NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Urgensi Ilmu Pengetahuan dari Zaman Kenabian hingga Era Digital

2 Mins read

Oleh: Ma’in

SEJUK.ID – Sejarah peradaban manusia berulang kali menunjukkan satu pola yang tak berubah: kemajuan tidak pernah lahir dari kelimpahan materi semata, melainkan dari kekuatan pengetahuan. Dalam perspektif Islam, titik tolak itu bahkan ditegaskan sejak awal melalui wahyu pertama, Iqra, sebuah seruan yang menempatkan membaca sebagai fondasi peradaban.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, ilmu pengetahuan tidak diposisikan sekadar sebagai aktivitas kognitif, melainkan sebagai instrumen transformasi sosial. Di tengah masyarakat jahiliyah yang lekat dengan takhayul dan tradisi lisan, Nabi menghadirkan budaya literasi sebagai jalan pembebasan. Kebijakan pasca Perang Badar menjadi contoh penting: tawanan perang diberi kesempatan memperoleh kebebasan dengan mengajarkan baca-tulis kepada kaum Muslim. Pilihan ini menegaskan bahwa kemerdekaan berpikir dipandang lebih strategis daripada kemenangan fisik semata.

Warisan tersebut kemudian berlanjut pada periode yang kerap disebut sebagai Zaman Keemasan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat, melahirkan tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi di bidang matematika dan Ibnu Sina dalam ilmu kedokteran. Mereka tidak hanya mengkaji teks keagamaan, tetapi juga meneliti alam semesta sebagai manifestasi keimanan. Ilmu pengetahuan, dalam hal ini, menjadi jembatan antara wahyu dan realitas.

Memasuki era digital, urgensi ilmu pengetahuan justru semakin menguat. Jika pada masa lalu ilmu digunakan untuk membaca arah bintang dan menentukan navigasi, kini ia hadir dalam bentuk algoritma, kecerdasan buatan, dan analisis data yang mengarahkan kehidupan modern. Dunia tidak lagi hanya bergerak cepat, tetapi juga kompleks, menuntut kemampuan berpikir kritis dan literasi yang lebih tinggi.

Dalam konteks ini, pesan Iqra tidak kehilangan relevansinya. Ia justru menemukan makna baru: membaca bukan hanya teks, tetapi juga realitas sosial, arus informasi, dan dinamika teknologi. Tanpa bekal ilmu pengetahuan, individu akan mudah terjebak dalam pusaran hoaks, disinformasi, serta ketertinggalan ekonomi dan sosial.

Baca Juga:  Empat Makanan yang Kerap Ditemui Saat Hari Raya Idul Adha

Dari zaman kenabian hingga era kecerdasan buatan, satu prinsip tetap bertahan: penguasaan ilmu adalah kunci kepemimpinan peradaban. Karena itu, aktivitas belajar tidak bisa lagi dipandang sebagai pilihan, melainkan kebutuhan mendasar untuk bertahan dan berkembang.

Momentum Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia yang diperingati setiap 23 April seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia perlu dimaknai sebagai pengingat untuk membangun kembali kedekatan dengan buku, membaca secara rutin, sekaligus mendistribusikan pengetahuan melalui berbagi. Langkah sederhana, seperti meluangkan waktu membaca atau menyumbangkan buku ke perpustakaan, dapat menjadi kontribusi nyata dalam menghidupkan budaya literasi.

Pada akhirnya, ilmu pengetahuan adalah warisan yang tidak akan habis meski dibagikan. Semangat menuntut ilmu, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, perlu terus dirawat di tengah perubahan zaman. Dari sanalah harapan untuk menghidupkan kembali kejayaan peradaban, bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai proyek masa depan, menemukan pijakannya. (*)

1161 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

Buku dan Manusia Memaknai Dalam Merayakan Hari Buku Sedunia

2 Mins read
Oleh: Noval Sahnitri, S.Pd., Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam UM Metro dan Bendahara Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Hikmah Purbolinggo SEJUK.ID – Tak…
Opini

Dulu Dipingit Feodalisme, Sekarang Dipingit Dresscode

2 Mins read
Oleh: Renci SEJUK.ID – Ketika sosial media dipenuhi dengan instastory mengenakan kebaya, artinya kita sedang merayakan Hari Kartini. Momentum tahunan setiap April…
Opini

Trump Klaim Iran Menyerah: Retorika Kemenangan atau Realitas Geopolitik?

1 Mins read
Oleh: Dr. Emaridial Ulza, MA (Akademisi Associate Professor Uhamka, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri, Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *