SEJUK.ID– Menyambut Musyawarah Cabang (Musycab) Pimpinan Cabang IMM Kota Makassar, Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Agama Islam (PIKOM IMM FAI) Unismuh Makassar menegaskan kesiapan penuh untuk tidak sekadar hadir, tetapi juga menyuarakan arah baru gerakan yang lebih relevan, tajam, dan membumi.
Ketua Umum PIKOM IMM FAI, Hana Tuo, menegaskan bahwa IMM hari ini tidak cukup hanya berdiri di atas rutinitas organisasi. Diperlukan pembacaan yang jernih terhadap realitas, keberanian menyusun strategi jangka panjang, serta konsistensi dalam menghidupkan nilai-nilai dasar IMM sebagai gerakan dakwah, keilmuan, dan kemanusiaan.
“IMM bukan sekadar ruang administrasi kaderisasi. Ia adalah medan pergerakan ideologis yang harus dijaga ruh dan arahnya. Musycab ini bukan hanya soal siapa yang duduk, tetapi yang lebih penting adalah ke mana IMM hendak melangkah,” tegas Hana pada Senin (22/9/2025).
Empat Arah, Satu Gerakan
PIKOM IMM FAI hadir dengan gagasan terang: IMM harus dibangun di atas fondasi nilai yang kokoh dan strategi gerakan yang terukur. Empat poin utama yang diusung adalah:
-
Spiritualitas yang Menghidupkan
IMM tidak hanya bergerak, tetapi harus hidup dengan nilai. Ruh dakwah harus kembali menjadi energi utama, bukan sekadar pelengkap seremoni. -
Intelektualitas yang Mencerahkan
Gerakan tanpa nalar adalah agitasi kosong. IMM harus menjadi pelaku utama dialektika keilmuan, tidak hanya membaca buku, tetapi juga membaca zaman. -
Humanitas yang Membela
IMM tidak boleh netral dalam penderitaan. Kader harus berpihak pada kebenaran, keadilan, dan mereka yang terpinggirkan. -
Pergerakan yang Terarah
IMM ke depan harus dikelola dengan visi, bukan sekadar agenda. Militansi tanpa arah hanya menghasilkan kelelahan; arah tanpa strategi hanya menciptakan stagnasi.
IMM Harus Naik Kelas
PIKOM IMM FAI hadir dengan kesiapan penuh untuk memberikan kontribusi intelektual berupa gagasan strategis, merevitalisasi nilai-nilai dasar, serta memperkuat sinergi kolektif dalam gerakan.
Lebih dari itu, mereka berharap Musycab IMM Kota Makassar dapat melahirkan kepemimpinan baru yang tidak hanya memiliki kapabilitas struktural yang tangguh, tetapi juga kepekaan mendalam terhadap aspirasi dan kebutuhan umat.
Kepemimpinan yang diharapkan adalah kepemimpinan yang tidak semata-mata eksis di ruang formal, melainkan aktif terjun dan berinteraksi dengan dinamika sosial masyarakat. Kepemimpinan seperti inilah yang dianggap paling dibutuhkan oleh IMM saat ini. (*)


