ArtikelOpini

Puasa Manusia dan Ketakwaan yang Sebenarnya

3 Mins read

(Sumber Gambar: Redaksi Sejuk.ID)

Puasa dalam bahasa Arab disebut shiyam. Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa “pada umumnya syiyam atau berpuasa berarti menahan”(Sayyid Sabiq, 1994 : 161). Adapun arti puasa menurut terminologi agama ialah “menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh semenjak waktu terbit fajar sampai waktu terbenam matahari dengan niat ikhlas dan mengharapkan keridhaan Allah SWT”(Rma Hanafi, 2010 : 74). Perintah puasa terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 183-187 yaitu sebagai berikut : Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Dari ayat diatas, sebagai landasan disyariatkannya berpuasa, maka dapat disimpulkan sebagai benang merah bahwa, ada 3 kata kunci yang penting untuk diuraikan lebih lanjut, seperti pada kalimat pertama berbunyi, “hai orang-orang beriman”. Kedua, “diwajibkan atas orang sebelum kamu”. Kemudian yang ketiga, sebagai tujuan akhirnya berpuasa adalah, “agar umat manusia bertakwa.

Yang pertama, ayat puasa dimulai dengan ajakan kepada setiap orang yang memiliki iman, walau seberat apapun, untuk sadar akan perlunya melaksanakan ajakan yang dimulai dengan panggilan mesra, “wahai orang-orang yang beriman” dilanjutkan dengan menjelaskan kewajiban puasa tanpa menunjuk siapa yang mewajibkannya, untuk mengisyaratkan bahwa apa yang akan diwajibkan ini sedemikian penting dan bermanfaat bagi setiap orang bahkan setiap kelompok, sehingga andaikata bukan Allah SWT yang mewajibkan, niscaya manusia sendiri yang akan mewajibkannya atas dirinya sendiri.

Yang kedua, dalam kajian sejarah agama, Abdul Wahid sebagaimana dikutip oleh Ali Ahmad al-Jarjawi menjelaskan bahwa “Puasa adalah ritual tertua dan terkenal yang dikenal oleh sejarah manusia. Tidak ada satu agama pun yang tidak mengenal dan tidak menjadikan puasa sebagai salah satu ritualnya. Syariat manapun yang dianut oleh umat manusia sepanjang perputaran sejarah, dulu dan sekarang. Tidak pernah terlepas dari ritual berpuasa. Semua umat menjadikan puasa sebagai salah satu ritual yang harus mereka lakukan. Namun yang berbeda hanyalah dalam hal pelaksanaannya berdasarkan perbedaan umat, syariat, dan latar belakang, dan factor penyebab yang menuntut untuk berpuasa”,(Ali Ahmad al-Jarjawi, 2006 : 225)

Ahmad Mushtafa al-Maraghi menjelaskan bahwa “Puasa ini sudah dikenal sejak bangsa mesir kuno. Selanjutnya meluas sampai ke Yunani dan Romawi. Orang-orang yang memeluk agama Hindu juga tetap melaksanakan ibadah puasa hingga saat ini. Di dalam kitab Taurat juga disebutkan puasa dan dipuji orang yang melakukannya, hanya tidak disebutkan wajibnya puasa. Tetapi Nabi Musa sendiri melakukan puasa selama 40 hari. Di dalam kitab Injil juga tidak ada nash yang menyebutkan wajibnya puasa. Tetapi disebutkan bahwa puasa itu merupakan salah satu jenis ibadah dan pujian terhadap ibadah ini. Puasa yang banyak dikenal oleh kaum Nasrani dan yang paling terdahulu dilakukan adalah puasa sebelum hari raya paskah, dan hari itu juga nabi Musa berpuasa, yang dilakukan oleh nabi Isa dan kaum Hawariyyun (para penolong nabi Isa). Dewan gereja telah mengadakan beberapa jenis puasa, yang antara lain terjadi perbedaan antara beberapa sekte”,(Ahmad Mushtafa al-Maraghi, 1984 : 124).

Yang ketiga, sebagai tujuan akhir berpuasa adalah agar manusia bertakwa, Sedikit memaparkan tentang “takwa”. Takwa secara harfiah, yaitu, memelihara diri. Karena orang-orang yang bertakwa ia akan memelihara dirinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh Allah. Menurut ulama, pengertian takwa adalah “menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang oleh Allah”. Jika manusia bertakwa dengan sebenar-benarnya maka akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki, kabahagiaan yang abadi dengan masuk ke dalam surga-Nya Allah.(Yususf Al-Qardhawy, Hidup Menjadi Taqwa, 2004, hal. 65).

Ziaudin Sardar mengartikan kata Takwa adalah ingatan, sebuah kesadaran mengenai kepastian, hakikat dan keberadaan allah yang dialami secara intelektual, spiritual, dan emosional. Takwa adalah kesadaran bahwa Allah, seperti yang dikatakan al-qur’an, lebih dekat dari urat leher. Dia mengetahui dan selalu mengetahui perbuatan, pikiran, dan niat kita. Tujuan petunjuk adalah mengajarkan manusia bagaimana menetapi kesadaran ini pada setiap langkah kehidupan kita. Takwa adalah momen batin, pengalaman yang hidup dari mengetahui sesuatu selain diri kita sendiri. Membangunkan kesadran diri, memahami sifat Allah, dan menjalankan hubungan baik yang didasarkan atas kesadaran ini, sesungguhnya merupakan pesan al-qur’an.(Ziudin Sardar, hal 142).

Dengan demikian, Berpuasa mewajibkan seseorang untuk tidak makan dan minum. Kita diperintahkan untuk tidak makan makanan secara umum, baik yang subtansinya hlal, apalagi yang haram. Lebih lanjut, kita diperintahkan untuk tidak mengonsumsi apa yang diharamkan atau yang diperoleh melalui cara yang haram. Berpuasa merupakan sarana bukan hanya untuk mendekatkan diri kepada allah, melainkan juga untuk mengetahui nilai penting dan makna sejati ketakwaan. Ketika puasa selesai ditunaikan, pencapaian spiritual dihadapkan pada tantangan baru: mengendalikan nafsu terhadap kesombongan, keserakahan, dan harta yang haram. Selain itu, ajaran berpuasa adalah suatu ajaran universal setiap agama-agama. Sebagai bagian insitusi agama, universalitas ibadah puasa sama degan ibadah lainnya seperti. Orang Yahudi berpuasa pada Yom Kippur, hari Tobat, salah satu hari paling suci dalam tradisi Yahudi. Kaum Hindu berpuasa selama beberapa hari dalam setahun, misalnya pada hari raya Durga navami, untuk menyucikan pikiran dan raga. Kaum Kristen mengamalkan Lent, yaitu menahan diri selama beberapa hari menjelang paskah. Pada hari-hari itu Kristus menganjurkan pengikutnya untuk berpuasa. Para Rahib Mount Athos, kaum ortodoks Yunani, berpuasa nyaris selama 200 hari dalam setahun.

Pada zaman Injil, berpuasa merupakan tanda dukacita, kesedihan, penderitaan atau tengah diancam bahaya. Al-qur’an menetapkan puasa sebagai suatu ibadah, baik secara individual maupun kolektif, yang harus dilaksanakan selama, ‘beberapa hari’. al-qur’an menekankan aspek moral dan spiritual dari berpuasa dan menyatakan bahwa tujuannya adalah ‘belajar mengendalikan diri’(ayat 183) dengan cara mengendalikan hawa nafsu. Berpuasa ditetapkan sebagai salah satu dari empat macam ibadah utama, yakni salat, berpuasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji.

34 posts

About author
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Articles
Related posts
ArtikelPendidikan

Pidato tentang Pendidikan: Membangun Masa Depan Melalui Pendidikan Berkualitas

2 Mins read
Opini

Seni Menyikapi Kabar Media Melalui Teori Dromologi Paul Virilio

3 Mins read
Opini

Krisis Giat Remaja Masa Kini Hingga Muncul Istilah Remaja Jompo

3 Mins read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *