SEJUK.ID – Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM), Yusuf Hanafi, menekankan pentingnya penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) sebagai strategi membangun karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pendampingan Implementasi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk Membangun Karakter Moderat bagi TK, SD, dan SMP di Kota Mojokerto dan Kabupaten Malang, Sabtu (27/09/2025). Kegiatan ini dihadiri guru, siswa, dan perwakilan masyarakat setempat.
Menurut Yusuf, KAIH dirancang untuk menanamkan perilaku positif secara menyeluruh, mencakup dimensi jasmani, intelektual, sosial, dan spiritual anak. Melalui pembiasaan ini, generasi muda tidak hanya diharapkan unggul secara akademik, tetapi juga berintegritas, mandiri, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
“Program ini mengajarkan anak-anak untuk membiasakan tujuh perilaku utama: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, dan tidur lebih awal. Kebiasaan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi fondasi karakter agar anak-anak tumbuh disiplin, sehat, dan berakhlak,” jelas Yusuf.
Beberapa sekolah di daerah pelaksanaan bahkan telah menciptakan lagu khusus bertema KAIH sebagai media edukatif yang menarik. Melalui musik dan kegiatan kreatif, anak-anak lebih mudah mengingat dan menerapkan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Yusuf menekankan, pembentukan karakter anak tidak dapat hanya mengandalkan sekolah. Program ini dikembangkan melalui empat pusat pendidikan utama: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Keempat komponen tersebut harus bersinergi agar nilai-nilai positif benar-benar melekat dalam keseharian anak.
“Kebiasaan sederhana seperti bangun pagi, berolahraga, makan sehat, dan beribadah berdampak besar terhadap pembentukan mental dan moral anak. Jika dibiasakan sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang sehat jasmani, kuat spiritual, dan semangat belajar tinggi. Inilah pondasi bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” tegasnya.
Meski demikian, Yusuf mengungkapkan bahwa baru sebagian kecil sekolah di Indonesia yang secara konsisten menerapkan KAIH. Namun, sejumlah pemerintah daerah mulai mengadopsi program ini dalam kebijakan pendidikan, termasuk melalui kegiatan fisik rutin delapan menit per hari yang terintegrasi ke dalam kegiatan sekolah.
Selain aspek jasmani, program ini juga menekankan hidup sehat melalui pola makan bergizi dan penguatan spiritual melalui ibadah harian. Anak-anak juga dilibatkan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai bentuk latihan kepedulian dan tanggung jawab sosial.
“Seluruh komponen bangsa perlu bersinergi membangun budaya hidup sehat, cerdas, dan berkarakter bagi anak-anak. Dengan kebiasaan positif yang konsisten, kita menyiapkan generasi penerus yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat moral dan spiritual,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yusuf menekankan bahwa program KAIH sejalan dengan prioritas nasional dalam pembangunan sumber daya manusia. Pembiasaan hidup sehat dan berkarakter diyakini menjadi kunci utama mencetak generasi unggul, berdaya saing global, dan berjiwa kebangsaan kuat.
“Generasi muda adalah penentu arah masa depan bangsa. Dengan membentuk mereka sejak dini melalui kebiasaan baik, kita menyiapkan pondasi kokoh bagi Indonesia yang maju, mandiri, dan bermartabat,” pungkasnya. (*)


