Oleh: Sugiati, Kolumnis dan Pegiat Literasi
SEJUK.ID – Pasca Sri Mulyani hengkang dari pemerintahan Prabowo, muncul Menteri Keuangan baru yang dilantik pada 8 September 2025, yakni Purbaya Yudhi Sadewa. Sosok gagah berwibawa yang selalu menampakan penampilan sederhana di hadapan publik. Hal ini terjadi setelah kemarahan publik meluap akibat pajak yang mencekik dan kemelut tunjangan DPR. Imbasnya, rumah Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani dijarah oleh massa. Akhirnya, pergantian Menteri menjadi pilihan Prabowo dalam menghadapi situasi pelik negeri. Sosok Purbaya lah yang diberikan kepercayaan oleh sang Presiden.
Namun, tidak mudah bagi Purbaya. Berbagai kergauan datang dari publik, terlebih karena peristiwa demonstrasi yang terjadi besar-besaran, menjadi sebuah trauma tersendiri bagi masyarakat untuk menaruh percaya pada Purbaya. Meskipun begitu, akhirnya publik dibuat yakin oleh Purabaya, dimulai dari kabar baik naiknya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Semenjak itu lah, optimisme masyarakat terhadap Purbaya mulai terlihat.
Seiring dengan bertambahnya kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Purbaya dalam menangani masalah keuangan negara, Purbaya hadir dengan gaya kepemimpinannya yang karismatik. Sering mengacungkan jempol dan tersenyum saat ditemui awak media, pun dengan gaya bicaranya yang lugas, membuat Purbaya dijuluki ‘koboi’. Hal ini kemudian yang menjadi branding Purbaya pada kacamata publik.
Sejalan dengan hal itu, korelasi kepemimpinan karismatik Purbaya dapat dihubungkan dengan pemikiran Max Weber tentang tiga tipe kepemimpinan, salah satunya adalah otoritas karismatik. Kepemimpinan karismatik mendasarkan pada kepribadian luar biasa, karismatik dan daya tarik seorang pemimpin yang tidak dapat terelakan lagi. Pun begitu pada Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam tipe kepemimpinan karismatik, publik menaruh kepercayaan bukan karena jabatan formal, tetapi karena daya tarik pribadi, keyakinan dan kemampuan menginspirasi orang lain. Legitimasi kepemimpinan itulah yang membuat publik meyakini bahwa orang tersebut dapat menjalankan kewajibannya dengan baik, serta dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada.
Selain itu, dari gaya kepemimpinan Purbaya, menguatkan bahwa tipe kepemimpinan seperti ini dapat bersifat emosional dan personal, hal itu lantaran Purbaya memiliki kedekatan langsung dengan publik, Purbaya juga berhasil menciptakan kesan memahami publik dan dapat memperjuangkan aspirasi mereka. Tipe kepemimpinan ini menurut Weber, dapat membawa perubahan sosial yang cukup signifikan karena mampu menggugah semangat kolektif masyarakat, dan mendorong inovasi serta gerakan pembaharuan pada masyarakat.
Meskipun begitu, gaya kepemimpinan ini juga akan terancam, saat kesan karismatik hilang, misalnya saat pemimpin tidak bisa memenuhi ekspektasi masyarakat dan gagal dalam menjalankan tanggung jawabnya. Karena itu, legitimasi bisa runtuh dengan cepat. Keberhasilan kepemimpinan model ini juga mengutamakan kemampuan menjaga citra dan konsistensi moral seorang pemimpin.
Dikutip dari ntbsatu.com, berdasarkan survei yang dirilis oleh Lembaga Index Politica, mengenai tingkat popularitas para Menteri di Kabinet Merah Putih, Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan posisi paling atas, sebagai Menteri yang paling dikenal oleh publik. Berdasarkan survei tersebut, Purbaya menempati posisi paling atas yakni sebesar 10.35 persen.
Menurut hasil survei yang menunjukkan bahwa Purbaya menempati posisi paling atas dengan 10,35 persen sebagai Menteri yang paling dikenal publik, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat popularitas dan pengaruh seorang Purbaya, sebagai Menteri Keuangan di mata masyarakat cukup tinggi. Hal ini dapat dikaitkan dengan gaya kepemimpinan karismatik yang menjadi ciri khasnya.
Menurut keterangan Weber diatas, kepemimpinan karismatik adalah bentuk kepemimpinan yang berdasarkan pada daya tarik pribadi, kepribadian kuat, dan kemampuan pemimpin untuk menginspirasi serta memotivasi pengikutnya. Pemimpin tipe ini tidak hanya dihormati karena jabatannya, tetapi juga karena kemampuannya menumbuhkan kepercayaan dan kekaguman dari masyarakat.
Dalam hal ini, Purbaya tampak berhasil membangun citra kepemimpinan yang dekat dengan rakyat, komunikatif, serta menunjukkan keaslian dalam bertindak dan berbicara, sehingga masyarakat merasa terhubung secara emosional. Keberhasilannya menjadi Menteri yang paling dikenal publik menandakan bahwa pengaruh personalnya melampaui sekadar kekuasaan formal, dan lebih mengarah pada daya tarik pribadi serta kemampuan membentuk persepsi positif di mata publik.
Karena itu, hasil survei tersebut mencerminkan bahwa karisma Purbaya berperan besar dalam meningkatkan tingkat pengenalannya, karena masyarakat tidak hanya mengenal nama atau jabatannya, tetapi juga mengidentifikasi dirinya sebagai sosok pemimpin yang inspiratif, berwibawa, dan dipercaya. Ini sejalan dengan konsep Weber bahwa kekuatan karisma dapat menciptakan loyalitas serta pengaruh sosial yang kuat tanpa harus bergantung pada otoritas formal atau aturan birokratis.
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk memimpin, begitupun dengan Purbaya. Namun, dalam setiap kepemimpinan yang berbeda, bermuara pada pembaharuan yang baik dan tujuannya juga baik. Seberapapun kepemimpinan dilakukan oleh banyak orang, setiap orang akan memiliki gaya kepemimpinan tersendiri, seperti lebih tegas, tidak banyak bicara tetapi kerja pasti, serta gaya kepemimpinan yang didasarkan pada karisma, seperti Purbaya Yudhi Sadewa.
Meskipun begitu, kita tidak bisa menilai kepemimpinan mana yang paling baik, sebab setiap kepemimpinan memberikan nilai baik dan buruk, bergantung pada dampak yang muncul, apakah lebih banyak positif ke banyak orang, ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, hendaknya sosok pemangku kebijakan memahami betul cara strategi dalam menentukan keputusan terbaik, demi kemaslahatan bersama.


