SEJUK.ID – Dalam sunyi kampus yang sering kali hanya dipenuhi riuh rendah rutinitas akademik, ada denyut lain yang perlahan namun pasti sedang menyusun peradaban. Bukan lewat jargon, bukan pula melalui parade pujian, melainkan melalui kerja-kerja senyap kader muda yang menempuh jalan panjang: belajar, mengabdi, dan membentuk karakter.
Jalan itulah yang diyakini Dedek Helida Pitra, M.Sc., dosen Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Jambi, dalam buku terbarunya Menyemai Karakter—sebuah refleksi ilmiah sekaligus bentuk pengabdian ideologis terhadap organisasi yang membentuknya: Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
“IMM bukan sekadar organisasi,” tulis Dedek di pengantar bukunya. “Ia adalah madrasah peradaban, tempat mahasiswa tidak hanya belajar berpikir, tetapi juga belajar menjadi manusia yang utuh,” ujarnya.
Dengan latar belakang disertasi di Universitas Gadjah Mada, buku ini menjadi semacam peta jalan bagi generasi muda Muhammadiyah untuk kembali menemukan akar moralitas di tengah dunia yang kian gamang.
Dunia yang, sebagaimana dicatat Dedek, tengah diseret gelombang instanisme, krisis etika, dan fragmentasi sosial. Di tengah dunia yang retak itu, ia menyerukan satu hal: “Karakter adalah fondasi ketahanan pribadi dalam menghadapi derasnya arus zaman.”
Namun buku ini tidak berhenti pada tataran konsep. Ia menghadirkan kisah nyata ribuan kader yang ditempa di jalan dakwah—diberi ruang berpikir dalam diskusi, diajak bersuara atas ketimpangan, dan akhirnya digerakkan untuk hidup dalam cita-cita Islam berkemajuan.
Dalam salah satu bagian mendalam, Dedek menulis:
“IMM adalah gerakan intelektual profetik. Ia berpijak pada humanisasi, liberasi, dan transendensi. Di sinilah pendidikan karakter bukan sekadar kegiatan, melainkan perjumpaan antara nalar dan nurani.”
Tiga nilai itu—humanisasi, liberasi, dan transendensi—bukanlah sekadar slogan. Humanisasi berarti menjadikan ilmu dan kekuasaan sebagai sarana untuk memanusiakan manusia. Liberasi adalah keberanian membebaskan umat dari ketertindasan. Sementara transendensi menjadi arah spiritual yang menuntun kembali kepada Tuhan di tengah riuhnya aktivisme sosial.
IMM dalam pandangan Dedek bukanlah gerakan struktural yang terjebak dalam birokrasi internal. Ia adalah gerakan nilai. Melalui penelusuran sistem perkaderan berjenjang—Darul Arqam Dasar (DAD), Madya, hingga Paripurna—Dedek menyusun argumen kuat bahwa kader IMM dibentuk bukan melalui ceramah semata, melainkan melalui pengalaman yang membekas.
“Karakter dibentuk bukan dari dokumen, melainkan dari interaksi manusiawi yang konsisten,” tegasnya.
Kolektivitas IMM juga digambarkan sebagai kekuatan sosial yang melampaui sekadar kebersamaan. Dalam ruang-ruang itu, kader IMM belajar etika sosial, belajar menerima perbedaan, mengelola konflik, serta memaknai tanggung jawab bukan sebagai beban, tetapi sebagai panggilan sejarah.
Di tengah paparan empirik dan refleksi teoretis, Dedek tidak menutup mata terhadap krisis yang melanda mahasiswa saat ini. Ia mencatat mulai dari kasus klitih, prostitusi daring yang melibatkan mahasiswa, radikalisme ideologis, hingga pragmatisme politik. Kampus-kampus, menurutnya, bukan lagi benteng idealisme.
“Maka organisasi harus menjadi benteng karakter,” tulis Dedek dengan nada tegas. “IMM hadir justru untuk menampung kegelisahan zaman. Karena mahasiswa hari ini bukan sekadar pembelajar, mereka adalah penyambung peradaban.”
IMM, lanjutnya, harus berani hadir dalam ruang digital, memperkuat nalar kritis di era misinformasi, dan menjadi penyambung nilai-nilai moderat di tengah polarisasi ideologis yang memecah kampus maupun bangsa.
Di halaman-halaman akhir bukunya, Dedek mengajak pembaca untuk merenung:
“Indonesia tidak kekurangan orang cerdas, tetapi kekurangan orang jujur. Maka, IMM tidak cukup hanya mencetak akademisi. Ia harus melahirkan pemimpin yang berkarakter.”
Dalam wajah-wajah muda IMM yang menyusuri lorong-lorong kampus, kita mungkin melihat pelanjut sejarah. Namun Dedek mengajak kita melihat lebih jauh—melihat mereka sebagai penyala zaman. Mereka yang tidak hanya menyemai gagasan, tetapi juga menyemai karakter.
Dan dalam dunia yang makin kehilangan arah, menyemai karakter adalah bentuk revolusi paling sunyi—tetapi paling mendalam. (*)


