Opini

Kualitas Pendidikan Indonesia yang Kurang Merata

3 Mins read

Sejuk.ID Pendidikan merupakan aset yang sangat berharga yang harus dimiliki, baik untuk kepentingan pribadi, maupun negara. Sikap yang harus diambil untuk menindaklanjuti hal ini sangatlah penting, mengingat tingkat pendidikan di Indonesia sendiri yang jauh dari kata sempurna. Kualitas pendidikan seiring berjalannya waktu kian memburuk. Terutama dalam hal kurangnya pemerataan pendidikan Negara Indonesia. Sementara itu, Indonesia merupakan negara berpendidikan.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa pendidikan sangat penting bagi Negara dan masyarakat. Kualitas pendidikan menjadi sorotan dalam kualitas masyarakat sendiri. Semakin kualitas pendidikan maju maka semakin maju negara tersebut. Pemerataan pendidikan yang kurang biasanya terjadi pada daerah-daerah terpencil. Hal ini membuat masyarakat Indonesia yang seharusnya dalam usia sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan yang diharapkan.

Kurangnya sarana, prasana dan tenaga pendidik menjadi faktor utama dalam masalah kurangnya pemeretaan pendidikan di Indonesia. Tidak hanya itu faktor ekonomi bisa menjadi pemicu kurangnya kualitas pendidikan, contohnya masyarakat yang kurang dalam ekonomi hingga akhirnya putus sekolah demi membangun ekonomi keluarganya, karena hal ini dibuktikan dengan semakin lemahnya perekonomian, semakin sulit mencari sekolah. Memang, sekolah dengan fasilitas yang memadai, guru yang berkualitas, dan sekolah dengan layanan penuh membutuhkan banyak biaya. Sehingga, sangat sulit bagi mereka yang kurang mampu atau yang tinggal di daerah tertinggal.

Menurut Education For All Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahun dan berisi hasil pemantauan pendidikan dunia, dari 127 negara, Education Development Index (EDI) Indonesia berada pada posisi ke-69. Indonesia kalah dibandingkan Malaysia (65) dan Brunei (34).

Berdasarkan data Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, jumlah Penduduk Indonesia mencapai 272,23 juta jiwa pada Juni 2021. Berdasarkan jenjang pendidikannya, sebanyak 59,19 ribu jiwa atau hanya 0,02% penduduk Indonesia yang berpendidikan hingga jenjang S3. Kemudian, sebanyak 822,47 ribu jiwa atau 0,03% penduduk yang berpendidikan hingga S2. Lalu, penduduk yang berpendidikan hingga S1 sebanyak 11,58 juta (4,25%). Selanjutnya, penduduk yang menempuh pendidikan jenjang D3 sebanyak 3,46 juta jiwa (1,27%), serta berpendidikan D1 dan D2 mencapai 1,15 juta jiwa (0,42%). Total, sebanyak 17,08 juta jiwa (16,7%) penduduk Indonesia yang berpendidikan hingga ke Perguruan Tinggi.

Sementara itu, total penduduk yang berpendidikan hingga sekolah lanjutan pertama dan atas sebanyak 95,82 juta jiwa (35,2%). Secara rinci, penduduk yang berpendidikan hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) mencapai 56,15 juta jiwa (20,63%) dan yang berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak 39,67 juta jiwa (14,57%). Sedangkan yang tamat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 64,84 juta jiwa (23,82%). Sebanyak 31 juta jiwa (11,39%) penduduk yang belum tamat SD, serta 63,49 juta jiwa (23,32%) yang tidak atau belum sekolah.

“Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dibutuhkan di kota-kota besar, tetapi juga di kota kecil dan tidak hanya di Jawa tetapi diluar Jawa. Apabila perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, maka tidak hanya kuantitas yang besar melainkan kualitas kesejahteraan masyarakat pun lebih baik sehingga mendukung pembangunan ekonomi di Indonesia yang lebih baik,” ujar Shafiq Pontoh, Head of Brand and Business Development Salingsilang dan Praktisi Social Media Campaign, salah satu pendukung Gerakan Indonesia Berkibar yang juga menjadi pembicara pada acara Talkshow Guruku Pahlawanku, Lentera Abad 21 di Makassar, pada Kamis (13/9/2012).

Melihat Pendidikan di Indonesia yang tentunya jauh dari ekspektasi, dengan banyaknya penduduk, berbagai macam ras, suku dan kebudayaan, serta ciri khas yang sangat beragam, apakah membuat kita terutama pemerintah disana buta akan hal pendidikan ini, tentu saja disamping banyaknya dan beragamnya kelebihan dalam bidang lain. Pendidikan harusnya menjadi prioritas utama dalam membentuk negara untuk lebih maju dalam berbagai hal.

Adanya pendidikan membuat segala argumen, ide-ide, kritik, saran menjadi sangat bermutu untuk membangun negara. Namun, jika dilihat dari kualitas negara ini sendiri dalam hal pendidikanya masih belum terpantau dengan baik, apalagi masyarakat yang tinggal di tempat-tempat terpencil, jauh dari pantauan dan tidak diperhatikan, sehingga mereka tidak dapat menikmati pendidikan yang cukup.

Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua, akan pentingnya akses yang dapat dicapai oleh seluruh warga negara Indonesia untuk mengakses pendidikan dimanapun mereka berada. Sebuah solusi dari permasalahan ini sangat diperlukan dan berbagai tindakan harus cepat dilakukan, mengingat hancurnya suatu negara juga dapat terlihat dari manusianya yang kurang dalam hal pendidikan.

Dalam menyikapi tingkat pendidikan di Indonesia, seharusnya pemerintah dapat mengambil tindakan yang cepat dan akurat, serta harus bersifat sangat peduli kedalam konteks ini. Karena, adanya pendidikan yang baik tentu membuat warga negaranya menjadi bermutu juga, tak terkecuali di tempat tempat terpencil, karna kita juga tahu negara ini terdiri dari banyaknya pulau pulau terpencil, bukan hanya pusat kota atau pusat pemerintahan yang harusnya diperhatikan. Tetapi juga pemerintah harus memperhatikan daerah-daerah terpencil, sehingga tidak adanya istilah kecemburuan sosial yang terjadi antara berbagai pihak.

Pengadaan beasiswa atau sekolah gratis seharusnya diperbanyak dan diperuntukkan hanya untuk anak-anak yang berprestasi, namun kepada keluarga kurang mampu juga harus menjadi prioritas. Untuk mengetahui keadaan masyarakat yang sedemikian rupa, peran pemerintah harusnya dapat terlihat dengan mengirimkan utusan atau terjun secara langsung untuk meninjau masyarakat yang tidak mampu tersebut, sehingga negara yang berkeadilan dapat benar-benar terlaksana atau terealisasikan, bukan hanya sebagai wacana atau dasar negara saja.

Penulis : Robbi Wahyu Izzati (Mahasiswa Semester I Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang)

660 posts

About author
Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama.
Articles
    Related posts
    Opini

    Seni Menyikapi Kabar Media Melalui Teori Dromologi Paul Virilio

    3 Mins read
    Opini

    Krisis Giat Remaja Masa Kini Hingga Muncul Istilah Remaja Jompo

    3 Mins read
    Opini

    Realitas Gelap Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat

    4 Mins read

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *