ArtikelOpini

Muhammadiyah Islam Berkemajuan Yang Mencerahkan

6 Mins read

(Sumber Gambar: Redaksi Sejuk.ID)

Muhammadiyah, berdiri tahun 1912, merupakan salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia bahkan dunia yang masih tetap utuh dan eksis berjuang hingga detik ini. Sepanjang kesejarahannya yang hampir genap satu abad itu, Muhammadiyah telah berjibaku mencurahkan darma baktinya bagi umat dan bangsa ini melalui karya terbaiknya di berbagai bidang. Tidak hanya berpusar pada ranah pemikiran (wacana), tetapi sudah masuk ke ranah aksi-aksi operasional (praksis) hingga menubuh menjadi ribuan amal usaha yang tersebar seantero nusantara. Menarik untuk dicermati adalah kekuatan apa yang sanggup memelihara keutuhan dan kemanfaatan sebuah gerakan (harakah) untuk waktu yang demikian lama.

Sementara tidak sedikit gerakan serupa di tanah air dan berbagai belahan dunia lainnya yang berumur lebih muda sudah mengalami perpecahan bahkan hilang dari panggung sejarah. Tentu bukan berarti bahwa Muhammadiyah selama ini tidak pernah mengalami krisis. Sebagaimana lazimnya suatu organisasi (persyarikatan) dan gerakan yang mengelola banyak ragam sumber daya baik manusia maupun aset lainnya, potensi itu senantiasa ada. Bahkan sebagai gerakan yang dicitrakan bercorak modernis, tingkat krusialnya bisa lebih tinggi, karena ruang kebebasan artikulatif memang dibuka lebar sehingga perbedaan pandangan dan pilihan perbuatan sangat mungkin terjadi. Namun, dengan izin Allah, Muhammadiyah ternyata masih mampu hadir dan barakah (memberikan kontribusinya) bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Menurut Nyong Eka Teguh Iman Santosa dalam artikelnya Karakter Muhammadiyah Melandaikan Gagasan Islam Berkemajuan. Beliau menyimpulkan bahwa, ada beberapa karakter khas organisasi Muhammadiyah sehingga mampu bertahan dan memberi manfaat dalam pergumulan realitas ditengah masyarakat. Jika diidentifikasi, maka kunci kekuatan itu salah satunya terletak pada konstruk teologi gerakan yang dipilih oleh Muhammadiyah, yaitu teologi yang bercorak transformatif-liberatif (membebaskan). Kunci kekuatan lainnya yang menjadikan Muhammadiyah masih sangat diharapkan berkontribusi aktif bagi kehidupan umat dan bangsa ini adalah komitmennya untuk senantiasa mengedepankan akhlak dan kultur keberagamaan yang kritis dan toleran. 1. Teologi Transformatif-Liberatif, . Kultur Demokratik-Puritan. 2. Kultur Demokratik-Puritan.

Semangat Islam Berkemajuan

Sebagai ormas Islam tertua dan terbesar, Persyarikatan Muhamadiyah adalah pelopor keberagamaan yang inklusif (terbuka). Muhammadiyah dengan visi pembaruan Islam terus menyertai kehidupan bangsa dan negara. Visi Islam berkemajuan itu, menjadi ruh Muhammadiyah untuk terus berkontribusi untuk bangsa. Spirit Islam berkemajuan tak lepas dari sentuhan pemikiran Kiai Dahlan. Kiai Dahlan menyatakan, Islam harus mengikuti kemajuan zaman. Sehingga ia tidak dianggap kolot dan terbelakang.

Kemajuan itu tentu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Islam adalah agama kemajuan (progresifdinamis). Islam membuka pintu ijtihad yang selebar-lebarnya asal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah digariskan al-Qur’an dan alHadis. Berbekal semangat Islam berkemajuan, Muhammadiyah telah menjadi pelopor. Kini Muhammadiyah dituntut untuk kreatif melahirkan inovasi baru guna menjawab tantangan zaman abad kedua. Haedar Nashir (2011) menyebut Muhammadiyah akan tetap bertahan di tengah tantangan yang semakin kompleks. Hal ini didasarkan pada fondasi ideologi reformis, moderat, pandangan Islam yang berkemajuan, potensi sumberdaya manusia, amal usaha, dan jaringan yang dimiliki.

Islam yang Berkemajuan

Islam sejatinya merupakan agama yang berkemajuan (Din Al-Hadlarah). Islam memerintahkan umatnya untuk iqra (QS. Al-‘Alaq: 1-5), yang menjadi ayat dan surat pertama di turunkannya AlQur’an dan Wahyu kepada Nabi akhir zaman, Muhammad SAW Islam mengandung pesan imperative untuk membangun tatanan kehidupan yang adil (QS. Al-‘Araf: 29), makmur (QS Hud: 64), Sejahtera (QS An-Nisa: 19), persaudaraan (QS Al-Hujarat: 10), saling tolong menolong (QS Al-Maidah: 2), kebaikan (QS Al-Qashas: 77), terbangunnya hubungan baik peminpin dan warga (An-Nisa: 57-58), terjaminnya keselamatan umum (QS At-Taubah: 128), Hidup berdampingan dengan baik dan damai (Ali Imran : 101, 104; dan Al-Qashas: 77), tidak adanya kezaliman (Al-Furqon: 19), tidak ada kerusakan atau fasad fi al-ardi (QS Al-Baqarah : 11), dan terciptanya umat terbaik atau khaira ummah (QS Ali Imran: 110), sehingga secara keseluruhan terwujud “baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur” (QS. Saba :15).

Dengan latar belakang sosiologis kelahiran Muhammadiyah menurut Mukti Ali memiliki misi gerakan dan orientasi amaliyah sebagai berikut : 1. Membersihkan islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; 2. Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam islam modern; 3. Reformulasi ajaran dan pendidikan islam; dan 4. Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar. (Mukti Ali, 1958: 20).

Dari latar belakang dan misi Muhammadiyah awal, maka gerakan islam melakukan langkah-langkah di bidang pemahaman dan pembinaan keagamaan, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan amal usaha yang terus berkembang hingga saat ini yang semuanya berbasis pada Islam Berkemajuan, karena masyarakat luas menilai dan menjuluki Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Reformis, modernis dan istilah sejenis lainnya mengandung esensi Islam Berkemajuan.

Islam yang Mencerahkan

Islam sesungguhnya agama yang mencerahkan kehidupan umat manusia (din at-tanwir). Kehadiram Islam membawa misi penting untuk mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk kegelapan (kejahiliyahan) menuju pada keadaan terang-benderang, takhrij min al-dhulumat ila al-nur (QS Al- Baqarah: 257). Pesan-pesan Islam seperti perintah iqra (QS Al-‘Alaq: 1-5), al-Quran sebagai hidayahbayanfurqan (QS Al-Baqarah: 189), agar setiap umat mengubah nasib dirinya dan memperhatikan masa depan (QS Ar-ra’du: 11; Al-Hasyr: 18), membebaskan kaum dhu’afamustadh’afin (QS Al-Ma’unn: 1-7; Al-Balad: 11-16, dst), menjadi khalifah di muka bumi untuk membangun dan tidak untuk merusak (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 61; Al-Baqarah: 11; dst.); menunjukkan pesan imperatif Allah bahwa ajaran Islam menawarkan pencerahan bagi umat manusia semesta.

Risalah Nabi Muhammad bersama kaum Muslimun selama 23 tahun telah membawa pencerahan dari bangsa Arab yang terstruktur dalam sistem jahiliyah menjadi bangsa yang tercerahkan sehingga lahir Al-Madinah Al-Munawwarah, yakni kota peradaban yang cerah dan mencerahkan. Bangsa Arab yang bertuhankan berhala-berhala menjadi bertauhid. Bangsa yang semula merendahkan menjadi menjunjung tinggi martabat perempuan. Bangsa yang amoral menjadi berakhlaq mulia.

Fath al-Makkah menjadi simbol dari lahirnya peradaban umat manusia yang tercerahkan itu. Dari titik peradaban “al-munawwarah” itulah kemudian Islam meluas ke seluruh kawasan dunia, yang melahirkan era kejayaan Islam sebagai puncak peradaban yang utama selama lima sampai enam abad lamanya, tatkala dunia Barat kala itu masih teridur lelap di era kegelapan. Karenanya, usaha-usaha dakwah untuk mewujudkan Islam dalam kehidupan pun haruslah membawa dan bersifat mencerahkan. Sejatinya, dengan sifatnya yang demokratis dan membawa perubahan menuju ke jalan Allah yang menyelematkan kehidupan umat manusia di dunia dan akhirat, maka dakwah Islam itu berwatak pencerahan. Sebaliknya, bukanlah dakwah kalau tidak menyinari atau tidak mencerahkan kehidupan, baik kehidupan para pemeluknya maupun umat manusia keseluruhannya.

Dakwah pencerahan ialah usaha-usaha menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam sehingga melahirkan perubahan ke arah yang lebih baik, unggul, dan utama dalam kehidupan pemeluknya dan menjadi rahmat bagi masyarakat luas di semesta alam. Dakwah pencerahan dalam setiap usahanya bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan di segala bidang dan lingkup menuju raihan terwujudnya peradaban yang utama. Dakwah yang demikian memerlulan pembaruan terus menerus sehingga bersifat unggul dan alternatif.

Setiap usaha dakwah Islam oleh siapa, kapan, dan di mana pun haruslah membawa pencerahan dari keadaan “al-dhulumat” atau sistem yang gelap-gulita kepada kondisi yang serba “al-nur” atau penuh cahaya yang terang di segala lapangan kehidupan. Dalam bidang sosial-politik, sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan aspek-aspek lainnya melalui dakwah harus terbangun kehidupan umat manusia setahap demi setahap menuju pada kondisi yang cerah dan mencerahkan. Melaui dakwah haruslah terjadi bahwa Islam benar-benar menjadi rahmatan lil-‘alamin di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Peranan Muhammadiyah dalam gerakan Islam Berkemajuan, berani mengeluarkan pikiran yang sehat dan murni dengan dasar Al-Quran dan Hadits. Istilah Islam Berkemajuan yaitu dengan mengembangkan etos dari surah Al-‘Ashr bukan sekedar berbicara tentang kewajiban menyantuni orang-orang miskin, tetapi juga berkewajiban berproses untuk membentuk peradaban utama.

Konsep “Islam Berkemajuan” di era modern ini adalah merupakan respon dari fenomena yang ada yaitu Globalisasi, terutama kebudayaan, baik dalam bentuk Arabisasi ataupun Westernisasi. Globalisasi sering dipahami sebagai proses penyatuan dunia di mana waktu, jarak, dan tempat bukan lagi persoalan dan ketika hal dan setiap orang di bumi ini terkait satu sama lain. Ada empat pergerakan utama dalam globalisasi yaitu barang dan layanan, informasi, orang dan modal. Perpindahan dengan sangat cepat hanya terjadi setelah revolusi dalam teknologi telekomunikasi dan transportasi pada beberapa decade belakangan ini. Salah potensi yang diberikan Allah kepada manusia adalah akal pikiran. Inilah yang kemudian dikembangkan oleh Muhammdiyah, berusaha mengoptimalkan akal untuk mengembangkan wawasan Islam.

Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lainnya yang bercorak struktural dan kultural. Gerakan pencerahan menampilkan Islam untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama.

Dengan gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam mengemban misi dakwah dan tajdid untuk menghadirkan Islam sebagai ajaran yang mengembangkan sikap tengahan (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjungtinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Komitmen Muhammadiyah tersebut menunjukkan karakter gerakan Islam yang dinamis dan progresif dalam menjawab tantangan zaman, tanpa harus kehilangan identitas dan rujukan Islam yang autentik.

Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Dalam pengembangan pemikiran Muhammadiyah berpijak pada koridor tajdid yang bersifat purifikasi dan dinamisaai, serta mengembangkan orientasi praksis untuk pemecahan masalah kehidupan.

34 posts

About author
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Articles
Related posts
Opini

Empat Makanan yang Kerap Ditemui Saat Hari Raya Idul Adha

3 Mins read
Opini

Filantropi Islam dan Masa Depan Kemanusiaan

4 Mins read
ArtikelPendidikan

Pidato tentang Pendidikan: Membangun Masa Depan Melalui Pendidikan Berkualitas

2 Mins read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *