NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Mengawali Tahun dengan Literasi: Bentuk Ikhtiar Merawat Cara Berpikir dan Bertindak

4 Mins read

Oleh: Noval Sahnitri, S.Pd., Founder Pustakaloka Cendekia Cabang Kota Metro dan Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam UM Metro

SEJUK.ID – Dunia digital saat ini hadir sebagai keniscayaan yang memberi pengaruh besar terhadap jati diri manusia. Hampir seluruh lapisan masyarakat mengalami ketergantungan terhadap teknologi, terutama gawai yang menemani aktivitas tanpa batas waktu. Di awal tahun, media sosial dipenuhi narasi refleksi dan resolusi dengan beragam sudut pandang. Digitalisasi pun benar-benar menghadirkan wajah dan warna baru dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Namun demikian, ketika digitalisasi tidak disikapi secara bijak, ia justru dapat menghadirkan kesenangan yang berlebihan. Kondisi tersebut perlahan berpotensi menurunkan kualitas cara berpikir dan bertindak. Aktivitas menggulir media sosial seperti TikTok, Instagram, Twitter, dan sejenisnya telah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Bahkan, kebiasaan ini sering kali menjelma sebagai hobi yang menyita perhatian.

Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat, khususnya di kalangan akademisi. Ada yang menerima kehadirannya sebagai kemudahan, namun ada pula yang menolaknya dengan berbagai pertimbangan etis. Perdebatan tersebut seolah menyerupai perbincangan hukum halal dan haram dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari itu semua, fenomena ini perlu disikapi secara serius oleh setiap individu.

Berbicara tentang literasi di Indonesia, berbagai data yang beredar menunjukkan posisi yang memprihatinkan. Laporan dari UNESCO dan Central Connecticut State University sering kali menempatkan Indonesia di peringkat bawah dalam hal literasi membaca. Padahal, dari sisi infrastruktur pendukung, Indonesia berada di atas sejumlah negara Eropa. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam meluruskan persepsi yang telanjur melekat di masyarakat.

Anggapan bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat literasi yang rendah belum tentu sepenuhnya benar. Menurut Muhammad Syarif Bando dalam bukunya Mitos tentang Literasi Masyarakat Indonesia, persoalan utama justru terletak pada keterbatasan jumlah buku. Ketersediaan bahan bacaan tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang besar. Akibatnya, minat baca yang sebenarnya tinggi tidak terfasilitasi secara optimal.

Baca Juga:  Muhammadiyah Menampilkan Islam Berkemajuan

Fakta menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia cukup baik, tetapi akses terhadap bahan bacaan masih sangat terbatas. Ketimpangan rasio ketersediaan buku antarwilayah dan antarpulau masih menjadi persoalan serius. Berdasarkan pengalaman pribadi penulis saat menggelar lapak baca di ruang terbuka, anak-anak usia TK hingga SD tampak antusias membaca buku. Hal ini menunjukkan bahwa potensi literasi sejak dini sesungguhnya sangat besar.

Sayangnya, potensi tersebut cenderung menurun ketika anak memasuki usia SMP hingga perguruan tinggi. Perkembangan era digital turut memengaruhi perubahan minat dan kebiasaan belajar. Meskipun setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda, literasi tetap menjadi fondasi penting. Tanpa literasi yang kuat, proses belajar berisiko kehilangan kedalaman makna.

Akses buku yang belum merata hingga ke akar rumput menjadi persoalan lanjutan. Selain itu, tidak semua pemangku kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah menjadikan literasi sebagai prioritas utama. Memang, di beberapa daerah telah hadir taman bacaan masyarakat dan komunitas literasi. Namun, keberadaan mereka belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Keterbatasan fasilitas, harga buku yang relatif mahal, serta minimnya regenerasi sumber daya manusia menjadi hambatan nyata. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak dapat dibereskan secara instan. Diperlukan kerja sama lintas sektor dan komitmen jangka panjang. Tanpa itu, gerakan literasi akan berjalan di tempat.

Terlepas dari berbagai persoalan tersebut, upaya memperkuat literasi tetap harus dilakukan. Perubahan besar memang sulit dicapai dalam waktu singkat. Namun, langkah kecil dapat dimulai dari diri sendiri. Kesadaran personal menjadi titik awal yang paling realistis.

Pendidikan tanpa literasi tidak akan memberikan makna yang signifikan dalam kehidupan. Seseorang yang hanya mengejar gelar tanpa kebiasaan membaca berpotensi tertinggal secara pemikiran dan tindakan. Bahkan, mereka bisa kalah dari orang yang tekun membaca meskipun tidak memiliki pendidikan formal tinggi. Tentu pernyataan ini tidak bersifat mutlak, tetapi patut menjadi bahan refleksi.

Baca Juga:  Muhammadiyah Berkarakter Moderasi Berkemajuan

Literasi memberikan wawasan yang luas dan beragam. Tidak semua pengetahuan harus dikuasai, sebab setiap orang dapat memilih sesuai minat dan ketertarikannya. Kebiasaan membaca akan mengembangkan kemampuan berpikir dan menyampaikan gagasan. Secara tidak sadar, hal ini juga memengaruhi sikap dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Selama bahan bacaan yang dikonsumsi bernilai baik dan relevan dengan profesi atau hobi, manfaatnya akan sangat terasa. Literasi membantu seseorang menjadi lebih bijak dalam bersikap. Ia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial. Dengan demikian, literasi berkontribusi pada pembentukan karakter.

Dalam konteks pemikiran Kuntowijoyo, literasi dapat dikaitkan dengan konsep humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk manusia yang utuh. Literasi menjadi sarana penting dalam proses tersebut. Melalui literasi, cara berpikir dan bertindak diarahkan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Humanisasi sejatinya sejalan dengan literasi sebagai proses memanusiakan manusia. Melalui membaca, menulis, dan berdialog dengan gagasan, seseorang belajar memahami realitas sosial. Literasi menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap perbedaan. Cara berpikir yang lahir pun menjadi reflektif dan beretika.

Liberasi juga sejalan dengan literasi sebagai alat pembebasan dari kebodohan dan hoaks. Di tengah derasnya arus digital dan algoritma media sosial, literasi mencegah manusia menjadi konsumen informasi pasif. Literasi mendorong sikap kritis dan mandiri dalam berpikir. Dari sinilah lahir tindakan yang sadar dan bertanggung jawab.

Sementara itu, transendensi menempatkan literasi sebagai jalan menuju kesadaran nilai dan spiritualitas. Aktivitas membaca dan belajar merupakan bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan ilmu, manusia memahami tujuan hidup dan tanggung jawab moralnya. Literasi pun membentuk tindakan yang bermakna dan bernurani.

Oleh karena itu, literasi menjadi elemen penting dalam dinamika kehidupan. Literasi berperan besar dalam menunjang keberhasilan pendidikan. Pendidikan yang ditopang literasi mampu mengubah cara pandang hidup seseorang. Setidaknya, seseorang yang berliterasi tidak lagi berada dalam ketidaktahuan.

Baca Juga:  Membangun Masyarakat yang Adil Melalui Politik dan Kebijakan Sosial

Sudah sejauh mana kita berliterasi dan berpendidikan patut menjadi pertanyaan reflektif. Pertanyaan ini penting untuk terus diajukan. Di tengah kemajuan teknologi, manusia tidak boleh kehilangan arah. Kesadaran berpikir dan bertindak harus terus dirawat.

Ikhtiar meningkatkan literasi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Upaya ini tidak boleh berhenti pada wacana semata. Literasi harus menjadi kebiasaan hidup. Dengan demikian, kualitas diri akan terus berkembang.

Mengawali tahun dengan literasi bukan sekadar menambah daftar bacaan. Ia merupakan ikhtiar merawat kejernihan berpikir dan keluhuran bertindak. Literasi adalah proses sepanjang hayat. Sudah semestinya literasi terus digaungkan dalam pendidikan, komunitas, dan kehidupan sehari-hari.

1150 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Trump Klaim Iran Menyerah: Retorika Kemenangan atau Realitas Geopolitik?

1 Mins read
Oleh: Dr. Emaridial Ulza, MA (Akademisi Associate Professor Uhamka, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri, Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri…
Opini

Mengerem Perilaku Mubazir

3 Mins read
Oleh: Ahmad Soleh SEJUK.ID – Kita sudah menjalani puasa Ramadan selama tujuh hari lamanya. Di awal-awal, pasti ada yang merasakan beratnya menjalani…
Opini

Menjaga Estafet Kaderisasi: IPM, Mahasiswa, dan Arah Transisi Gerakan

3 Mins read
Oleh: Anas Nur Fathoni, Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah Metro Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan PC IPM Metro Barat SEJUK.ID – Ikatan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *