SEJUK.ID – Tumpukan eceng gondok yang selama ini memenuhi sejumlah perairan di Lamongan kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan yang mengganggu. Tanaman gulma tersebut biasanya hanya dibersihkan tanpa diolah lebih lanjut sehingga belum memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Berangkat dari persoalan tersebut, sejumlah siswi SMAN 2 Lamongan menghadirkan inovasi bertajuk Sikebun Garden Kit, sebuah paket menanam edukatif yang memadukan pemanfaatan limbah eceng gondok, pendidikan lingkungan, dan teknologi digital. Produk ini lahir sebagai upaya mengubah masalah lingkungan menjadi solusi yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi.
Sikebun Garden Kit dikembangkan melalui kolaborasi dengan Gerakan Garpu Sendok (Gerakan Perahu Sikat Eceng Gondok). Inovasi tersebut tidak hanya menawarkan produk ramah lingkungan, tetapi juga mengusung misi menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
“Sikebun Garden Kit lahir dari keyakinan bahwa masalah lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara biasa. Kami ingin membuktikan bahwa eceng gondok yang selama ini dianggap limbah dan gulma pengganggu dapat diolah menjadi media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Nabila Ghina, perwakilan tim pengembang Sikebun.
Gagasan pengembangan produk ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi ekosistem perairan di Lamongan, khususnya di kawasan Sungai Bengawan Solo. Sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa dengan panjang sekitar 548 kilometer, Bengawan Solo memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Namun, aktivitas manusia di sepanjang aliran sungai turut memunculkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran air hingga terganggunya keseimbangan ekosistem.
Menurut Nabila, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali menjadi salah satu persoalan yang kerap dijumpai di kawasan tersebut.
“Dalam kondisi tertentu, eceng gondok hampir menutupi seluruh permukaan sungai dan menghambat aktivitas transportasi perahu masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaannya telah menjadi masalah lingkungan yang perlu ditangani,” katanya.
Melalui kerja sama dengan Gerakan Garpu Sendok, eceng gondok yang diangkat dari sungai kemudian diolah bersama limbah kertas yang diperoleh dari bank sampah setempat. Kombinasi kedua bahan tersebut menghasilkan pot tanaman biodegradable yang dapat terurai secara alami di dalam tanah.
Tidak hanya menawarkan produk fisik, Sikebun Garden Kit juga mengintegrasikan teknologi digital melalui platform Growlab yang dapat diakses melalui laman growlab.my.id. Platform ini menjadi sarana pembelajaran interaktif bagi pengguna untuk mempelajari teknik menanam sekaligus memantau perkembangan tanaman.
Menariknya, Growlab dilengkapi berbagai fitur gamifikasi, seperti tantangan, sistem poin, penghargaan (reward), dan papan peringkat (leaderboard). Fitur tersebut dirancang untuk meningkatkan minat anak-anak dan remaja dalam merawat tanaman serta memahami pentingnya pelestarian lingkungan.
Sikebun Garden Kit memiliki sejumlah keunggulan, antara lain pot ramah lingkungan berbahan eceng gondok dan kertas daur ulang yang dapat langsung ditanam ke tanah, paket berkebun lengkap yang berisi bibit tanaman, pupuk organik, dan peralatan berkebun, serta akses ke ekosistem digital Growlab melalui pemindaian kode batang (barcode).
Selain itu, produk ini juga memberikan dampak sosial melalui pemberdayaan masyarakat dalam proses produksi dan penyelenggaraan workshop edukasi lingkungan. Kegiatan tersebut mencakup pelatihan menanam hingga melukis pot yang ditujukan untuk mengembangkan kreativitas anak-anak sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap alam.
Ke depan, tim pengembang berharap Sikebun Garden Kit dapat menjadi model pemanfaatan potensi lokal yang terintegrasi dengan teknologi serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Inovasi ini diharapkan menjadi salah satu contoh nyata penerapan ekonomi sirkular yang berkontribusi terhadap terwujudnya masa depan yang lebih berkelanjutan.
Sikebun merupakan proyek kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) yang berpartisipasi dalam ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2026. Berbasis di Lamongan, proyek ini berfokus pada pengembangan solusi lingkungan melalui pemanfaatan limbah perairan lokal yang dipadukan dengan teknologi digital untuk menciptakan ekosistem hijau yang inklusif bagi masyarakat dan generasi mendatang. (*)


