NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Buku dan Manusia Memaknai Dalam Merayakan Hari Buku Sedunia

2 Mins read

Oleh: Noval Sahnitri, S.Pd., Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam UM Metro dan Bendahara Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Hikmah Purbolinggo

SEJUK.ID – Tak banyak yang tahu bahwa hari ini merupakan Hari Buku Sedunia, terlebih di tengah kecanggihan dunia modern. Berdasarkan berbagai literatur, Hari Buku Sedunia mulai diperingati pada 23 April 1995 dan ditetapkan oleh UNESCO. Dalam konteks hari ini, buku kian terasa sebagai barang langka yang dibaca, khususnya di Indonesia.

Kehadiran buku digital tidak serta-merta meningkatkan minat baca. Secara umum, literasi digital memang berkembang, tetapi hal itu tidak bisa dilepaskan dari kualitas kemampuan individu dalam memaknainya. Akses informasi yang begitu mudah tidak otomatis menjadikan seseorang bijak. Justru, kebijaksanaan personal menjadi penentu apakah seseorang benar-benar memiliki literasi yang baik atau tidak.

Informasi kini hadir sangat kompleks, mulai dari yang ringan hingga yang mengkhawatirkan, dan semuanya dapat diakses dengan cepat. Kelemahan yang kerap muncul adalah ketergantungan pada media sosial yang berdampak pada pengelolaan waktu dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena lain yang juga mengemuka adalah keterjebakan dalam algoritma, yang pada akhirnya membentuk kebiasaan konsumsi informasi tanpa disadari.

Kembali pada persoalan buku, pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana seharusnya posisi manusia di hadapan buku. Setidaknya, ada beberapa cara pandang yang dapat dipertimbangkan.

Pertama, buku dapat menjadi sumber yang menyesatkan apabila dibaca tanpa kemampuan menyaring. Dalam kondisi ini, buku justru berpotensi membentuk pola pikir yang keliru. Seseorang bisa saja berkembang, tetapi menuju arah yang tidak tepat karena tidak memiliki ketajaman dalam memilih dan memahami bacaan.

Kedua, buku merupakan kebutuhan. Dalam dunia akademik, membaca menjadi bagian yang tidak terpisahkan, misalnya saat mahasiswa harus memahami buku metodologi penelitian. Dalam konteks profesi, seperti guru, membaca juga menjadi kebutuhan untuk menjaga kualitas keilmuan. Meski demikian, realitas menunjukkan bahwa tidak semua individu di lingkungan pendidikan menjadikan membaca sebagai kebiasaan.

Baca Juga:  Waspada “Kelompok Agamis” : Menggembosi Aksi Mengawal Demokrasi

Ketiga, buku menjadi kewajiban kultural bagi mereka yang ingin terus berkembang. Pada tahap ini, membaca bukan lagi sekadar tuntutan pekerjaan, melainkan kesadaran diri bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Kebiasaan membaca akan berdampak pada cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi. Namun demikian, membaca tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan kepribadian. Ada kalanya seseorang berkembang secara pengetahuan, tetapi belum sepenuhnya dalam aspek nilai dan sikap. Oleh karena itu, literasi perlu diperkuat dengan kemampuan analisis yang tajam.

Tokoh-tokoh besar menunjukkan betapa pentingnya tradisi membaca. Haji Abdul Malik Karim Amrullah dikenal sebagai ulama sekaligus sastrawan yang produktif. Karyanya, Tafsir Al Azhar, menjadi salah satu rujukan penting dan ditulis dalam situasi yang tidak mudah. Demikian pula Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia, yang memiliki kecintaan luar biasa terhadap buku dan menghasilkan ratusan karya tulis sepanjang hidupnya.

Dalam ajaran Islam, membaca memiliki kedudukan yang sangat fundamental. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca dalam Surah Al-Alaq ayat 1. Firman Allah SWT:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Menurut Haji Abdul Malik Karim Amrullah dalam Tafsir Al Azhar, kata “iqra” menjadi pintu awal pembangunan peradaban Islam. Hal ini menunjukkan bahwa membaca merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju.

Pada akhirnya, membaca adalah pilihan personal yang memiliki dampak luas. Memilih untuk membaca berarti membuka peluang untuk memahami, menganalisis, dan mengkritisi berbagai hal. Sebaliknya, menjauh dari membaca berpotensi membatasi cara pandang seseorang.

Hari Buku Sedunia semestinya tidak sekadar diperingati, tetapi dimaknai sebagai refleksi diri. Setidaknya, momentum ini dapat menjadi ajakan untuk membaca diri sendiri memahami siapa kita, ke mana arah kita, dan bagaimana kita memaknai pengetahuan dalam kehidupan. (*)

Baca Juga:  Puasa Dan Kesehatan Spiritual Manusia 1

1161 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Urgensi Ilmu Pengetahuan dari Zaman Kenabian hingga Era Digital

2 Mins read
Oleh: Ma’in SEJUK.ID – Sejarah peradaban manusia berulang kali menunjukkan satu pola yang tak berubah: kemajuan tidak pernah lahir dari kelimpahan materi…
Opini

Dulu Dipingit Feodalisme, Sekarang Dipingit Dresscode

2 Mins read
Oleh: Renci SEJUK.ID – Ketika sosial media dipenuhi dengan instastory mengenakan kebaya, artinya kita sedang merayakan Hari Kartini. Momentum tahunan setiap April…
Opini

Trump Klaim Iran Menyerah: Retorika Kemenangan atau Realitas Geopolitik?

1 Mins read
Oleh: Dr. Emaridial Ulza, MA (Akademisi Associate Professor Uhamka, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri, Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *