SEJUK.ID – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menorehkan prestasi inovatif melalui gagasan dua mahasiswinya, Marlita Wulansari dan Anisa Rahmawati. Mereka meluncurkan aplikasi G-Waqf, sebuah platform digital yang mengusung konsep wakaf hijau sebagai jawaban atas kebutuhan instrumen filantropi Islam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ketua Tim Pengembang, Marlita Wulansari, menjelaskan bahwa ide ini berawal dari kegelisahan terhadap kondisi alam yang kian terancam akibat perubahan iklim. Menurutnya, masyarakat membutuhkan sarana baru yang mampu menghubungkan kepedulian dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
“G-Waqf hadir bukan sekadar wadah wakaf, tetapi juga ruang edukasi dan partisipasi publik yang transparan serta akuntabel. Kami ingin membuka akses bagi masyarakat agar dapat berkontribusi dengan cara yang mudah, fleksibel, dan terpercaya,” ujar Marlita.
Ia menambahkan, potensi wakaf tunai di Indonesia sebenarnya sangat besar, namun belum tergarap optimal. Kehadiran G-Waqf dengan pendekatan digital diyakini dapat membangkitkan kesadaran bahwa wakaf juga bisa diarahkan untuk tujuan ekologis yang berkelanjutan.
Anggota Tim Pengembang, Anisa Rahmawati, menekankan bahwa G-Waqf memiliki relevansi strategis dengan arah pembangunan nasional. “Inisiatif ini sejalan dengan Asta Cita yang diusung pemerintahan Prabowo–Gibran, terutama dalam penguatan kemandirian energi, ekonomi hijau, dan harmoni dengan alam,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Anisa menyebutkan bahwa platform ini selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, G-Waqf dapat berperan dalam memperkuat ketahanan energi, pangan, dan kualitas lingkungan, serta mendukung agenda global terkait air bersih, energi terjangkau, dan mitigasi perubahan iklim.
Ia menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mendorong penguatan instrumen filantropi Islam untuk keberlanjutan. Wakaf yang bersifat abadi, katanya, merupakan landasan tepat untuk menopang agenda lingkungan hidup jangka panjang.
Inovasi G-Waqf ini dikembangkan dengan arahan tiga dosen UNY: Tsania Nur Diyana, Benni Setiawan, dan Indra Febrianto. Tsania menilai karya ini sebagai bukti bahwa mahasiswa mampu mengontekstualisasikan nilai-nilai filantropi Islam dengan tantangan global masa kini.
“G-Waqf memperlihatkan bagaimana semangat mahasiswa dapat melahirkan solusi kreatif atas persoalan iklim. Inovasi ini bukan hanya relevan, tetapi juga berpotensi memberi manfaat luas serta mempertegas peran perguruan tinggi dalam pembangunan berkelanjutan,” tutur Tsania.
Dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang kini melampaui 220 juta orang, Tsania optimistis G-Waqf dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Ia berharap, platform ini berkembang menjadi gerakan nasional bahkan internasional sehingga wakaf hijau semakin dikenal sebagai instrumen ekonomi sekaligus ekologi berkelanjutan.
“Wakaf tidak lagi sebatas praktik tradisional. Melalui G-Waqf, kita melihat transformasi ke arah instrumen yang dinamis, modern, dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa mahasiswa UNY mampu meramu ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan kepedulian ekologis untuk memberikan kontribusi nyata bagi keberlangsungan bumi,” pungkasnya. (*)


