SEJUK.ID – Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Dedi Mulyana, menegaskan pentingnya menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat melalui kegiatan literasi yang terintegrasi dengan perkembangan zaman. Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan Teduh Baca dalam rangka memperingati Bulan Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan di Istana Kepresidenan Yogyakarta, Rabu (17/9/2025).
Menurut Dedi, Istana Kepresidenan Yogyakarta atau dikenal sebagai Gedung Agung, memiliki nilai historis yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Gedung ini pernah menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia pada masa krusial tahun 1946, ketika ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta.
“Presiden Soekarno memimpin dari gedung ini, sedangkan Wakil Presiden Mohammad Hatta berkantor di gedung sebelah yang kini menjadi Markas Korem 072/Pamungkas. Di tempat ini pula, pada 3 Juni 1947, Jenderal Besar Sudirman dilantik sebagai Panglima TNI,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Gedung Agung juga menyimpan jejak penting lain, mulai dari kelahiran Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, hingga kunjungan tokoh-tokoh dunia seperti Ratu Elizabeth II, Paus Yohanes Paulus II, dan Kaisar Akihito.
“Gedung Agung adalah bagian dari lima istana kepresidenan yang dimiliki Republik Indonesia. Nilai sejarahnya amat tinggi, namun kini kami juga ingin menghidupkan fungsinya sebagai pusat literasi dan pembelajaran publik. Melalui Teduh Baca 2025, kami mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk datang ke perpustakaan. Dengan membaca, ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan akan bertambah, sehingga SDM Indonesia lebih unggul. Literasi tidak boleh tertinggal, tetapi harus sejalan dengan perkembangan teknologi,” tegasnya.
Pengelola Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta, Arbiyanti Mahanani, menjelaskan bahwa Teduh Baca 2025 merupakan penyelenggaraan perdana yang dipersiapkan khusus dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan.
Semula kegiatan dijadwalkan pada 14 September, tepat pada momentum peringatan, tetapi karena bertepatan dengan hari libur nasional, pelaksanaannya dialihkan ke 17 September.
“Minat masyarakat sangat tinggi. Hampir ratusan orang mendaftar, tetapi kami hanya bisa memilih 20 peserta terbaik. Hal ini dilakukan agar kegiatan berlangsung lebih khidmat, terarah, dan memberikan kesempatan peserta untuk benar-benar menikmati proses literasi,” jelasnya.
Teduh Baca diawali dengan program Istana untuk Rakyat (Istura), yaitu agenda kunjungan masyarakat ke Istana Kepresidenan Yogyakarta untuk menyaksikan langsung keindahan dan kemegahan bangunan bersejarah ini. Peserta dipandu berkeliling mengenal ruang-ruang bersejarah seperti Ruang Garuda, Ruang Sudirman, Ruang Diponegoro, Museum, hingga Ruang Jamuan VVIP yang menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa.
“Setelah Istura selesai, peserta diarahkan ke Taman Serambi Museum Istana untuk mengikuti sesi Teduh Baca. Di sini mereka tidak hanya membaca, tetapi juga berdiskusi, berbagi pengalaman literasi, serta bergabung bersama para pegawai Gedung Agung yang turut serta dalam suasana kebersamaan membaca. Kami ingin agar kegiatan ini menumbuhkan semangat literasi yang hangat, inklusif, dan berakar pada sejarah bangsa,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Athiful Khoiri dinobatkan sebagai Peserta Terbaik Teduh Baca 2025. Ia menegaskan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan pengetahuan, tetapi juga ruang yang menyalakan inspirasi dan harapan bagi masyarakat.
“Hari Kunjung Perpustakaan merupakan pengingat akan pentingnya peran perpustakaan dalam kehidupan masyarakat, terutama sebagai sumber pengetahuan, perkembangan pendidikan, dan penguatan literasi,” ujarnya.
Athiful menuturkan bahwa pengalaman mengikuti Teduh Baca di Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta menghadirkan makna tersendiri.
“Di balik rak-rak bukunya tersimpan energi yang memicu imajinasi, membuka jendela menuju dunia luas, sekaligus menyalakan inspirasi untuk terus belajar dan berkontribusi. Membaca di Istana ini membuat kita semakin sadar bahwa literasi adalah jalan untuk meningkatkan kualitas hidup dan menyalakan harapan bagi masa depan,” tuturnya.
Dengan terpilihnya Athiful Khoiri sebagai peserta terbaik, Teduh Baca Istana Kepresidenan Yogyakarta tidak hanya menegaskan pentingnya literasi, tetapi juga menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa. Sejarah yang hidup di Gedung Agung bersanding dengan semangat baru dalam literasi, menghadirkan ruang yang mendidik, menginspirasi, dan membangun optimisme generasi penerus bangsa. (*)


