyamanan hidup di dunia ini. Ketiga, melakukan optimalisasi potensi untuk diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan manfaat terhadap kehidupan

Aktivis Memberdayakan

Menurut Poerwadarminta dalam kamus susunannya yang merupakan tonggak sejarah dalam perkamusan Indonesia menyebutkan bahwa Intelektual diartikan dengan “yang terpelajar (yang mempunyai kecerdasan tinggi) dan juga cendekiawan”. Menurut Azyumardi Azra insan intelektual dengan beberapa kualifikasi yang telah disebutkan di atas bukanlah monopoli produk sekolah atau lebih khusus lagi, perguruan tinggi. Tidaklah aneh, jika banyak pula terdapat kaum intelektual yang bukan merupakan hasil pendidikan formal. Mereka belajar dan mengembangkan pikiran sendiri (autodidak) sehingga mencapai kemampuan pemikiran dan perilaku intelektual. Sebaliknya, sebagian besar jebolan pendidikan formal tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan intelektual. Mereka lebih tepat disebut kaum intelegensia atau orang-orang terdidik, sebab sebagai produk perguruan tinggi mereka telah menerima pendidikan yang membuat mereka mampu memegang pekerjaan sesuai dengan bidang dan profesi ilmunya.

Intelektual berbeda dengan intelegensi (kaum terpelajar); akademisi tak selalu intelektual. Kebanyakan intelegensi hanya cenderung mencari jawaban konkret atas suatu problem saja, namun intelektual lebih kepada menelaah dunia makna dan nilai, dan inti kebudayaan. Kalangan intelektual dikenal dengan jati dirinya sebagai pengawal budaya; menjaga ide-ide abstrak seperti kebenaran dan keadilan sebagai aturan/standar moral kehidupan dalam masyarakat agar tetap sesuai dengan ide dan sumber ideologi (syari‟at).

Berbicara tentang pembinaan karakter intelektual, Islam telah melandasi sejak awal, bahwa Islam akan dapat dicerna lebih sempurna oleh orang-orang yang berpengetahuan yang dalam dan berwawasan yang luas, sebaliknya orang yang bodoh kurang dapat diharapkan menjadi manusia/ muslim yang tangguh. Dalam akidah sebagai unsur agama yang paling esensial, ditegaskan dalam beriman diperlukan hujjah dan alasan, sekalipun berupa pembuktian global yang rasional. Adapun bukti otentik yang tidak dapat dibantah, pertama kali Nabi Muhammad menerima wahyu adalah berupa perintah untuk belajar.

Membangun Masyarakat Madani

Berdasarkan peran intelektual dalam membangun masyarakat yang ideal, jelas bahwa mereka harus memiliki integritas. Integritas itu sendiri mengandung arti kepaduan dan keutuhan pribadi. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang pada dirinya terpadu dan bersatu antara kata dan perbuatan. Ini berarti orang yang ingin memiliki integritas tinggi harus menjauhkan diri dari segala unsur kemunafikan.

Pada dasarnya tanggung jawab seorang intelektual adalah membangkitkan dan membangun masyarkat madani, bukan memegang kepemimpinan politik negara. Jika masyarakat dapat dibangun dan dibimbing secara benar dia akan dapat melahirkan pahlawan-pahlawan tangguh untuk memimpin dan membimbing masyarakat. Dengan kata lain tanggung jawab seorang intelektual lebih berat dari seorang pemimpin politik atau negara karena yang menciptakan pemimpin politik/negara adalah berbah bimbingan para intelektual itu sendiri yang salah satunya adalah memalui pembinaan karakter.

Peranan pembangunan masyarakat madani oleh kaum intelektual berbeda untuk setiap kondisi, tergantung kondisi umat yang dibangunnya. Inteletual dari suatu masyarakat terjajah terutama bertanggung jawab untuk menciptakan kesadaran kolektif guna melawan kolonil dan membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan. Seorang intelektual haruslah mengetahui bagaimana cara berhubungan dengan kumpulan massa dan mengentahui cara-cara agar orang-orang mengahadiri dan mendengarkan perkataannya. Kekurangan komunikasi antara umat/publik dengan kaum intelektual akan memberikan jurang pemisah di antara keduanya, yang pada akhirnya akan berdampak pada tidak didengarkannya perkataan sang intelektual tersebut.

Oleh karena itu muncul pertanyaan bagaimana kita dapat menemukan format peranan serta pola pembinaan karakter intelektual Aceh dalam pembangunan masyarakat madani? Pembinaan karakter dan peranan intelektual dalam pembangunan menuju masyarakat madani hampir tidak dapat dipisahkan dari usahanya, dalam kehidupan yang dinamik. Melalui pembinaan karakter, peran intelektual ditunut untuk tidak menjadi penonton tetapi lebih dari itu. Jika tidak maka ia tidak akan mampu mengeluarkan dirinya sendiri dan masyarakat dari penjara-penjara yang menghambat kepada kemajuan daerah, bangsa dan negara.

34 posts

About author
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Articles
Related posts
Opini

SUDAH TAPI BELUM; analisis linguistik

2 Mins read
Opini

Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Laki-laki untuk Kepemimpinan Keluarga

3 Mins read
Opini

Empat Makanan yang Kerap Ditemui Saat Hari Raya Idul Adha

3 Mins read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *