NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Dulu Dipingit Feodalisme, Sekarang Dipingit Dresscode

2 Mins read

Oleh: Renci

SEJUK.ID – Ketika sosial media dipenuhi dengan instastory mengenakan kebaya, artinya kita sedang merayakan Hari Kartini. Momentum tahunan setiap April ini memang kerap menampilkan keanggunan perempuan melalui pakaian yang dikenakan.

Jika kembali membaca sejarah, gagasan besar R.A. Kartini adalah spektrum perlawanan atas marginalisasi yang terjadi kepada perempuan di era kolonial. Terjadi gap dengan semangat hari ini. Gerakan yang berawal dari keresahan “seberapa kritis perempuan berpikir”, berubah menjadi “seberapa anggun perempuan tampil.”

Tidak ada yang salah dari perayaan lomba fashion show, lomba sanggul, atau lomba paling ‘ayu’, tapi kita juga perlu ingat bahwa semangat emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini tidak berangkat dari hal itu. Estafet nilai Kartini yang perlu disalurkan untuk generasi hari ini adalah keberanian untuk tetap berpikir meski kita berada ditengah lingkungan yang ‘nyuruh’ kita diam.

Value yang dibawa Kartini seharusnya dirawat melalui lembaga pendidikan, edukasi nonformal maupun narasi. Kita tidak seharusnya terus menerus terjebak dalam perayaan seremonial semata. Jika dulu ketika dipingit Kartini justru menjadi perempuan yang gila baca, bagaimana dengan hari ini? Akses pengetahuan mudah didapatkan, tapi generasi penerus memilih untuk rebahan scroll media sosial.

Pingitan tidak berhasil mengurung otak Kartini. Pola yang sama bisa juga kita perjuangkan hari ini, jika dulu musuh Kartini adalah feodalisme, hari ini kita sedang berperang dengan kemalasan intelektual. Dan kita bisa membentuk generasi yang memiliki semangat gila ilmu seperti Kartini, apabila peringatan Kartini dimaknai lebih esensial.

Kartini mengajarkan perempuan untuk melawan. Hal ini bukan berarti perempuan diajak untuk membenci laki-laki, sebab poin yang tersirat dari perjalanan perjuangan Kartini adalah emansipasi yang bertumpu pada kesalingan. Kartini tidak mengajak perempuan untuk perang gender, melainkan dia mengajarkan kepada kita (baik laki-laki dan perempuan) bahwa perubahan itu butuh sekutu. Kartini sedang mengajak laki-laki untuk berjalan selaras, ‘bareng.’

Baca Juga:  Pentingnya Aktor Intelektual Membebaskan Masyarakat

Nilai yang harus dirawat dari hal tersebut adalah perlawanan menggunakan argumen. Tentu kita tidak lupa bahwa Kartini juga penulis. Dirinya membahas poligami, feodalisme, pendidikan bahkan birokrasi kolonial semata-mata adalah aktualisasi dari pemikirannya yang ingin memerangi kemiskinan pembodohan, bukan untuk menjatuhkan.

Perjuangan Kartini juga tidak sesederhana ingin mengganti status dari “perempuan tidak boleh mengakses pendidikan” menjadi “perempuan boleh mengakses pendidikan”. Lebih dari itu, dobrak akses pendidikan yang dilakukan oleh Kartini adalah untuk menjadikan perempuan lebih berakal. Hari ini memang akses pendidikan terbuka lebar untuk perempuan, tapi apakah keterbukaan akses tersebut benar-benar sudah selesai membentuk manusia yang berpikir dan berakal?

Estafet perjuangan Kartini yang bisa diturunkan kepada generasi hari ini adalah keberanian intelektual. Berangkat dari keberanian Kartini bertanya “Kenapa perempuan gak boleh sekolah?” Barangkali kita juga harus berani bertanya kepada diri kita mulai dari hal sederhana. “Kita sepakat dengan suatu pernyataan karena memang kita berpikir dan melalui proses analisis, atau setuju karena rame yang mengatakan itu?”

Hari Kartini tahun ini, seharusnya bisa membuka kesadaran bahwa kita boleh merayakan dengan kebaya atau seremonial lainnya, tetapi kita juga tidak boleh meninggalkan nilai penting yang perlu dirawat dan disampaikan kepada anak didik dan penerus generasi. Disamping kita membiasakan mengenakan kebaya, kita juga perlu merawat perjuangan Kartini.

Jangan sampai perayaan setiap April justru kehilangan makna yang sesungguhnya. Kartini ingin perempuan memiliki akal yang merdeka. Jika lembaga pendidikan hanya fokus pada nilai berkebaya, itu sama saja kita berbalik pada pola lama. Sama-sama dipingit, bedanya jaman dulu lebih eksplisit, hari ini dibungkus dengan apresiasi.

Jadi, selamat hari kartini dan merayakan perjuangannya. Perjuangan yang tidak hanya sekadar kebebasan untuk memilih baju, tapi lebih ke bagaimana kita memiliki kemerdekaan untuk menentukan jalan hidup. Perjuangan yang bukan berkisar soal kebaya warna apa, melainkan sudah seberapa jauh kita berpikir, membaca. Semoga, setelah perayaan 21 April ini selesai, kita juga tidak selesai mikirnya. (*)

Baca Juga:  Kemiskinan Akibat Hutang Negara

1156 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Trump Klaim Iran Menyerah: Retorika Kemenangan atau Realitas Geopolitik?

1 Mins read
Oleh: Dr. Emaridial Ulza, MA (Akademisi Associate Professor Uhamka, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri, Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri…
Opini

Mengerem Perilaku Mubazir

3 Mins read
Oleh: Ahmad Soleh SEJUK.ID – Kita sudah menjalani puasa Ramadan selama tujuh hari lamanya. Di awal-awal, pasti ada yang merasakan beratnya menjalani…
Opini

Menjaga Estafet Kaderisasi: IPM, Mahasiswa, dan Arah Transisi Gerakan

3 Mins read
Oleh: Anas Nur Fathoni, Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah Metro Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan PC IPM Metro Barat SEJUK.ID – Ikatan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *