Oleh: Annas Firmansyah, Aktivis Muhammadiyah
SEJUK.ID – Di tengah masyarakat modern, banyak orang menjalani hidup dengan satu tujuan tak tertulis: diterima. Kita diajarkan, secara halus maupun terang-terangan, bahwa penerimaan sosial adalah tanda keberhasilan hidup. Berbeda dianggap menyimpang, tidak disukai dipersepsikan sebagai kegagalan, dan penolakan sering kali melukai harga diri lebih dalam daripada kegagalan material.
Akibatnya, banyak individu hidup dalam kondisi kelelahan psikologis. Bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena mereka terlalu sering menyesuaikan diri. Hidup dijalani sebagai rangkaian peran, bukan sebagai ekspresi jati diri. Di titik inilah keberanian untuk tidak disukai menjadi relevan—bukan sebagai bentuk pembangkangan, melainkan sebagai usaha merebut kembali otonomi hidup.
Naluri Sosial dan Ketakutan akan Penolakan
Manusia adalah makhluk sosial. Keinginan untuk diterima bukanlah kelemahan, melainkan naluri dasar. Sejak awal peradaban, keterasingan dari kelompok sering kali berarti ancaman terhadap kelangsungan hidup. Oleh karena itu, ketakutan akan penolakan memiliki akar biologis dan psikologis yang kuat.
Namun, dalam konteks masyarakat modern, naluri ini sering kali berkembang menjadi ketergantungan. Penerimaan sosial tidak lagi sekadar kebutuhan, tetapi menjadi tolok ukur nilai diri. Setiap pilihan hidup—pendidikan, pekerjaan, gaya hidup, bahkan cara berpikir—diukur dari respons sosial. Ketika ini terjadi, manusia tidak lagi hidup sebagai subjek yang memilih, melainkan sebagai objek yang dinilai.
Alfred Adler dan Keberanian Menjadi Individu
Pemikiran Alfred Adler memberikan kerangka penting untuk memahami fenomena ini. Adler memandang manusia sebagai individu utuh yang bergerak menuju tujuan hidupnya sendiri. Ia menolak pandangan bahwa manusia semata-mata dikendalikan oleh masa lalu atau dorongan bawah sadar.
Salah satu konsep sentral Adler adalah perasaan inferior. Menurutnya, setiap manusia pasti pernah merasa kurang, tidak cukup, atau tertinggal. Perasaan ini bukan penyakit, melainkan motor perkembangan. Masalah muncul ketika perasaan inferior tersebut diselesaikan melalui pencarian validasi eksternal—pengakuan, pujian, atau status sosial.
Dalam kondisi ini, manusia tampak berhasil secara sosial, tetapi rapuh secara psikologis. Harga diri bergantung pada penilaian orang lain, sehingga sedikit kritik dapat terasa seperti ancaman eksistensial. Adler mengingatkan bahwa kesehatan mental tumbuh ketika individu berani berdiri sebagai dirinya sendiri, bukan ketika ia berhasil memenuhi seluruh ekspektasi sosial.
Budaya Perbandingan dan Nalar Instrumental
Masyarakat modern memperparah kondisi ini melalui budaya perbandingan. Media sosial, sistem meritokrasi sempit, dan logika produktivitas mendorong manusia untuk terus mengukur dirinya dengan orang lain. Nilai manusia direduksi menjadi pencapaian, angka, dan citra.
Dalam bahasa filsafat kritis, ini dikenal sebagai nalar instrumental: manusia dinilai berdasarkan kegunaan dan hasil, bukan sebagai pribadi yang utuh. Adler menolak cara pandang ini. Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki waktu, pengalaman, dan tujuan hidup yang berbeda. Hidup bukan perlombaan yang harus diseragamkan.
Perspektif Islam: Nilai Diri di Hadapan Tuhan
Ajaran Islam menawarkan kritik yang sangat tegas terhadap ketergantungan pada penilaian sosial. Al-Qur’an menyatakan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status, kekayaan, atau popularitas, melainkan oleh ketakwaan (QS. Al-Hujurat: 13). Dengan demikian, pusat nilai dipindahkan dari pengakuan manusia menuju kualitas batin.
Konsep ikhlas dalam Islam mengajarkan bahwa tindakan dan pilihan hidup tidak digantungkan pada pujian atau celaan manusia. Ketika seseorang hidup demi penilaian sosial, ia rentan terjebak dalam kepalsuan. Ia tampak baik di mata manusia, tetapi kehilangan kejujuran batin.
Pemikir Muslim seperti Al-Ghazali mengingatkan bahwa salah satu penyakit hati paling berbahaya adalah riya’—melakukan sesuatu demi dilihat dan dinilai orang lain. Dalam kondisi ini, manusia kehilangan orientasi hidupnya. Keberanian untuk tidak disukai, dalam perspektif Islam, justru menjadi bentuk kemerdekaan spiritual.
Kebebasan Internal dan Tanggung Jawab Pribadi
Baik dalam psikologi Adler maupun dalam ajaran Islam, kebebasan tidak pernah dipisahkan dari tanggung jawab. Berani tidak disukai bukan berarti hidup tanpa batas, menolak kritik, atau mengabaikan norma. Yang ditolak adalah ekspektasi yang merusak martabat, kesehatan mental, dan kejujuran diri.
Dalam tradisi filsafat, hal ini sejalan dengan ajaran Stoikisme. Tokoh seperti Epictetus menegaskan bahwa manusia tidak memiliki kendali atas penilaian orang lain, tetapi memiliki kendali penuh atas sikap dan responnya. Islam pun mengajarkan bahwa manusia tidak dibebani di luar kemampuannya, dan setiap individu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Dengan demikian, keberanian untuk berkata “tidak” pada tuntutan yang tidak relevan adalah bagian dari tanggung jawab moral, bukan bentuk egoisme.
Keberanian yang Sunyi namun Membebaskan
Melawan kemapanan bukan berarti menjadi anti-sosial atau menolak nilai bersama. Ia adalah usaha sadar untuk hidup jujur, merdeka, dan bertanggung jawab. Tidak semua orang harus menyukai kita, dan itu bukan kegagalan. Kegagalan justru terjadi ketika kita kehilangan diri sendiri demi penerimaan yang semu.
Dalam dunia yang semakin bising oleh penilaian, keberanian untuk tidak disukai mungkin terasa sunyi. Namun, justru di sanalah manusia menemukan ketenangan—baik secara psikologis maupun spiritual.


