NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
BeritaDaerah

Lazismu Luncurkan Fikih Gen Z, Hadirkan Cara Baru Memahami Islam di Tengah Generasi Digital

4 Mins read

SEJUK.ID – Generasi Z tumbuh dalam ekosistem digital yang serba cepat. Cara mereka mencari informasi, berkomunikasi, hingga memahami persoalan keagamaan pun mengalami perubahan. Di tengah karakter generasi yang akrab dengan media sosial dan cenderung menyukai sesuatu yang praktis, pemahaman fikih dituntut hadir dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Gagasan tersebut mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku Fikih Gen Z yang digelar di Masjid At-Taqwa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (5/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026 yang diselenggarakan Lazismu di Semarang, Jawa Tengah.

Selama sekitar dua jam, penulis Fikih Gen Z, Ayi Yunus Rusyana, berbagi cerita mengenai latar belakang lahirnya buku tersebut di hadapan mahasiswa dan peserta kegiatan.

Menurut Ayi Yunus, buku itu berangkat dari berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, terutama dalam menyikapi persoalan ibadah dan kehidupan sosial sehari-hari. Ia melihat Gen Z sebagai generasi yang cepat merespons isu, tetapi pada saat yang sama membutuhkan penjelasan agama yang mudah dipahami dan relevan dengan realitas mereka.

“Topik yang ditemukan banyak, lalu disaring ke dalam beberapa isu. Yang banyak dan ramai dibicarakan seperti soal mendengarkan musik halal atau haram, jilbab dan cadar, lukisan dan video yang berisi makhluk bernyawa, serta persoalan kepekaan sosial, khususnya berbagi terhadap sesama,” ujar Ayi Yunus.

Ia menggambarkan Gen Z sebagai generasi yang tidak menyukai kerumitan. Mereka cenderung menyukai sesuatu yang sederhana, praktis, tetapi tetap menarik. Kondisi itu, menurut dia, menjadi tantangan tersendiri dalam menyampaikan pengetahuan fikih Islam.

“Gen Z ini anti-ribet. Gayanya sederhana dan keren. Pertanyaannya, apakah pengetahuan tentang fikih Islam itu berat bagi generasi zoomers?” katanya.

Baca Juga:  Sosialisasi Legalitas: Legalitas sebagai Jembatan Naik Kelas di Kecamatan Deket

Menurut Ayi Yunus, Gen Z tumbuh dan bergaul dalam ekosistem algoritma media sosial. Mereka terbiasa dengan gaya komunikasi yang cepat, bahasa yang akrab, serta beragam informasi yang tersedia secara daring.

Karena itu, pendekatan dalam mempelajari fikih juga perlu menyesuaikan karakter mereka. Jika generasi sebelumnya terbiasa mempelajari fikih melalui buku-buku tebal dan hafalan, pendekatan semacam itu dinilai tidak selalu efektif untuk Gen Z.

“Perlu pendekatan dengan storytelling yang ringan disertai contoh-contoh nyata yang juga mereka rasakan dalam kesehariannya,” ujar Sekretaris Dewan Pengawas Lazismu Pusat itu.

Dalam bedah buku tersebut, Ayi Yunus mengulas sejumlah persoalan, antara lain fikih bersuci (thaharah) dan filantropi Islam. Diskusi dipandu Eddy Aqdhiwijaya dari redaksi Gerakan Islam Cinta.

Pembahasan mengenai filantropi Islam menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Ayi Yunus menyinggung bagaimana istilah-istilah yang berkembang di kalangan Gen Z turut memengaruhi cara mereka memandang aktivitas sosial dan kedermawanan.

Ia mencontohkan istilah gaul yang digunakan untuk menyebut orang kaya. Jika selama ini dikenal istilah muzaki, dermawan, atau filantropis, di kalangan Gen Z muncul istilah-istilah baru yang lebih populer di media sosial.

Aktivitas filantropi yang dilakukan Gen Z pun kerap dikemas secara kreatif, misalnya dengan menghadirkan doorprize, giveaway, influencer, atau tokoh tertentu. Pertanyaannya, apakah kreativitas semacam itu dapat menjadi bagian dari filantropi Islam?

Menurut Ayi Yunus, kreativitas tersebut dapat menjadi hal positif selama mampu menggerakkan sisi kemanusiaan dan mendorong masyarakat untuk berbagi.

“Hebatnya, ketika ada sesuatu yang menggerakkan sisi kemanusiaan, Gen Z cepat bergerak menghimpun dana,” ujarnya.

Ia menilai kreativitas dalam filantropi Islam dapat menjadi strategi untuk menarik perhatian generasi muda. Namun, kreativitas tersebut tetap perlu diiringi dengan literasi dan pengelolaan yang bertanggung jawab.

Baca Juga:  Kolaborasi Dosen UHAMKA dan USB Surakarta Lakukan Pengabdian Masyarakat

Karena itu, ia mendorong Gen Z untuk membangun kolaborasi dengan lembaga filantropi yang terpercaya ketika melakukan penggalangan dana.

“Gen Z harus bisa membedakan infak yang sukarela, sedekah yang tidak hanya berupa uang, dan zakat yang memiliki ketentuan,” katanya.

Ayi Yunus juga mengingatkan pentingnya mengetahui pihak yang mengorganisasi kegiatan sosial. Menurut dia, masyarakat perlu melihat apakah kegiatan tersebut melibatkan sponsor, individu, lembaga, atau entitas lain, termasuk ketika dana yang dihimpun berkaitan dengan zakat.

“Lihat siapa yang mengorganisasi. Ada sponsor, individu, atau entitas lain sebagai bagian dari kegiatan itu. Mereka mengeluarkan uang zakat atau dana untuk kegiatan sosial,” ujar dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut.

Diskusi semakin hidup ketika peserta menyampaikan persoalan yang dekat dengan keseharian mereka. Gavin, siswa SMA Muhammadiyah 1 Semarang, misalnya, bertanya mengenai praktik wudu di kalangan Gen Z yang terkadang hanya berorientasi pada membasahi anggota tubuh tanpa memperhatikan tata caranya.

Sementara itu, Ratih, mahasiswa keperawatan Unimus, bertanya mengenai fikih bagi orang yang memiliki kesibukan tinggi hingga meninggalkan salat.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ayi Yunus mengatakan bahwa persoalan-persoalan semacam itulah yang menjadi alasan pentingnya buku Fikih Gen Z.

Menurut dia, kesibukan yang tidak diimbangi dengan jeda dapat memicu tekanan dalam kehidupan. Salat lima waktu, kata dia, dapat menjadi ruang jeda bagi seseorang untuk sejenak melepaskan beban kehidupan.

“Kalau kita terlalu sibuk, itu mudah mengundang stres. Makanya kita ada salat lima waktu. Jeda dalam waktu salat ini sebagai bentuk mengurangi beban agar jiwa tenang. Berwudu pun harus tertib sesuai tata caranya,” tuturnya.

Ia menambahkan, kehidupan membutuhkan jeda agar manusia tidak terus-menerus larut dalam urusan dunia.

Baca Juga:  Tarhib Ramadan 1445 Hijriah Meriah di SDIT Alfurqan Lamongan

“Jika tidak ada jeda dalam hidup, kapan punya waktu untuk mengosongkan hidup dari dunia sejenak? Kita harus bisa melepaskan beban itu dengan salat. Secara medis, hati dan otak kita bisa lebih tenang. Tetapi bila meninggalkannya, tentu ada konsekuensi secara hukum Islam,” ujarnya.

Membaca untuk Menumbuhkan Kesadaran

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan, membaca buku dapat menjadi salah satu cara bagi Gen Z untuk memperluas pengetahuan sekaligus membangun kesadaran keagamaan.

“Memperbanyak pengetahuan tentang fikih Islam merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman melalui kebiasaan membaca,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Rektor III Unimus Eny Wanaryati. Ia menyambut baik peluncuran dan bedah buku Fikih Gen Z karena dinilai menawarkan khazanah pengetahuan yang relevan bagi generasi muda.

“Judulnya sangat bagus. Ada banyak khazanah pengetahuan yang perlu ditimba oleh Gen Z,” ujarnya seraya mengajak mahasiswa membaca buku tersebut lebih lanjut.

Peluncuran Fikih Gen Z menjadi bagian dari rangkaian agenda nasional Lazismu dalam Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026 di Semarang. Pembukaan MZS dijadwalkan berlangsung pada Jumat (6/11/2026).

Melalui agenda tersebut, Lazismu terus mendorong penguatan gerakan zakat sekaligus memperluas literasi filantropi Islam di tengah perubahan sosial dan perkembangan generasi digital. (*)

1384 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
BeritaDaerah

BikersMu Temanggung Salurkan Air Bersih untuk 152 Keluarga di Pringsurat dan Kaloran

3 Mins read
SEJUK.ID – Kepedulian tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata. Bagi BikersMu Chapter Temanggung, kepedulian dapat diwujudkan melalui perjalanan dan aksi nyata. Semangat…
BeritaDaerah

BikersMu Sragen Salurkan 15 Tangki Air Bersih untuk Warga di Tiga Kecamatan

1 Mins read
SEJUK.ID – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sragen mendorong BikersMu Chapter Sragen bergerak membantu masyarakat. Sebanyak 15 truk tangki air…
BeritaDaerah

Gotong Royong Warga Bersihkan Tanggul Sungai Way Bungur, Kepedulian Lingkungan Menguat

1 Mins read
SEJUK.ID – Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan menjadi gerakan bersama masyarakat di sekitar Sungai Way Bungur, Lampung Timur. Tokoh pemuda, tokoh masyarakat, pamong…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *