Oleh: Khosiyatika, M.Pd., Ketua Bidang IMMawati Jawa Tengah dan Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga
SEJUK.ID – Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk individu yang berkualitas dan masyarakat yang maju. Masa transisi dari Taman Kanak-Kanak (TK) ke Sekolah Dasar (SD) merupakan fase krusial dalam perkembangan anak. Peran guru pada fase ini tidak hanya penting untuk membantu siswa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru, tetapi juga memastikan mereka memiliki fondasi yang kuat untuk belajar dan berkembang di masa depan.
Guru di TK dan SD harus mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman, nyaman, dan merangsang bagi anak. Hal ini mencakup penyediaan ruang kelas yang ramah anak, permainan yang edukatif, serta aktivitas kolaboratif yang membangun keterampilan sosial mereka. Transisi dari TK ke SD sering kali melibatkan penyesuaian terhadap struktur pembelajaran yang lebih teratur. Guru berperan mempermudah proses ini dengan pendekatan yang mendukung dan adaptif.
Guru tidak hanya mengajarkan keterampilan akademis seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga berperan dalam mengembangkan keterampilan sosial anak. Mereka mengajarkan cara berinteraksi dengan teman sebaya dan guru, berbagi, berempati, serta berkolaborasi. Selama masa transisi, guru harus menyesuaikan pendekatan pembelajaran untuk memfasilitasi perkembangan keterampilan tersebut secara holistik.
Pada masa ini, guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga figur yang memberikan dukungan emosional dan inspirasi bagi siswa. Mereka membantu anak merasa percaya diri, mengatasi kecemasan akibat perubahan, serta menumbuhkan minat belajar. Guru yang sabar, peduli, dan mampu menjadi teladan akan membantu anak menghadapi tantangan dengan lebih baik.
Kerja sama antara guru TK dan guru SD sangat penting untuk memperlancar transisi siswa. Guru TK perlu memberikan informasi relevan mengenai perkembangan anak kepada guru SD, sedangkan guru SD harus siap menerima siswa dan menyesuaikan metode pembelajaran sesuai kebutuhan individu. Komunikasi yang efektif antara kedua pihak akan memastikan siswa merasa didukung dan mampu mengatasi tantangan yang mungkin muncul.
Selama masa transisi, guru memiliki kesempatan untuk mendorong perkembangan pribadi siswa dan menumbuhkan kemandirian. Hal ini mencakup pembiasaan tanggung jawab terhadap tugas sekolah, pengelolaan waktu, dan kemampuan mengatur diri secara efektif. Guru juga dapat memfasilitasi eksplorasi minat dan bakat siswa, sehingga mereka mampu mengenali potensi yang dimiliki di berbagai bidang.
Peran guru dalam masa transisi dari TK ke SD tidak terbatas pada aspek akademis, tetapi juga mencakup pengembangan sosial, emosional, dan pribadi anak. Guru menjadi penghubung penting antara masa prasekolah dan pendidikan formal, menyiapkan fondasi kokoh bagi perkembangan siswa di masa depan. Dengan pendekatan yang tepat dan perhatian yang cermat, guru dapat membantu setiap anak mengatasi tantangan transisi secara sukses dan mengembangkan potensi mereka secara optimal.
Referensi
Faqumala, D. A., & Pranoto, Y. K. S. (2020). Kesiapan anak masuk sekolah dasar. Penerbit NEM.
Fridani, L. (2018). Kesiapan sekolah dan transisi ke Sekolah Dasar (SD): Studi tentang perspektif dan praktik guru. Early Childhood Education Journal of Indonesia, 1(2), 39–45.
Musa, S., Nurhayati, S., Jabar, R., Sulaimawan, D., & Fauziddin, M. (2022). Upaya dan tantangan kepala sekolah PAUD dalam mengembangkan lembaga dan memotivasi guru untuk mengikuti program sekolah penggerak. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(5), 4239–4254.
Novitasari, N., Habibah, F. H., Yuniar, D. V., Sulistiowati, I. S., Erlina, K. R., Umah, K., … & Azkiyyah, C. (2022). Perancangan kelas desain interior dalam membentuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(2), 52–61.
Pertiwi, A. D., Nurfatimah, S. A., & Hasna, S. (2022). Menerapkan metode pembelajaran berorientasi student centered menuju masa transisi kurikulum merdeka. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 8839–8848.


