SEJUK.ID – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Tulungagung kembali menggelar forum rutin “Ngaji dan Sinau Bareng” melalui Kopdar Februari #5 bertema Bisnis Gacor di Bulan Ramadan yang diikuti pelaku UMKM, pengusaha lokal, dan masyarakat umum di Griya Sakti – Rumah Aspirasi, Sabtu (14/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB itu menghadirkan Ilham Khoiruddin Fatoni, analis bisnis sekaligus praktisi riset pasar, sebagai narasumber utama. Ia memaparkan analisis berbasis desk research mengenai proyeksi ekonomi 2026, potensi konsumsi selama Ramadan, serta strategi agar usaha tetap tumbuh di tengah perubahan perilaku pasar.
Daya Beli Dinamis, Strategi Harus Realistis
Ilham menekankan pentingnya pelaku usaha memahami kondisi daya beli masyarakat yang masih fluktuatif. Menurut dia, mayoritas rekening tabungan masyarakat Indonesia berada di bawah Rp100 juta, yang menunjukkan ketahanan finansial rumah tangga relatif terbatas.
“Pelaku usaha perlu realistis membaca kondisi pasar. Daya beli belum sepenuhnya kuat, sehingga strategi harus menyesuaikan prioritas konsumen yang kini semakin selektif, terutama pada kebutuhan tersier,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai Ramadan tetap menjadi periode dengan perputaran ekonomi signifikan. Pola tahunan menunjukkan peningkatan aktivitas belanja menjelang Idulfitri, terutama pada kebutuhan konsumsi harian.
“Ramadan selalu menghadirkan peluang besar. Namun, pelaku usaha tidak bisa hanya mengandalkan efek musiman. Persiapan harus dilakukan sejak awal agar momentum ini benar-benar menghasilkan pertumbuhan,” katanya.
Perilaku Belanja Omnikanal
Ilham menjelaskan, lebih dari separuh masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran selama bulan puasa, khususnya untuk makanan, bahan masakan, dan kebutuhan rumah tangga. Ia juga menyoroti pergeseran perilaku belanja menuju sistem omnikanal.
“Konsumen kini tidak terpaku pada satu kanal. Mereka bisa melihat produk secara daring lalu membeli di toko fisik, atau sebaliknya. Karena itu, bisnis harus hadir terintegrasi di berbagai kanal dengan pengalaman yang konsisten,” jelasnya.
Strategi Produk dan Promosi
Peserta juga diajak memahami pengelolaan portofolio produk melalui pendekatan analisis seperti BCG Matrix untuk menentukan prioritas pengembangan. Selain itu, dibahas fenomena belanja impulsif yang kerap dipicu promo, diskon, gratis ongkos kirim, hingga momentum tanggal kembar.
“Promo efektif menarik perhatian, tetapi harus dihitung cermat agar tidak menggerus margin. Strategi ideal adalah mengombinasikan promosi dengan perencanaan stok, harga kompetitif, serta komunikasi pemasaran yang relevan,” tambah Ilham.
Forum Kolaborasi Pelaku Usaha
Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Selain menerima materi, pelaku usaha berdiskusi mengenai tantangan bisnis masing-masing sekaligus menjajaki peluang kolaborasi.
Koordinator SUMU Tulungagung, Lutfy Azizah, mengatakan forum tersebut diharapkan menjadi ruang belajar berkelanjutan.
“Kami ingin SUMU menjadi wadah yang saling menguatkan. Kegiatan ini terbuka tidak hanya bagi anggota, tetapi juga masyarakat luas yang ingin bertumbuh bersama dalam ekosistem pengusaha berkemajuan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, SUMU Tulungagung menyiapkan program pendampingan selama Ramadan yang mencakup penguatan strategi promosi, kolaborasi produk antaranggota, serta optimalisasi kanal penjualan daring dan luring. Melalui inisiatif ini, organisasi berharap pelaku usaha tidak hanya memahami potensi Ramadan secara teoretis, tetapi juga mampu menerapkannya secara praktis agar bisnis tetap adaptif, relevan, dan berkembang di tengah dinamika pasar. (*)
Penulis Soleh. Editor Fathan Faris Saputro.


