SEJUK.ID – Program Touring Literasi yang bersinergi dengan Kenduri Literasi menggelar seminar bertema Kajian Budaya dan Sastra Jawa di UPT Perpustakaan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada Jumat (21/11/2025). Kegiatan ini menjadi wujud kolaborasi dalam menguatkan budaya literasi dan pelestarian identitas budaya Jawa.
Seminar ini merupakan bentuk komitmen dalam menumbuhkan budaya literasi serta implementasi kolaborasi antara UPT Perpustakaan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, PT Enam Kubuku Indonesia, dan Gerakan Pembudayaan Minat Baca Provinsi Jawa Timur.
Acara tersebut dihadiri oleh mahasiswa, dosen, pegiat literasi, pustakawan, dan masyarakat umum. Seminar menghadirkan dua narasumber, yaitu Bambang Prakoso—Dosen, Kepala UPT Perpustakaan UWKS, sekaligus Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca Jawa Timur—dan M. Yofi Prayoga, pendidik sekaligus pemerhati sastra Jawa.
Kajian budaya dalam seminar ini membahas berbagai aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang memengaruhi cara manusia berpikir dan bertindak dalam masyarakat. Fokus pembahasan diarahkan pada budaya Jawa yang dinilai semakin tercerabut dari akar.
Bambang Prakoso menyampaikan bahwa terdapat keterputusan deposit peradaban secara kolektif. Tidak hanya Generasi Z yang kurang mengenal budaya dan kearifan lokal, tetapi Generasi Milenial juga mengalami hal serupa.
Ia juga membahas secara khusus aliran kepercayaan leluhur orang Jawa melalui empat pendekatan. Pertama, pendekatan ilmiah yang bersumber dari tulisan akademik. Kedua, pendekatan dogmatis yang merujuk pada tiga agama Ibrahimi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam—tiga agama yang memiliki leluhur sama, yakni Nabi Ibrahim. Ketiga, pendekatan mitologi yang bersumber dari karya para pujangga Jawa. Keempat, pendekatan teosofi yang berisi penjelasan para tokoh supranatural, misalnya pengakuan pengalaman memasuki alam gaib.
Sementara itu, M. Yofi Prayoga memaparkan pentingnya revitalisasi konsep ngenger dan ngajeni dengan mengidentifikasi adanya krisis integritas akademik di perguruan tinggi Indonesia. Krisis tersebut ditandai dengan maraknya praktik plagiarisme digital, copy–paste, dan keinginan menyelesaikan tugas akhir secara instan. Menurutnya, krisis epistemologi ini merupakan kritik keras terhadap sistem pendidikan yang gagal menanamkan falsafah Jer Basuki Mawa Beya, bahwa setiap keberhasilan menuntut pengorbanan dan usaha nyata.
Akibatnya, banyak lulusan hanya mencapai level “tahu” tetapi minim “ngelmu”, yang sejatinya hanya dapat dicapai melalui laku atau perbuatan yang sungguh-sungguh, sebagaimana ungkapan “Ngelmu iku kalakone kanthi laku.”
Revitalisasi ngenger dipaparkan sebagai strategi pertama yang menekankan pengembalian nilai laku ke dalam kurikulum melalui model Ngenger Wajib. Proses penempaan yang tidak mudah ini dirancang untuk membangun ketahanan mental (grit) yang mampu melawan budaya instan dan kecenderungan plagiat.
Adapun ngajeni berfokus pada pembangunan adab sebagai benteng moral. Pemateri menjelaskan bahwa plagiarisme sering berakar pada ujub (kesombongan intelektual) dan minimnya andhap asor (kerendahan hati). Gerakan ngajeni dimaksudkan untuk melatih etika harian, termasuk etika komunikasi tertulis (unggah-ungguh) yang memiliki korelasi kuat dengan meningkatnya integritas mahasiswa, pungkas Yofi. (*)


