SEJUK.ID – Menjelang bulan suci Ramadan, Ahmad Imam Mujadid Rais, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan komitmen lembaganya menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri sekaligus penguatan ketangguhan dan kesejahteraan umat. Hal itu disampaikan dalam agenda ZISKA Talks Tarhib Ramadan bertema “Tangguh dan Sejahtera: Dari Respons ke Pemulihan Bencana Sumatra.”
Mujadid Rais menjelaskan, pesan utama Ramadan yang bermuara pada nilai ketakwaan harus dimaknai secara luas. Ketakwaan tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual dan individual, tetapi juga berdampak pada etos kerja, integritas, serta tanggung jawab sosial.
“Pesan takwa mengajarkan kita tetap berbuat baik dalam keadaan apa pun, baik ada pengawas maupun tidak. Bekerja sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan terus memperbaiki diri. Namun Ramadan tidak berhenti pada dimensi individu, melainkan harus menjadi momentum konsolidasi kekuatan sosial umat,” ujarnya.
Ia menekankan, program Ramadan seperti pembagian takjil dan kado Ramadan perlu dirancang bukan sekadar seremonial, melainkan memberdayakan. Pelibatan pelaku UMKM, khususnya ibu rumah tangga yang mengalami penurunan pesanan, dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal selama bulan puasa.
“Program takjil dan kado Ramadan harus menjadi bagian dari pemberdayaan umat. Kita bisa melibatkan UMKM agar roda ekonomi berputar. Ini bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah memberi dampak berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan zakat merupakan instrumen strategis mewujudkan keadilan sosial. Ia mengingatkan kembali keputusan penting dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 1965 di Bandung yang menekankan zakat sebagai alat pengentasan kemiskinan dan pemerataan kesejahteraan.
“Zakat tidak boleh dipahami sebatas penyaluran bantuan. Zakat harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki. Sejumlah riset bahkan menunjukkan zakat berkontribusi pada peningkatan indeks pembangunan manusia dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan,” tegasnya.
Selain penguatan kesejahteraan, Lazismu juga memberi perhatian serius pada agenda ketangguhan bencana melalui program Indonesia Siaga. Menurutnya, respons bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi harus berlanjut hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
Ia mencontohkan pengalaman penanganan gempa di Cianjur, ketika pembangunan fasilitas kesehatan Muhammadiyah tetap dilakukan bertahun-tahun setelah bencana sebagai bentuk komitmen jangka panjang.
Menurutnya, ketangguhan bangsa Indonesia memiliki fondasi kuat pada nilai spiritual dan modal sosial seperti gotong royong. Namun, kekuatan tersebut harus diperkuat dengan sistem mitigasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk edukasi kebencanaan serta sistem peringatan dini.
Dalam konteks strategis ke depan, Mujadid Rais memaparkan empat agenda prioritas Lazismu, yakni penguatan ekosistem zakat nasional, digitalisasi tata kelola, pengembangan model disaster resilience berbasis masjid dan komunitas, serta pengarusutamaan zakat dalam kebijakan kesejahteraan nasional.
Pertama, penguatan ekosistem zakat nasional melalui integrasi antarlembaga, inovasi program sosial, serta konsolidasi penghimpunan dan pendayagunaan dana agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan.
Kedua, digitalisasi tata kelola dan pelaporan untuk memastikan profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas lembaga filantropi. Menurutnya, sistem digital memungkinkan laporan diakses lebih luas, cepat, dan akurat, sekaligus memperkuat kepercayaan publik.
Ketiga, pengembangan model ketangguhan bencana berbasis masjid dan komunitas. Ia menilai negara rawan bencana membutuhkan sistem yang tidak hanya responsif, tetapi juga preventif dan terencana.
Keempat, pengarusutamaan zakat dalam arsitektur kebijakan kesejahteraan nasional. Menurutnya, zakat memiliki posisi strategis sebagai instrumen ekonomi sekaligus sosial yang mampu memperkuat sistem perlindungan masyarakat.
“Kita perlu mendorong agar zakat semakin diakui sebagai bagian dari kebijakan kesejahteraan nasional. Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga instrumen pembangunan yang memperkuat keadilan sosial,” pungkasnya. (*)
Penulis Soleh. Editor Fathan Faris Saputro.


