SEJUK.ID – Dua mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Isa Asma’ul Husna dan Lasmana Adi Nugraha, meluncurkan inovasi aplikasi Qulina (Qur’an Inklusif Anak) sebagai media pembelajaran Al-Qur’an digital yang ramah anak dan tunanetra. Peresmian aplikasi ini digelar di Rektorat UNY pada Selasa (23/9/2025), dengan dukungan para dosen pembimbing, yaitu Dzul Fadli Rahman, Tsania Nur Diyana, dan Apry Aditya Saputra.
Qulina menghadirkan mushaf digital dengan berbagai fitur aksesibilitas, antara lain audio tajwid, navigasi suara, tampilan kontras tinggi, hingga komik interaktif berisi kisah Qur’ani. Aplikasi ini juga dilengkapi kuis edukatif berbasis gamifikasi serta sistem penghargaan yang dirancang untuk meningkatkan minat anak dalam mempelajari Al-Qur’an secara menyenangkan.
Inisiator Qulina, Isa Asma’ul Husna, menjelaskan bahwa aplikasi ini dikembangkan menggunakan framework Flutter yang terhubung dengan REST API Al-Qur’an milik Kementerian Agama. “Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar Al-Qur’an yang inklusif dan menyenangkan, khususnya bagi anak-anak tunanetra. Dengan komik interaktif, audio tajwid, dan gamifikasi, belajar Qur’an bisa terasa seperti bermain,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, terdapat 22,5 juta penyandang disabilitas di Indonesia, termasuk anak usia sekolah tunanetra yang berisiko mengalami kesenjangan pendidikan. Melihat kondisi tersebut, Qulina dihadirkan sebagai media pembelajaran Qur’an berbasis teknologi digital yang ramah disabilitas.
Dosen Departemen Pendidikan Teknik Informatika UNY, Dzul Fadli Rahman, menilai Qulina sebagai wujud komitmen mahasiswa dalam menggabungkan inovasi teknologi dengan kepedulian sosial. “Anak-anak dengan keterbatasan penglihatan tetap dapat belajar Qur’an secara interaktif melalui audio, komik yang bisa didengar, dan permainan edukatif. Aplikasi ini juga kami pastikan diuji oleh ahli maupun langsung oleh pengguna agar benar-benar ramah disabilitas,” jelasnya.
Senada dengan itu, Dosen Departemen Pendidikan Fisika UNY, Tsania Nur Diyana, menegaskan bahwa Qulina tidak sekadar proyek akademik, melainkan cerminan kepedulian mahasiswa terhadap kebutuhan masyarakat.
“Qulina menunjukkan bagaimana teknologi dapat diarahkan untuk kebermanfaatan sosial. Harapannya, aplikasi ini menjadi jembatan bagi anak-anak, termasuk tunanetra, untuk tetap merasakan keindahan dan nilai-nilai Al-Qur’an,” ungkapnya. (*)


