NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Opini

Perempuan dan Peradaban

4 Mins read

Oleh: Aulia Safitri, A.Md.Kes., Bendahara Pustakaloka Cendekia Kota Metro dan Anggota RPK PC IMM Kota Metro

SEJUK.ID – Perempuan kerap hadir sebagai kekuatan yang bekerja dalam diam. Ia tidak selalu berdiri di panggung utama, tetapi dari tangannyalah banyak peradaban bertumbuh. Dari rahim perempuan lahir generasi baru, dari kasih sayangnya tumbuh keteguhan, dan dari kesabarannya lahir manusia-manusia yang kelak menentukan arah zaman.

Karena itu, membicarakan perempuan sejatinya bukan sekadar membicarakan satu kelompok manusia. Membicarakan perempuan berarti membicarakan masa depan sebuah masyarakat.

Sejarah menunjukkan, kualitas sebuah bangsa tidak pernah terlepas dari kualitas perempuan di dalamnya. Perempuan bukan hanya pelengkap dalam kehidupan sosial, melainkan bagian penting yang membentuk karakter, cara berpikir, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Seorang ibu yang mendidik anak dengan kasih, ilmu, dan keteladanan sesungguhnya sedang membangun pondasi peradaban.

Sebaliknya, ketika perempuan kehilangan ruang belajar, kehilangan harapan, dan kehilangan kesempatan untuk berkembang, masyarakat perlahan ikut kehilangan arah.

Ironisnya, di tengah besarnya peran itu, tidak sedikit perempuan tumbuh bersama luka. Banyak perempuan dipaksa bertahan dalam keadaan yang melelahkan. Mereka harus menghadapi tekanan sosial, rasa tidak percaya diri, kegagalan, kehilangan, bahkan rasa hancur yang dipendam sendirian.

Ada perempuan yang tampak kuat di luar, tetapi diam-diam sedang berjuang menjaga dirinya agar tidak runtuh.

Pengalaman-pengalaman semacam itu sering kali melahirkan ketangguhan yang tidak terlihat. Banyak perempuan pernah merasa gagal menjadi diri sendiri. Pernah merasa hidup tidak berpihak kepada mereka. Namun dari perjalanan yang sulit itu, muncul satu pelajaran penting: jalan yang berat kerap membentuk perempuan-perempuan paling kuat.

Luka tidak selalu melahirkan kehancuran. Dalam banyak keadaan, luka justru membuat seseorang lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Baca Juga:  Hukum sebagai Alat Kontrol Sosial

Perempuan yang pernah jatuh biasanya lebih memahami cara menguatkan. Perempuan yang pernah kehilangan lebih mengerti arti syukur. Sementara perempuan yang pernah menangis dalam diam sering kali menjadi tempat pulang bagi orang-orang yang sedang terluka.

Di titik itulah perempuan tidak lagi hanya dimaknai sebagai sosok yang bertahan hidup. Perempuan adalah tentang kemampuan untuk bangkit, bertumbuh, dan tetap berjalan meski keadaan tidak selalu mendukung.

Yang lebih penting, perempuan juga memiliki kemampuan untuk menguatkan perempuan lainnya.

Di tengah perkembangan zaman, tantangan perempuan semakin kompleks. Media sosial, misalnya, kerap menghadirkan standar hidup yang seragam. Banyak perempuan akhirnya sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Standar kecantikan yang sempit membuat sebagian perempuan lupa bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh penampilan fisik semata.

Tidak sedikit yang merasa harus selalu sempurna agar diterima lingkungan.

Padahal manusia tidak diciptakan untuk menjadi tanpa cela. Manusia diciptakan untuk terus belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri.

Karena itu, perempuan perlu kembali mengenali dirinya sendiri. Harga diri perempuan tidak ditentukan oleh jumlah pengikut di media sosial, pujian manusia, ataupun standar hidup yang dipaksakan lingkungan. Nilai seorang perempuan terletak pada akhlaknya, ilmunya, keberaniannya, dan kemampuannya bertahan ketika hidup berkali-kali menjatuhkannya.

Perubahan besar juga tidak selalu lahir dari langkah yang gaduh. Banyak perubahan justru dimulai dari keberanian-keberanian kecil: keberanian pulih dari luka, keberanian mencoba lagi setelah gagal, atau keberanian berjalan meski belum sepenuhnya yakin.

Keberanian perempuan sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Ada perempuan yang kembali menulis setelah lama kehilangan semangat hidup. Ada yang memulai usaha kecil demi membantu keluarga. Ada pula yang melanjutkan pendidikan di usia yang tidak lagi muda.

Baca Juga:  Buku dan Manusia Memaknai Dalam Merayakan Hari Buku Sedunia

Bahkan, ada perempuan yang sedang belajar mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa hidupnya masih layak diperjuangkan.

Langkah-langkah kecil seperti itu sering dianggap biasa. Padahal dari sanalah perubahan besar bermula. Perempuan yang belajar hari ini mungkin akan melahirkan generasi yang cerdas di masa depan. Perempuan yang mulai percaya pada dirinya sendiri hari ini mungkin akan menjadi cahaya bagi perempuan lain yang hampir menyerah.

Karena itu, perempuan tidak boleh berhenti berkarya. Menulis, belajar, mengajar, berbagi pengalaman, hingga menyebarkan kebaikan adalah bagian dari cara perempuan menjaga peradaban. Sebab peradaban tidak hanya dibangun oleh teknologi dan kekuasaan, tetapi juga oleh hati yang hidup dan pikiran yang tercerahkan.

Memang, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Masih banyak keterbatasan, mimpi yang tertunda, dan proses panjang yang melelahkan. Namun perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang yang paling penting adalah tetap berjalan dan tidak menyerah pada keadaan.

Perempuan juga perlu belajar berdamai dengan proses hidupnya. Tidak semua hal harus selesai hari ini. Tidak semua impian harus segera tercapai. Ada fase ketika seseorang hanya perlu bertahan sambil terus memperbaiki niat dan langkahnya.

Sebab proses yang lambat bukan berarti gagal. Bisa jadi, Allah sedang mempersiapkan sesuatu pada waktu yang paling tepat.

Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar hasil hingga lupa menghargai proses. Padahal proses itulah yang membentuk kekuatan seseorang. Dari proses, perempuan belajar sabar. Dari proses, perempuan belajar ikhlas. Dan dari proses pula perempuan memahami bahwa tidak semua hal harus dimengerti saat ini juga.

Di tengah perjalanan itu, syukur menjadi hal penting yang perlu dijaga. Syukur membuat hati lebih tenang dan membantu seseorang melihat harapan di tengah kesulitan. Syukur mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang mampu menghargai apa yang sudah dimiliki.

Baca Juga:  Kabar Gembira Dari Tuhan

Karena itu, perempuan membutuhkan ruang untuk pulih. Ruang untuk kembali mendekat kepada Allah. Ruang untuk menata hati, pikiran, dan menerima diri sendiri tanpa terus-menerus merasa kurang.

Hal-hal sederhana seperti menulis jurnal syukur, memperbaiki ibadah, membaca, belajar, dan menjaga lingkungan yang sehat mungkin tampak kecil. Namun dari kebiasaan sederhana itulah ketenangan perlahan tumbuh. Dan dari ketenangan itulah lahir kekuatan untuk melanjutkan hidup.

Pada akhirnya, perempuan dan peradaban adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Ketika perempuan dikuatkan, generasi ikut dikuatkan. Ketika perempuan diberi ruang untuk bertumbuh, masyarakat pun ikut berkembang.

Dan ketika perempuan kembali dekat dengan Allah, ia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga membawa cahaya bagi banyak orang di sekitarnya.

Barangkali kita belum menjadi manusia yang sepenuhnya utuh. Kita masih belajar menerima hidup, belajar pulih dari luka, dan belajar memahami diri sendiri. Namun itu bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Sebab perempuan tidak harus berjalan sendirian.

Kita bisa pulih bersama.
Kita bisa belajar bersama.
Dan kita bisa kembali kepada Allah dengan langkah yang lebih tenang, lebih terarah, serta lebih penuh harapan. (*)

Editor : Fathan Faris Saputro

1185 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Opini

IPM ke Depan Jangan Sampai Salah Memposisikan Diri

3 Mins read
Oleh: Noval Sahnitri, Ketua Bidang KDI PW IPM Lampung SEJUK.ID – Selama satu dekade terakhir, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berkembang cukup pesat….
Opini

Hari Pers Sedunia 2026: Momentum Guru dan Siswa Perkuat Literasi dari Ruang Kelas

2 Mins read
Oleh: Ma’in SEJUK.ID – Tanggal 3 Mei kembali diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia. Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian…
Opini

Hardiknas di Era Digital: Harapan Besar, Tantangan Nyata

1 Mins read
Oleh: Ma’in SEJUK.ID – Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Momentum yang bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *