NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
BeritaNasional

Luncurkan Jurnal, Maarif Institute Diskusikan Pemikiran Buya Syafii Maarif

2 Mins read

SEJUK.ID – MAARIF Institute bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta, menyelenggarakan acara peluncuran dan diskusi Jurnal MAARIF Vol. 18 No. 2 Desember 2023 dengan tema “Jalan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif: Dakwah Kultural, Puisi Kebangsaan dan Inspirasi Kemanusiaan”.

Acara yang bertempat di Aula Kasman Singodimejo Lt. 4 ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, antara lain: Prof. Dr. Syamsul Arifin (Rektor UMM), Abdullah Sumrahadi (Dosen di President University) Ka’bati (Kontributor Jurnal MAARIF) dan Moh. Shofan (Pimred Jurnal MAARIF). Acara ini dimoderatori oleh Lusi Andriyani (Kaprodi Magister Ilmu Politik FISIP UMJ)

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Dr. Ma’mun Murod, menyambut dengan sangat baik kerjasama peluncuran dan diskusi jurnal MAARIF ini. Menurut Ma’mun, Buya Syafii telah mewariskan keluasan ilmu pengetahuan serta sikap hidup etis, sederhana, dan teladan baik yang harus dijadikan cermin oleh anak anak bangsa hari ini. Utamanya dalam merawat isu-isu toleransi, keberagaman, dan pentingnya merekatkan persatuan.

“Tantangan bangsa Indonesia ke depan bukan semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Karena itu, komitmen Buya Syafii pada nilai-nilai substantif Islam yang diwujudkan dalam kepedulian dan keberpihakannya pada mereka yang terzalimi, harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya, ujar Ma’mun.

Sementara Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abd. Rohim Ghazali, dalam sambutannya mengatakan bahwa apa yang dikembangkan oleh MAARIF Institute selama 20 tahun terakhir ini, tidak lain merupakan ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. “Tema yang diangkat dalam jurnal ini juga menandai satu tahun wafatnya Buya Syafii, sekaligus menyambut dua dekade MAARIF Institute”, jelas Rohim.

Rohim menambahkan, “Buya Syafii sudah meninggalkan kita setahun yang lalu. Kita semua menjadi pewaris, bukan hanya pemikiran-pemikiran Buya Syafii yang sangat brilian dan kritis dalam menyoroti masalah-masalah bangsa, tetapi juga mewarisi keteladanan dan kesederhanaannya. “Komitmen Buya Syafii dalam menyoroti persoalan-persoalan keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan harus terus dihidupkan oleh anak-anak muda agar bangsa ini tidak oleng, seperti yang dikhawatirkan Buya Syafii”, ujar Rohim.

Baca Juga:  Maarif Institute dan Institute Leimena Gelar Webinar Internasional Bahas Peran Pemuda Kuatkan Toleransi

Narasumber pertama, Syamsul Arifin memaparkan bahwa Buya Syafii selama hidupnya menaruh perhatian pada pemikiran keislaman atau intelektualisme Islam yang ingin mempertautkan secara “dialektik-etik” antara Islam dengan keindonesiaan. Buya Syafii, menurutnya memiliki argumen yang kuat, yang bertolak dari pembacaan terhadap al-Qur’an, sejarah, dan konteks keindonesiaan bahwa Islam tidak perlu diletakkan secara “oposisi-biner” dengan realitas politik yang telah menjadi konsensus bangsa seperti Pancasila.

“Islam di Indonesia dalam pandangan Buya Syafii harus mewujud dalam performa sebagai “entitas etik” yang nantinya menjadi pilar bagi terwujudnya Indonesia berkeadaban”, tegas Syamsul.

Narasumber kedua, Abdullah Sumrahadi, mengatakan bahwa sosok Buya Syafii bukan hanya milik Muhammadiyah saja, namun sudah menjadi guru bangsa yang pemikiran-pemikirannya tentang keindonesiaan, keummatan dan kemanusiaan menjadi literatur utama dalam mengawal kemajuan bangsa. Pengajar di President University itu menambahkan bahwa nilai-nilai baik yang selama ini telah diwariskan oleh Buya Syafii harus menjadi cermin moral seluruh anak-anak bangsa di tengah kehidupan politik yang sangat pragmatis.

Sementara narasumber ketiga, Ka’bati, berpendapat bahwa Buya adalah salah seorang tokoh Islam moderat yang kuat menyuarakan hak kesetaraan bagi perempuan tampil menjadi pemimpin. Buya, lanjutnya, juga menentang ketentuan-ketentuan fiqh yang umumnya ditulis oleh laki-laki dan cenderung memainkan peran diskriminatif dan bias terhadap Perempuan. Karena itu, pemikiran Buya Syafii masih sangat relevan untuk ditransformasikan ke dalam sistem sosial Masyarakat sekarang ini.

Pimred Jurnal MAARIF, Moh. Shofan menyatakan bahwa secara umum Jurnal edisi Desember 2023 ini merefleksikan sekaligus menelaah secara kritis pemikiran Buya—terutama mengenai isu isu keummatan, kebangsaan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Sejumlah artikel dalam jurnal ini tidak lain merupakan ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Baca Juga:  Arsjad Rasjid: Kelahiran Muhammadiyah Jadi Awal Gerakan Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Acara peluncuran Jurnal MAARIF ini diikuti tidak kurang dari seratus peserta, baik dari kalangan akademisi, mahasiswa, aktivis, maupun masyarakat secara umum.

Related posts
BeritaDaerah

Regenerasi Kepemimpinan IPM Darul Hikmah Dimulai, Pengurus Baru 2026–2027 Resmi Dilantik

2 Mins read
SEJUK.ID – Pelantikan Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Hikmah periode 2026–2027 resmi digelar pada Kamis (16/4/2026)…
BeritaDaerah

Muscab PPP Kab, Bima: Muh. Erwin Tegaskan Peluang Rebut Panggung Politik Daerah

2 Mins read
SEJUK. ID – Bima, 15 April 2026 – Musyawarah Cabang (Muscab) ke-X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bima yang digelar di Aula…
BeritaNasional

Peluang Suntikan Dana Rp5–8 Miliar, SUMU Pertemukan Brand D2C dengan Investor Strategis

2 Mins read
SEJUK.ID – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) terus memperkuat komitmennya dalam membuka akses permodalan sekaligus memperluas jejaring strategis bagi para anggotanya. Salah satu…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *