Ragam

Si Kusir yang Mendadak Jadi Wali

4 Mins read

Oleh: Agiel Laksamana Putra*

Ini adalah momen yang berhasil kami abadikan ketika kami berkunjung ke Qom, kota yang dianggap suci kedua di Iran setelah Mashad. Tapi, tulisan selanjutnya bukan cerita perjalanan kami di Qom. Cerita lain yang penuh makna, momen-momen perbincangan kami di setiap sela-sela makan malam.

Senja perlahan beranjak pada peraduannya, angin Persia berhembus, kadang pelan, kadang juga kencang. Suhu udara saat ini 24° C. Dingin diluar panas didalam—mungkin juga—penanda musim semi telah datang. Petang itu, jam menujukkan pukul 19.04 waktu Tehran. Penanda maghrib telah datang (satu jam lebih lambat dari waktu Indonesia). Notifikasi di layar gawai membawa kami pada seruan “makan malam”. Ya, adzan maghrib bagi kami, bukan hanya penanda datangnya waktu sholat—tapi juga—jatah makan malam hampir terlewat.

Kami tinggal di asrama kampus, salah satu fasilitasnya ialah jatah makan malam. Waktu yang diberikan untuk kami ambil ‘jatah’ itu ditentukan sedari jam 18.00 sampai jam 19.30 waktu setempat. Biasanya, kami ambil jatah itu mendekati waktu maghrib, atau kadang juga, setelah sholat.

Kami tak pernah membiarkan makan malam begitu sunyi. Bahkan hampir tidak ada malam yang sepi dari perbincangan duniawi atau sekedar humor-humor tentang kaum beragama. Apalagi setelah perut terisi, bak mesin kendaraan yang siap dipacu setelah mengisi tangki.

Di sela-sela makan, ada satu kisah humor yang diceritakan oleh Redi, salah satu dari kami. Kisah tentang “Tukang becak yang mendadak jadi wali”. Kisah ini muncul, sebab obrolan kami menyoal syarat seseorang jadi imam sholat. Dari sini kisah wali ini dimulai.

….

Disebuah desa terpencil, ada sebuah masjid berdiri. Jamaahnya adalah orang-orang dengan mayoritas kurang dalam ilmu beragama. Jangankan belajar ilmu agama, sholat berjamaah satu shaf penuh saja jarang-jarang. Tak ada waktu, sebab kesehariannya diladang, beberapa juga jadi buruh perkebunan. Ada satu ustad, sudah cukup bagi mereka. Ya, satu-satunya ustad yang biasa jadi imam sholat masjid desa itu.

Hari itu, pak kusir sedang bekerja. Bukan kuda yang ia kendarai, melainkan becak. Ia baru saja selesai mengantar penumpang di salah satu pesantren, tak jauh dari desa tadi. Karena sudah masuk waktu sholat maghrib, ia bergegas ke masjid. Namun, masjid yang ia temui belum ada tanda-tanda sholat di mulai. Padahal, adzan berkumandang sudah 10 menit berlalu.

Jamaah bingung, sebab imam tak kunjung datang. Ada tradisi yang tersebar luas dikalangan masyarakat desa itu, bahwa ada dua syarat sah untuk menjadi imam. Pertama, mereka yang bacaan quran nya baik, dan yang kedua, lebih tua. Ini syarat mutlak bagi warga desa, terlebih yang biasa berjamaah di masjid. Tak boleh diganggu gugat!

Ada syarat ketiga sebenarnya untuk dikatakan layak bagi mereka menjadi imam masjid, yaitu mereka yang pernah menempuh pendidikan di pesantren. Jamaah semakin gelisah, sebab tak ada dari mereka yang memenuhi syarat untuk menjadi imam. Mereka takut, sholat berjamaah tidak sah sebab tiga syarat tadi tidak terpenuhi.

Pak kusir yang telah selesai ambil wudhu, melangkahkan kaki masuk ke dalam masjid. Semua mata tertuju padanya, hingga salah seorang jamaah bertanya.

“Kamu, dari mana?”, tanya salah seorang jamaah.

“Saya dari pesantren”, jawab pak kusir.

Sontak senang, jamaah mendengar jawaban tersebut. Dengan memaksa, para jamaah menunjuk pak kusir untuk jadi imam sholat maghrib.

“Kalau begitu, kamu saja yang menjadi imam ya!”, sahut jamaah lainnya.

Pak kusir sadar, sepertinya ia salah menjawab pertanyaan tadi, atau, sepertinya jamaah yang salah paham. Tapi apa daya, ia tak bisa menolak tawaran menjadi imam. “Lurus, dan rapatkan shaf”, ucap pak kusir yang telah berdiri di sebelah mimbar, dan siap memimpin sholat berjamaah.

Dikumandangkannya takbir, alfatihah dibacakan dengan suara terbaiknya. Surat pendek, dipilihnya surat al ikhlas di rakaat pertama. Tibalah rukuk, saat dimana ia mulai gelisah. Ia baru ingat, setahunya, membaca surat alquran dalam sholat itu harus berurutan. Sialnya, selain al ikhlas, ia hanya hafal surat al kausar.

Rukuk berlalu, pak kusir memperlambat gerakan. Sholatnya sudah tak lagi khusyu’. Pikirannya dihantui dengan perasaan menyesal. Setidaknya dua hal yang ia sesali; menerima tawaran menjadi imam dan hafalan quran yang hanya dua surat pendek. Tak mungkin baginya—pengetahuannya tentang aturan dalam sholat—untuk mundur membaca surat al kausar di rakaat kedua.

Masuk waktu sujud kedua di rakaat pertama, keringat mulai mengucur deras. Tak mungkin juga untuknya menghentikan sholat dan mulai sedari awal. Hingga terlintas ide untuk pergi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dilihatnya semua jamaah masih khusyu’ sujud. Waktu yang tepat baginya untuk meninggalkan jamaah. Ia bergegas keluar, ditariknya becak yang ia parkir dan mengayuh keluar pergi dari area masjid sejauh dan secepat mungkin.

Lalu bagaimana dengan jamaah sholat? Karena dirasa lama sujud, salah seorang jamaah berinisiatif untuk menengok ke arah imam. Kosong, tak ada seorangpun! Akhirnya, ia kumandangkan takbir.

“Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Imam sudah tidak ada!”, ucap seorang jamah yang pertama kali melihat tak ada imam yang memimpin sholat mereka.

Kaget, Semua jamaah berdiri, seakan tak percaya, ditengoknya dengan mata kepala sendiri. Takbir tak henti-hentinya bergema, hingga salah seorang jamaah lainnya berteriak;

“Allahuakbar! Wali telah datang dan mampir pada kita!”, ucapnya mengakhiri gema takbir.

Seakan sepakat, semua jamaah kembali bertakbir untuk sholat maghrib sendiri-sendiri. Hingga saat ini, tak ada yang tau kebenaran tentang cerita wali tersebut. Dan kisahnya, selalu disebarluaskan di masyarakat luas, hingga ke masjid-masjid lainnya dan menjadi kisah yang dibanggakan sebab seorang wali (kekasih Allah dalam pandangan tasawuf) telah datang pada mereka.

…..

Kami tertawa mendengar akhir dari kisah tersebut. Tak terasa, makan malam telah habis kami lahap, tanpa sisa. Jadi ingat Albert Einstein, seorang ilmuwan Yahudi pernah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Penting memang punya skill, pengetahuan yang luas, sebab itu syarat untuk kita berpenghasilan. Tapi, mendengar kisah tadi, kita juga perlu belajar agama.

Refleksi kami, kisah tadi jadi pengingat. Bukan untuk mengatakan bahwa—menjadi wali Allah itu gampang, hanya perlu memimpin sholat jamaah lalu menghilang ketika sujud—tapi penting belajar ilmu agama, dari persoalan terkecil sekalipun. Sebab kita lahir dari masyarakat, dan akan kembali ke masyarakat.

*) Menteri SDM Ikatan Pelajar Indonesia Iran

639 posts

About author
Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama.
Articles
    Related posts
    Ragam

    Persatuan Ahli Farmasi Indonesia: Pejuang Kesehatan Sejak Proklamasi Kemerdekaan

    3 Mins read
    Ragam

    Ide Dekorasi Kamar Tidur yang Hemat Biaya dan Elegan

    1 Mins read
    Ragam

    Mengapa ISO 13485 Merupakan Kunci untuk Inovasi dalam Teknologi Medis?

    1 Mins read

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *