SEJUK.ID – Di tengah kesejukan pegunungan Trawas, Kabupaten Mojokerto, semangat dakwah kembali dipantik. Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong menggelar Upgrading Mubaligh II sebagai upaya memperkuat ideologi, meningkatkan kapasitas para juru dakwah, sekaligus menjaga keberlanjutan syiar Islam yang mencerahkan. Kegiatan berlangsung di Hotel dan Resort Arayana Trawas pada Jumat-Sabtu (26-27/6/2026).
Agenda tersebut tidak sekadar menjadi forum pelatihan formal. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang penguatan spiritual, intelektual, dan ideologis bagi para mubaligh Muhammadiyah agar tetap mampu menghadirkan dakwah yang relevan dengan tantangan zaman. Selama dua hari, para peserta dibekali berbagai materi yang meneguhkan visi dakwah Islam berkemajuan.
Upgrading menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Syamsudin, M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Bidang Tarjih, serta Dr. Hidayatulloh, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Keduanya mengulas pentingnya penguatan ideologi, metodologi dakwah, serta peran mubaligh dalam menjawab dinamika kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
Ketua Majelis Tabligh PCM Brondong, Ustaz Lubis Salam, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para mubaligh yang merupakan utusan terbaik dari setiap Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Cabang Brondong. Menurutnya, antusiasme peserta mencerminkan kesungguhan ranting-ranting Muhammadiyah dalam menjaga estafet dakwah di tengah masyarakat.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan jajaran Majelis Tabligh serta pleno PCM Brondong yang mendampingi seluruh rangkaian kegiatan. Baginya, menjaga kehidupan umat bukanlah tugas yang dapat dipikul oleh segelintir orang, melainkan amanah bersama yang membutuhkan kolaborasi seluruh unsur persyarikatan.
Ketua PCM Brondong, Drs. Mat Iskan, menaruh harapan besar terhadap keberlanjutan program ini. Ia mengimbau seluruh PRM di wilayah Cabang Brondong agar terus mengirimkan kader-kader mubaligh terbaik pada setiap agenda pembinaan. Menurutnya, ranting merupakan garda terdepan Muhammadiyah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sehingga kualitas mubaligh menjadi faktor penting dalam membangun peradaban umat.
Menghidupkan Ruh Dakwah yang Merangkul
Di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, dakwah tidak lagi cukup disampaikan melalui retorika di atas mimbar. Dakwah dituntut hadir sebagai teladan yang mampu menyentuh hati, menguatkan harapan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan kehidupan.
Melalui upgrading ini, para mubaligh diajak kembali merefleksikan hakikat dakwah yang mencerahkan sekaligus membahagiakan. Seorang mubaligh tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi sahabat masyarakat, menghadirkan empati bagi mereka yang kehilangan arah, mengalami kegelisahan, ataupun tersisih dari arus kehidupan.
Pertemuan di Trawas juga menjadi momentum recharging spiritual bagi para pejuang dakwah di tingkat akar rumput. Selama ini, para mubaligh ranting menjalankan amanah secara istiqamah, sering kali tanpa sorotan, menembus pelosok desa demi memastikan syiar Islam tetap hidup di tengah masyarakat.
Melalui penguatan ukhuwah, pendalaman ideologi, dan pembaruan semangat selama dua hari, para peserta diharapkan pulang dengan energi baru. Semangat itu kemudian dibawa kembali ke masjid, musala, majelis taklim, dan berbagai ruang sosial untuk terus menghadirkan dakwah yang teduh, inklusif, serta berkemajuan. (*)
Penulis : Ma’in | Editor : Fathan Faris Saputro


