NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Pendidikan

Sebuah Pesan Singkat dari Prof. Jamhari: Jadilah Kritis, Berkembang, dan Jangan Mensakralkan Sesuatu yang Tidak Sakral

3 Mins read

SEJUK.ID – Sore itu, 3 Juni 2025, grup WhatsApp Tim Teknis Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Iran mendadak ramai. Kami mendapat kabar bahwa seorang rektor sekaligus kader Muhammadiyah sedang berada di Iran. Kami bingung, siapa ya? Dalam rangka apa datang ke negeri para mullah? Kok tidak ada informasi sebelumnya?

Awalnya, saya tidak terlalu peduli. Memang tidak tahu harus menghubungi siapa. Biasanya, jika ada tamu penting dari Muhammadiyah—terlebih seorang rektor universitas—kami sudah dikabari jauh-jauh hari. Tapi kali ini, hening. Salah satu kawan berseloroh, “Mungkin dia tidak tahu kalau ada PCIM Iran.” Ternyata benar. Setelah diberi tahu, beliau malah kaget.

Namanya Prof. Jamhari Makruf—Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) sekaligus pengurus Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Tak lama kemudian, kami mendapat akses nomor WhatsApp-nya, meskipun belum ada yang berani menghubungi lebih dulu. Ragu. Apakah beliau bersedia bertemu?

Akhirnya, saya memutuskan untuk nekat menghubungi. Tidak berharap banyak, hanya ingin berkenalan. Ternyata, dari obrolan kami, tidak ada tanda-tanda akan bertemu. Katanya, agendanya padat. Ia diundang ke acara peringatan wafat Imam Khomeini. Setelah itu, percakapan kami berakhir begitu saja.

Pertemuan Tak Terduga

Dua hari kemudian, saya mendapat kabar mengejutkan: Prof. Jamhari mengajak bertemu. Saya langsung membagikan informasi ini ke grup. Kesempatan langka ini tentu tidak boleh dilewatkan. Kami sepakat bertemu sekitar pukul lima sore di hotel tempat beliau menginap.

Obrolan awal kami berlangsung hangat. Banyak cerita menarik darinya tentang pengalaman selama di Tehran. Ternyata, ini kali kedua beliau datang ke kota itu. Namun yang paling tak disangka, beliau tiba-tiba mengajak kami berjalan kaki keliling kota. Kami sempat bingung mau ke mana. Untung saja salah satu dari kami teringat Jalan Enghelab—jalan penuh toko buku di jantung kota Tehran.

Baca Juga:  Pilar Pendidikan: Dasar Kuat Menuju Masa Depan yang Cemerlang

Kami pun berangkat naik metro. Beruntung, hari itu hari libur nasional, jadi suasana stasiun cukup lengang. Sampai di Enghelab, kami langsung disambut tumpukan buku yang dijual di trotoar. Dari buku bekas hingga yang baru, semuanya ditumpuk begitu saja, bahkan ada yang digelar tanpa alas.

Harganya luar biasa murah. Jika beruntung, kamu bisa menemukan kitab-kitab klasik terkenal seperti Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thabathaba’i atau Tahafut Al-Falasifah karya Imam Ghazali dengan harga setara secangkir kopi. Setelah puas berkeliling, kami beristirahat di sebuah kafe sambil menunggu waktu berbuka. Kebetulan, hari itu adalah Hari Arafah.

Jadi Kritis Itu Penting

Selama duduk bersama di kafe, Prof. Jamhari banyak bercerita. Ada satu pesan utama yang terus beliau tekankan kepada kami: jadilah kritis. Belajarlah bertanya, jangan hanya menjadi penerima informasi. Karena dari pertanyaan, lahirlah dialog; dari dialog, muncullah pengetahuan baru. Katanya, peradaban Islam dahulu berjaya karena budaya dialog dan kritik. Sekarang? Budaya itu nyaris hilang.

Ia mencontohkan bagaimana Imam Syafi’i sering berbeda pendapat dengan gurunya, Imam Malik. Imam Ghazali pun berani mengkritik para filsuf. Semua itu biasa saja, selama dilakukan secara ilmiah. Tapi hari ini, murid yang mengkritik guru sering dianggap lancang. Padahal, dari perbedaan itulah ilmu tumbuh dan berkembang.

Beliau juga heran mengapa banyak dari kita terlalu mudah mensakralkan hal-hal yang seharusnya tidak sakral. Ia bercerita tentang pengalamannya saat kuliah di luar negeri. Seorang dosennya yang beragama Yahudi meminta untuk diberikan Al-Qur’an. Namun saat hendak memberikannya, temannya mencegah. Katanya, takut kalau sang dosen hanya ingin mencari kesalahan Al-Qur’an.

Jawaban Prof. Jamhari sederhana tapi mengena:
“Berarti kamu percaya Al-Qur’an ada salahnya? Kalau saya tidak. Saya percaya Al-Qur’an itu sempurna. Mau dibaca siapa pun, tidak akan ada yang bisa menemukan kesalahannya.”

Baca Juga:  Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan: Definisi, Perbedaan, dan Contohnya

Islam Harus Percaya Diri

Obrolan semakin menarik saat beliau bercerita tentang upayanya menginternasionalkan IAIN. Menurutnya, agama-agama besar bisa tumbuh karena berani keluar dari tempat asalnya. Hindu, Kristen, Yahudi, Buddha—semuanya bisa mendunia.

Bagaimana dengan Islam di Indonesia? Kita masih minder. Padahal, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun dalam bidang ilmu pengetahuan Islam, kita belum menjadi kiblat. Masih banyak yang merasa rendah diri, apalagi ketika berhadapan dengan orang Arab. Padahal, kita memiliki potensi besar.

Sebelum berpisah, beliau memberikan satu pesan penting: bangun jaringan dan jaga komunikasi, karena kita tidak pernah tahu—bisa jadi nanti jaringan itulah yang membantu kita di waktu yang tak terduga.

Pertemuan sore itu singkat, namun sangat berkesan. Saya pribadi merasa kecil. Ilmu dan pengalaman saya masih dangkal. Sementara Prof. Jamhari, di usianya yang sudah lebih dari 60 tahun, semangatnya justru seperti anak muda yang baru memulai kuliah. Dari beliau, saya banyak belajar untuk selalu haus akan ilmu dan tidak pernah merasa cukup—terlebih di usia yang masih muda.

Terima kasih, Prof., atas pesan-pesan yang ringan tapi dalam, dan atas semangat yang menular. Semoga selalu sehat dan dalam lindungan-Nya. Salam hangat dari Qom.

Ditulis dalam sebuah ingatan, Qom, 14 Juni 2025
Agiel Laksamana Putra

1116 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Pendidikan

MI Tahfidz Alhaniif Cirebon Raih Medali Perunggu di Olimpiade Bahasa Arab Nasional 2025

1 Mins read
SEJUK.ID – Prestasi yang diraih Maryam dan Bilkis ini menegaskan konsistensi MI Tahfidz Alhaniif dalam kompetisi bahasa Arab. Sebelumnya, pada OBA ke-7…
Pendidikan

Mahasiswa UNY Luncurkan G-Waqf: Gerakan Wakaf Hijau untuk Bumi Lestari

2 Mins read
SEJUK.ID – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menorehkan prestasi inovatif melalui gagasan dua mahasiswinya, Marlita Wulansari dan Anisa Rahmawati. Mereka meluncurkan aplikasi…
Pendidikan

Urgensi Self-Care bagi Guru

2 Mins read
Oleh: Khosiyatika, M.Pd., Ketua Bidang IMMawati Jawa Tengah dan Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga SEJUK.ID – Guru merupakan orang tua peserta…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *