ArtikelOpini

Mewujudkan Kerukunan Beragama Dalam Bermasyarakat

4 Mins read

Sumber Gambar: Redaksi Sejuk.ID

Indonesia merupakan negara yang majemuk memiliki keberagaman di dalamnya, berupa keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa, warna kulit, kepercayaan dan agama hal ini menjadi warna perbedaan di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Dengan adanya berbagai corak perbedaan sudah sepantasnya seluruh masyarakat untuk senantiasa bahu membahu untuk menjaga keselarasan hidup berdampingan di tengah-tengah keberagaman yang ada Bhineka Tunggal Ika. Salah satu hal yang menonjol dalam kehidupan sehari-hari yaitu keberagaman agama. Di Indonesia terdapat 6 agama yang di akui, yakni agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budhha, dan juga Khong Hu Chu. Toleransi beragama di dalam masyarakat memegang peranan penting guna menjaga keharmonisan dan kerukunan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan yang ada di lingkungan masyarakat.

Semua agama mengajarkan umatnya untuk memiliki nilai-nilai kesetaraan dan toleransi sesama umat manusia lainnya. Menurut Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementrian dalam negeri mencatat, jumlah penduduk indonesia mencapai 273,87 juta jiwa pada 31 Desember 2021. Terdapat 238,09 juta jiwa atau 86,93% penduduk Indonesia yang tercatat beragama islam, Sebanyak 20,45 juta (7,47%) penduduk Indonesia yang memeluk agama kristen, sebanyak 8,43 juta jiwa (3,08%) beragama Katolik, dan 4,67 juta (1,71%) beragama Hindu. Ada pula 2,03 juta jiwa atau 0,74 juta jiwa penduduk di tanah air yang beragama Buddha, terdapat 73,63 ribu jiwa (0,03%) memeluk agama Konghucu, serta terdapat 126,51 ribu (0,05%) yang menganut aliran kepercayaan. Dengan demikian mayoritas penduduk di Tanah air adalah Islam, Islam juga mengajarkan hal tersebut, salah satunya terdapat dalam (QS. Al Hujurat/49 : 13) “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa), kemudian Allah jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal dengan baik. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui, maha teliti.”.Jadi, perbedaan suku dan bangsa diantara umat beragama adalah kehendak Allah SWT. Oleh karena itu manusia harus saling memahami, mengerti, menyayangi, mengasihi, melindungi dan menghormati tanpa memandang dan terhalang oleh sekat-sekat perbedaan suku dan bangsa yang ada.

Toleransi agama adalah suatu sikap saling pengertian dan menghargai tanpa adanya diskriminasi dalam hal apapun, khususnya dalam hal agama. Pada konteks agama dan budaya toleransi dimaksudkan dengan penolakan diskriminasi akan suatu budaya atau agama dari golongan yang lainnya. Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejateraan di negeri ini. Intoleransi merupakan gerbang utama dari radikalisme yang dapat merusak kedaulatan serta keutuhan suatu bangsa. Generasi muda adalah investasi suatu bangsa di masa depan, generasi muda harus memiliki pola pikir secara visioner untuk mewujudkan kerukunan yang beradi di tengah-tengah masyarakat. Generasi muda pula harus bisa bersikap kritis dalam menanggapi isu-isu agar tidak terjadi perpecahan didalamnya.

Perbedaan yang menjadi warna dalam kehidupan bermasyarakat yang dapat menjadi problematika dan konflik bila tidak adanya rasa saling menghargai dan menghormati sebagai sesame umat beragama. Manusia adalah makhluk sosial yang sejatinya tak bisa hidup sendiri dan akan selalu berdampingan serat membutuhkan manusia lain. Dalam realita kehidupan masyarakat ada banyak perbedaan yang dapat ditemukan. Untuk menjaga agar selalu bisa hidup berdampingan maka masyarakat harus menjaga kerukunan.

Kerukunan merupakan sebuah proses sosial yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk menciptakan kehidupan bersama meskipun memiliki berbagai perbedaan. Dalam kehidupan sosial, kerukunan merupakan pondasi dasar untuk menciptakan hubungan yang damai. Oleh sebab itu sebagai anggota masyarakat harus bersama-sama menjaga kerukunan tersebut.

Perbedaan yang terjadi di Indonesia adalah warna dalam hidup bermasyarakat. . Dengan adanya berbagai corak perbedaan sudah sepantasnya seluruh masyarakat untuk senantiasa bahu membahu untuk menjaga keselarasan hidup berdampingan di tengah-tengah keberagaman yang ada Bhineka Tunggal Ika. Toleransi beragama di dalam masyarakat memegang peranan penting guna menjaga keharmonisan dan kerukunan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan yang ada di lingkungan masyarakat uraian penjelasan ajaran-ajaran yang diberikan oleh setiap agama yang ada di Indonesia dalam menjaga kerukunan masyarakat. Semua agama mengajarkan umatnya untuk memiliki nilai-nilai kesetaraan dan toleransi sesama umat manusia lainnya

Jumlah penduduk indonesia mencapai 273,87 juta jiwa pada 31 Desember 2021. Terdapat 238,09 juta jiwa atau 86,93% penduduk Indonesia yang tercatat beragama islam, Sebanyak 20,45 juta (7,47%) penduduk Indonesia yang memeluk agama kristen, sebanyak 8,43 juta jiwa (3,08%) beragama Katolik, dan 4,67 juta (1,71%) beragama Hindu. Ada pula 2,03 juta jiwa atau 0,74 juta jiwa penduduk di tanah air yang beragama Buddha, terdapat 73,63 ribu jiwa (0,03%) memeluk agama Konghucu, serta terdapat 126,51 ribu (0,05%) yang menganut aliran kepercayaan. Dengan demikian mayoritas penduduk di Indonesia adalah beragama Islam.

Perbedaan suku dan bangsa diantara umat beragama adalah kehendak Allah SWT. Oleh karena itu manusia harus saling memahami, mengerti, menyayangi, mengasihi, melindungi dan menghormati tanpa memandang dan terhalang oleh sekat-sekat perbedaan suku dan bangsa yang ada. Upaya-upaya dalam menjaga kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Pada konteks agama dan budaya toleransi dimaksudkan dengan penolakan diskriminasi akan suatu budaya atau agama dari golongan yang lainnya. Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejateraan di negeri ini. Intoleransi merupakan gerbang utama dari radikalisme yang dapat merusak kedaulatan serta keutuhan suatu bangsa.

Generasi muda adalah investasi suatu bangsa di masa depan, generasi muda harus memiliki pola pikir secara visioner untuk mewujudkan kerukunan yang beradi di tengah-tengah masyarakat. Generasi muda pula harus bisa bersikap kritis dalam menanggapi isu-isu agar tidak terjadi perpecahan didalamnya. Agar kerukunan di lingkungan bermasyarakat dalam tercipta dan terwujud diperlukan upaya-upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat yaitu, sebagai berikut.

  1. Menghormati hak dan kewajiban umat agama lain
  2. Menghargai hari besar umat agama lainnya
  3. Membantu sesama masyarakat tanpa melihat latar belakang
  4. Menghormati antar suku dan budaya.

Toleransi diperlukan untuk kerukunan dalam masyarakat agar terwujudnya keharmonisan di dalam suatu lingkungan. Contohnya ketika ada hari besar keagamaan dan kita berbeda agama dengan orang tersebut, kita harus saling menghargai satu sama lain sebagai umat beragama. Ketika mereka sedang melakukan kegiatan keagamannya, kita harus menyikapinya dengan baik agar mereka dapat menyelesaikan hari besarnya dengan khusyu. Selain itu manusia sebagai mahluk sosial tentunya membutuhkan orang lain untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, kita harus menciptakan kerukunan kepada orang lain agar tidak terjadinya kejadian yang tidak diinginkan. Setiap individu pun harus memliki etika dan akhlak yang baik supaya sikap orang lain kepada individu tersebut mendapatkan timbal balik yang sesuai.

Hal ini dilakukan guna menciptakan dan mewujudkan kerukunan di lingkungan masyarakat. Menjaga kerukunan ditengah-tengah berbagai corak perbedaan dilingkungan masyarakat agar tercipta dan terwujud suasana aman, nyaman dan tertram agar tidak terjadi problematika dan konfilk dimasa yang akan datang. Salah satu cara agar kerukunan di lingkungan masyarakat terwujud yaitu dengan cara selalu menghormati, mengahargai dan seta membantu tanpa memandang latar belakang suku bangsa,budaya, bahasa, warna kulit, kepercayaan dan agama. Hal ini dilakukan mencipkatakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

34 posts

About author
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Articles
Related posts
ArtikelPendidikan

Pidato tentang Pendidikan: Membangun Masa Depan Melalui Pendidikan Berkualitas

2 Mins read
Opini

Seni Menyikapi Kabar Media Melalui Teori Dromologi Paul Virilio

3 Mins read
Opini

Krisis Giat Remaja Masa Kini Hingga Muncul Istilah Remaja Jompo

3 Mins read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *