ArtikelOpini

Makna Beragama dalam Sosial Masyarakat

4 Mins read

(Sumber Gambar: Redaksi SEJUK.ID)

Agama (din dalam bahasa Arab dan religi dari Bahasa Inggris) berasal dari Bahasa Sansekerta. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kata ini tersusun dari dua kata, a=tidak, dan gam=pergi, jadi agama berarti tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun temurun. Pendapat lain mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa gam berarti tuntunan. Dari semua pengertian di atas dapat dilihat sifat agama yang tidak pergi, diwarisi secara turun temurun, memiliki kitab suci dan menjadi tuntunan bagi pemeluknya.

Din, sebagai padanan kata agama berasal dari Bahasa Semit yang berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Agama membawa peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi oleh semua penganutnya. Agama juga menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama. Lebih lanjut agama membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan oleh seseorang akan menjadi hutang baginya. Paham kewajiban dan kepatuhan ini berimplikasi kepada paham balasan.

Religi berasal dari Bahasa latin, relegere yang mengandung arti mengumpulkan, membaca. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan. Ini terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Menunut pendapat lain, kata ini berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang bersifat mengikat bagi pemeluknya. Intisari dari semua istilah di atas adalah ikatan. Agama mengandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia (pemeluknya). Ikatan ini mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia, yang berasal dari satu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera.

Definisi lain dari agama dikemukakan oleh Durkheim. Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu system kepercayaan dan praktik yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus, kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang Bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.16 Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama yaitu “sifat kudus” dari agama dan “praktik-praktik ritual” dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu makhluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas karena ia menjadi bukan agama lagi ketika salah satu unsur tersebut terlepas.(Nurliana Damanik. AGAMA DAN NILAI SPRITUALITAS. (2020). hlm 77).

Dalam Kamus Sosiologi, terdapat tiga macam pengertian agama, yaitu: 1) Kepercayaan pada hal-hal yang spiritual, 2). Perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri. dan 3), Ideologi mengenai hal-hal yang bersifat supranatural. Dua diantara definisi di atas memuat hal yang spiritual yang akan dikaji selanjutnya yang menunjukkan hubungan antara agama dan spiritualisme.

Fungsi Agama

Fungsi agama dalam pandangan Sosiologi, diantaranya adalah memelihara dan menumbuhkan sikap solidaritas diantara sesama individu dan kelompok. Solidaritas merupakan bagian dari kehidupan sosial keagamaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat beragama, atau lebih tepatnya, solidaritas merupakan ekspresi dari tingkah laku manusia beragama. Pandangan ini sejalan dengan pandangan Durkheim yang mengatakan bahwa fungsi sosial agama adalah mendukung dan melestarikan masyarakat yang sudah ada. Agama bersifat fungsional terhadap persatuan dan solidaritas sosial. Ketika solidaritas sosial justru tidak terwujud dan agama dianggap sebagai salah satu yang menjadi penyebabnya, maka orang akan mencari bentuk lain sebagai pemuas batinnya.

Thomas F. O’Dea mengemukakan beberapa fungsi agama dalam masyarakat sebagai berikut:

  1. Sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi (perukunan kembali).
  2. Sarana hubung antara transsendental melalui pemujaan dan upacara ibadat.
  3. Penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada.
  4. Pengoreksi fungsi yang sudah ada (standar nilai yang ada dikaji kembali).
  5. Pemberi identitas diri.
  6. Pendewasaan individu.

Meskipun agama diyakini banyak pemeluknya memiliki fungsi-fungsi seperti yang dijelaskan di atas, namun seperti yang dijelaskan di atas ketidakpuasan terhadap agama telah menyebabkan sebagian orang terutama di Barat meninggalkan agama, dan mencari bentuk kepuasan lain. Mereka lebih percaya pada bentuk-bentuk spiritualitas yang mereka percaya merupakan cara yang paling tepat dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan personal dan sosial -yang telah menjadi bagian dari krisis kebudayaan Barat. Semua persoalan itu hanya akan terselesaikan apabila ada cukup orang mencapai apa yang disebut Higher Consciousness.(Nurliana Damanik. AGAMA DAN NILAI SPRITUALITAS. (2020). hlm 79).

Sikap Beragama

Sikap beragama, semua yang dilakukan dan dipikirkan manusia adalah berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang amat dirasakannya dan usaha menghindari perasaan tidak enak, ini harus tetap diingat apabila ingin memahami gerakan-gerakan spiritual dan perkembangannya. Perasaan dan keinginan adalah kekuatan pendorong segala upaya dan kreasi manusia, betapapun tersamarnya ia menampakkan diri kepada kita. Desakan-desakan sosial adalah sumber lain dari terbentuknya suatu agama. Semua makhluk dapat berbuat salah. Kebutuhan mereka akan perlindungan, kasih sayang dan dukungan mendorong manusia untuk membuat konsepsi sosial, atau moral tentang Tuhan. Agama bangsa-bangsa beradab, khususnya bangsa-bangsa Timur, pada pokoknya adalah agama moral.(hlm 60).

Perkembangan dari agama-takut ke agama-moral adalah satu langkah besar dalam kehidupan umat manusia. Namun, kita tetap harus mewaspadai prasangka bahwa agama primitif didasarkan sepenuhnya pada rasa takut, dan agama bangsa beradab sepenuhnya pada moralitas. Yang benar adalah bahwa semua agama merupakan campuran yang beragam dari kedua tipe tersebut, dengan satu perbedaan pada tingkat kehidupan sosial yang lebih tinggi, agama moralitas lebih menonjol. Satu hal yang ada pada semua tipe ini adalah watak antropomorfis dalam konsepsi tentang Tuhan.(hlm, 60-61).

Manusia religius sudah pasti, tidak seorang pun akan menolak gagasan adanya suatu Tuhan personal yang mahakuasa, adil, dan maha pemurah, dapat memberi bantuan dan pembimbing manusia. Tapi, di pihak lain, ada kelemahan yang terasa amat menyakitkan sejak permulaan sejarah. Yaitu bahwa apabila wujud ini Maha Kuasa, maka setiap peristiwa, termasuk setiap perbuatan manusia, setiap pikiran manusia, dan setiap perasaan dan aspirasi manusia adalah juga karya-Nya; bagaimana mungkin kita berpendapat bahwa manusia bertanggung jawab atas semua perbuatannya dan pemikirannya. Dalam memberikan hukuman dan ganjaran, akan melewati penilaian terhadap diri-Nya sendiri, bagaimana ini dapat di kombinasikan dengan kebaikan dan kemurahan yang menjadi sifat-Nya. Sumber utama dari pertentangan masa ini antara ilmu dan agama terletak pada konsep Tuhan yang personal ini,(Hlm 61). Perilaku etis manusia harus didasarkan secara efektif pada simpati, pendidikan, hubungan sosial, dan kebutuhan-kebutuhan; tidak diperlukan dasar agama. Manusia pasti akan menjadi miskin kalau ia harus dikekang oleh perasaan takut akan hukuman dan harapan akan ganjaran setelah mati. Hlm 61).

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat simpulkan kebutuhan manusia terhadap agama tidak dapat dipungkiri selain karena manusia memiliki fitrah beragama, manusia memerlukan agama karena manusia yang memiliki kesempurnaan dan kekurangan dan juga manusia selalu di hadirkan dengan tantangan untuk dapat melalui berbagai masalah maka manusia perlu di bentengi dengan nilai-nilai agama. Kemudian kaitannya dengan pengertian spiritualitas merangkum sisi-sisi kehidupan rohaniah dalam dimensi yang cukup luas. Dan dengan nilai-nilai spiritualitas sejatinya kedamaian hidup dapat terwujud. Spiritualitas hakikatnya adalah kepedulian lintas agama dan ras. Dan yang jelasnya bahwa spiritualitas itu merupakan kepedulian lintas makhluk.

Spiritualitas yang merupakan naluri bawaan manusia menjadi titik penting lahirnya agama. Agama merupakan bentuk akumulasi dari pengalaman mistik atau pengalaman kepada yang suci menurut manusia. Perasaan manusia kepada yang suci merupakan perasaan kagum, campur aduk antara takut dan suka sekaligus perwujudan dari perasaan yang kudus yang bersifat misterius. Agama dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama. Dan juga sebagai tempat untuk dapat melestarikan pengalaman spiritual.

34 posts

About author
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Articles
Related posts
Opini

Aktivis Muda Muhammadiyah Jawa Barat Mantap Mendukung Ganjar-Mahfud MD

2 Mins read
Opini

Identitas Indonesia: Simfoni Kebhinekaan Abadi

3 Mins read
Opini

Tingkat Dampak Positif Video Game pada Aspek Kognitif Sosial

2 Mins read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *