SEJUK.ID – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), berkolaborasi dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) MTs Muhammadiyah 1 Malang (Matsamutu), sukses menyelenggarakan kegiatan sosialisasi anti-bullying. Acara yang digelar pada Jumat (12/9/2025) ini mengusung tema “Menghentikan Bullying, Membangun Persahabatan Sehat untuk Sekolah yang Nyaman dan Harmonis.”
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah, serta bimbingan langsung dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Sunarto, M.Ag., dan Guru Pembimbing Lapangan (GPL) Abdul Wahid, M.Pd. Keduanya menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa PKL tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam membentuk budaya sekolah yang sehat dan berkarakter Islami.
Masa remaja, khususnya pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs), merupakan fase penting dalam pembentukan kepribadian siswa. Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga sedang membangun identitas diri, pola pergaulan, serta keterampilan sosial. Namun, dalam proses tersebut, sering kali muncul perilaku menyimpang seperti bullying atau perundungan.
Perundungan yang dapat berbentuk verbal, fisik, maupun digital melalui media sosial berpotensi menimbulkan dampak serius, mulai dari hilangnya rasa percaya diri, menurunnya motivasi belajar, hingga terganggunya kondisi psikologis korban. Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang (rahmah), ukhuwah (persaudaraan), serta sikap saling menghormati. Sebagai sekolah berbasis Islam, MTs Muhammadiyah 1 Malang memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan harmonis. Sosialisasi ini pun menjadi langkah nyata dalam memberikan edukasi kepada siswa, khususnya kelas VIII, agar mereka memahami dampak buruk bullying sekaligus cara pencegahannya.
Acara berlangsung dengan antusias. Siswa-siswi kelas VIII diajak mengikuti serangkaian kegiatan yang dikemas secara variatif agar tidak membosankan. Dr. Sunarto, M.Ag., memberikan ceramah interaktif mengenai pentingnya menghargai sesama, membangun persahabatan, dan menanamkan nilai ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, siswa menganalisis contoh nyata peristiwa bullying melalui studi kasus dan berdiskusi untuk menemukan solusi yang Islami serta humanis. Tak hanya itu, sebuah simulasi drama juga digelar, menggambarkan situasi perundungan di sekolah. Dari simulasi tersebut, siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga belajar langsung bagaimana merespons bullying dengan tepat.
Metode kombinasi itu menjadikan sosialisasi lebih hidup dan mudah dipahami. Para siswa terlihat aktif dalam sesi tanya jawab, menunjukkan tingginya ketertarikan mereka terhadap isu yang diangkat. Menurut Abdul Wahid, M.Pd., kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal membangun kesadaran siswa agar lebih peka terhadap lingkungan sosial. “Kami berharap siswa tidak hanya memahami materi ini secara teori, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Sunarto, M.Ag., menegaskan bahwa pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan pendidikan akademik. “Bullying bukan hanya merugikan korban, tetapi juga merusak nilai persaudaraan dalam Islam. Melalui kegiatan ini, kita ingin menumbuhkan generasi yang berakhlak mulia, saling menghormati, dan menghargai perbedaan,” tuturnya.
Para siswa mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut. Mereka merasa lebih memahami bahwa perundungan, sekecil apa pun bentuknya, dapat menimbulkan dampak buruk bagi teman sebaya.
Dengan terselenggaranya kegiatan sosialisasi ini, diharapkan seluruh siswa MTs Muhammadiyah 1 Malang, khususnya kelas VIII, mampu menjadi pionir dalam menciptakan lingkungan sekolah yang ramah, penuh kasih sayang, serta bebas dari tindak perundungan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara mahasiswa PKL, organisasi IPM, dan pihak sekolah dapat menghasilkan program edukasi yang bermanfaat serta berdampak positif. (*)


