SEJUK.ID – Di tengah hiruk-pikuk jalur Pantura yang tak pernah benar-benar terlelap, tersimpan sebuah kisah inspiratif tentang pengabdian sepasang suami istri yang memilih jalan sunyi: menghidupkan jiwa masyarakat pesisir melalui pendidikan dan dakwah. Mereka adalah Bapak Tarmuji dan Ibu Asmah, dua nama yang bagi warga Desa Labuhan menjadi simbol ketulusan dan dedikasi tanpa batas.
Bulan Madu di Atas Kapur Tulis
Tahun 1966 semestinya menjadi masa penuh kebahagiaan bagi pasangan muda ini. Namun, panggilan dakwah dari tokoh Labuhan, H. Zuhri, mengubah arah perjalanan hidup mereka. Tarmuji, pemuda asal Kertosono, bersama sang istri memutuskan hijrah ke Desa Labuhan untuk menghidupkan kembali MI GUPPI Labuhan.
Kondisi madrasah saat itu sangat memprihatinkan. Hanya ada dua tenaga pengajar, Tarmuji dan Asmah, yang harus mengampu enam kelas sekaligus. Gaji bulanan nyaris tak ada. Sebagai gantinya, mereka menerima beras atau ikan hasil laut dari wali murid secara sukarela.
Bahkan, demi memastikan proses belajar tetap berjalan, Pak Tarmuji tak segan menggunakan uang pribadinya untuk membeli kapur tulis. Sebuah pengorbanan sederhana yang menjadi fondasi lahirnya generasi terdidik di pesisir.
Disiplin Baja, Hati Selembut Sutra
Dengan postur tinggi tegap dan kumis tegas, Pak Tarmuji dikenal sebagai sosok yang disiplin. Ia menghadirkan ketegasan layaknya seorang perwira di ruang kelas. Namun, di balik itu, tersimpan kelembutan hati yang luar biasa.
Rutinitasnya tak mengenal lelah. Pagi hari mengajar di madrasah, sore membimbing anak-anak mengaji, dan pada malam hari, khususnya Selasa dan Kamis, rumahnya terbuka bagi siswa yang ingin belajar tambahan secara gratis.
“Keinginan kuat dan ghirah perjuangan dakwah Islam mampu mengalahkan kesenangan pribadi. Itulah prinsip yang selalu beliau pegang teguh,” tutur Asmah, mengenang sosok suaminya.
Jejak Abadi: Babut Taubah
Pengabdian Pak Tarmuji tak hanya terbatas di ruang kelas. Ia juga dikenal sebagai dai yang lantang menyuarakan nilai-nilai keislaman dari mimbar ke mimbar, mulai dari Masjid Jami Darussalam hingga berbagai musala di Desa Labuhan.
Salah satu warisan bersejarahnya adalah penamaan Musala Babut Taubah pada tahun 1980. Nama yang berarti “Pintu Taubat” tersebut menjadi simbol harapan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada Tuhan.
Berpulang dalam Kesederhanaan
Meski kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan mengajar di beberapa sekolah, seperti SDN Labuhan 1 hingga SDN Tlogoretno, Pak Tarmuji tetap hidup sederhana. Ia memilih tinggal di rumah-rumah bersahaja di Dusun Kentong, bahkan kerap berpindah demi tetap dekat dengan masyarakat yang dicintainya.
Bapak Tarmuji wafat pada 17 Oktober 2017 dan dimakamkan di Sremeng, Blimbing. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun semangat juangnya tetap hidup.
Setiap dering lonceng sekolah di Labuhan dan setiap lantunan azan dari Musala Babut Taubah seolah menjadi pengingat akan jejak pengabdian yang tak lekang oleh waktu.
Kisah Bapak Tarmuji dan Ibu Asmah mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan tentang fasilitas mewah, melainkan tentang hati yang tulus memberi tanpa pamrih. (*)
Penulis : Ma’in | Editor : Fathan Faris Saputro


