NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Mengerem Perilaku Mubazir

3 Mins read

Oleh: Ahmad Soleh

SEJUK.ID – Kita sudah menjalani puasa Ramadan selama tujuh hari lamanya. Di awal-awal, pasti ada yang merasakan beratnya menjalani puasa. Namun, ada juga yang sudah membiasakan diri dengan berpuasa sunah jauh sebelum Ramadan tiba, jadi nggak kaget lagi dengan bunyi perut kosong.

Sebagai bulan yang spesial, kita sering kali menyambut Ramadan dengan euforia. Selain ritme ibadah yang meningkat, pola hidup pun mengalami sedikit perubahan. Sehingga, tanpa kita sadari ini membawa perubahan, tetapi tak jarang perubahan itu hanya sesaat. Kecuali satu hal. Ya, perilaku konsumtif.

Kebiasaan atau perilaku konsumtif yang sering kita lakukan selama Ramadan ini disadari atau tidak merupakan perilaku yang berpotensi merugikan. Terutama bagi diri kita sendiri. Mulai dari berlebihan membeli hidangan berbuka hingga berperilaku boros saat menyambut Hari Raya.

Pertama, soal hidangan berbuka. Sebetulnya kita disunahkan untuk segera berbuka dengan secukupnya. Misalnya dengan kurma (ruthab atau tamr) dan seteguk air putih. Sebagaimana hadis berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya: “Dari Anas bin Malik, ia berkata: ‘Nabi Saw biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air.’”

Sebetulnya, meskipun telah menahan lapar dan haus seharian, selama kurang lebih 12 jam, tubuh kita tidak lantas bisa menerima makanan dengan porsi banyak sekaligus. Sebab itulah, Rasulullah menganjurkan agar kita berbuka dengan kurma dan air putih sebagai takjil.

Baca Juga:  Spirit Pancasila Menciptakan Kerukunan Umat Beragama

Tujuannya, agar tidak terlalu kenyang hingga kesulitan sendiri ketika hendak menunaikan shalat Maghrib. Terlalu banyak makan saat berbuka puasa dapat berakibat tubuh sulit bergerak, perut terasa penuh, begah, dan tentu tidak nyaman saat melaksanakan shalat.

Apalagi, ketika kita berbuka dengan aneka gorengan, sambel kacang, dan olahan sirop yang membuat tubuh kita kebanjiran gula dan kolesterol. Ini bisa berakibat serius pada kesehatan tubuh kita, jika kebiasaan ini dilakukan selama sebulan penuh.

Dengan begitu, anjuran makan dan minum secukupnya saat berbuka puasa juga sejalan dengan anjuran kesehatan. Misalnya, konsumsi sebutir sampai tiga butir kurma itu sudah cukup untuk mengembalikan tenaga dalam tubuh kita. Karena dalam kurma (ruthab atau tamr) terdapat kandungan gula yang dapat membangkitkan kembali energi tubuh kita.

Menyadari dan peduli akan hal ini seharusnya membuat kita mampu mengerem kebiasaan mubazir. Perilaku mubazir (tabzir) merupakan perilaku yang tidak baik dan dekat dengan perbuatan setan. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 27:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ۝٢٧

Artinya: “Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Jadi, membeli jajanan berbuka atau takjil sebaiknya secukupnya saja. Selain menjadi hemat dari segi pengeluaran, juga ini menjadi ikhtiar kita dalam menjaga kesehatan tubuh selama menjalani puasa Ramadan.

Kedua, kebiasaan mubazir yang sering kita lakukan ketika menjelang Hari Raya. Sudah menjadi kebiasaan lumrah, masyarakat kita membeli baju baru untuk dikenakan saat lebaran. Tak ada yang salah dengan membeli baju baru. Namun, ini akan menjadi masalah ketika hal ini memberatkan secara finansial, bahkan misalnya sampai memaksa berutang untuk membeli baju baru.

Baca Juga:  Esensi Ikhlas: Pemahaman dalam Perspektif Islam

Rasulullah menganjurkan kita untuk menggunakan “pakaian yang terbaik yang kita miliki” ketika Hari Raya tiba. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Dari Anas RA (diriwayatkan bahwa) Rasulullah Saw menyuruh kami pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) agar memakai pakaian yang terbaik yang kami miliki, memakai wangi-wangian yang terbaik, dan menyembelih binatang yang paling gemuk.” (HR. Al-Hakim).

Perlu kita pikirkan, definisi pakaian terbaik tidak harus selalu berarti pakaian yang baru dibeli di pasar atau pakaian yang baru saja dibeli di platform dagang online. Pakaian terbaik bisa berarti pakaian yang masih bagus dari yang kita miliki di lemari.

Coba perhatikan lirik lagu ini. “Baju baru alhamdulillah, untuk dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama.” Penggalan lirik lagu anak-anak ini seharusnya mengajarkan kita sebuah kebijaksanaan dalam membeli baju, terlebih dalam kebiasaan menyambut Hari Raya.

Yang seharusnya menjadi baru adalah jiwanya, spiritualitasnya, kadar keimanan dan ketakwaannya. Hal itu dibuktikan dengan konsistensi ibadah pasca-Ramadan. Baik itu dalam ibadah ritual maupun ibadah sosial. Semangat kesalehan dan kedermawanan yang harus kita perbarui, bukan sekadar helaian baju.

Firman Allah Swt dalam QS. Al-Isra ayat 26 ini semestinya menjadi bahan permenungan kita:

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ۝٢٦

Artinya: “Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

Oleh sebab itu, mumpung masih ada sisa waktu Ramadan, mari kita jadikan ini sebagai ajang menumbuhkan kebiasaan baik. Mengerem kebiasaan mubazir, boros, dan sia-sia mulai dari hal kecil, akan menjadikan hidup kita lebih baik. Ibadah pun lebih tenang dan khusyuk. Wallahu a’lam.

8 Ramadan 1447 Hijriyah

Baca Juga:  Pendidikan Berkualitas Memajukan Peradaban

1124 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Menjaga Estafet Kaderisasi: IPM, Mahasiswa, dan Arah Transisi Gerakan

3 Mins read
Oleh: Anas Nur Fathoni, Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah Metro Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan PC IPM Metro Barat SEJUK.ID – Ikatan…
Opini

Empat Belas Hari Tanpa Kompas: Tehran di Persimpangan Ketidakpastian

2 Mins read
Oleh: Ahmad Hukam Mujtaba SEJUK.ID – Kisah ini membawa kita menyusuri gang-gang sempit di Tehran, tempat aroma roti sangak yang baru matang…
Opini

Ancaman Grooming terhadap Hifz al-Nasl dalam Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah

3 Mins read
Oleh: Ranti Sadira, Mahasiswa Manajemen Dakwah Universitas Islam Negeri Imam Bonjol PadangSekretaris Umum PK IMM Salahuddin Al-Ayyubi SEJUK.ID – Child grooming merupakan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *