SEJUK.ID – Aroma mentega dan tepung panggang menyeruak di area produksi Pia Mahen, Sidoarjo, Kamis (8/1/2026) pagi, sejak pukul 08.30 WIB. Kehadiran rombongan siswa kelas IV SD Muhammadiyah 18 Surabaya dalam agenda Pembelajaran Luar Kelas (PLK) seketika mengubah rumah produksi tersebut menjadi ruang belajar interaktif yang sarat aktivitas literasi dan edukasi teknis.
Sejak memasuki area kerja, perhatian para siswa tertuju pada jajaran peralatan produksi yang tertata rapi. Mengenakan perlengkapan pelindung sesuai standar kebersihan, setiap siswa memegang lembar analisis mandiri untuk mencatat setiap detail yang mereka amati secara langsung.
Observasi Mendalam Proses Produksi
Melalui lembar analisis tersebut, siswa mendeskripsikan berbagai peralatan yang menjadi tulang punggung produksi pia. Mulai dari mesin pengaduk berkapasitas besar yang mengolah adonan hingga kalis, meja besi tahan karat untuk membentuk pia, hingga oven industri yang memancarkan panas secara konsisten.
Pemilik Pia Mahen, Srinah, memberikan penjelasan langsung mengenai filosofi dapur produksinya. Ia menekankan bahwa konsistensi rasa bermula dari ketepatan takaran dan kebersihan proses.
“Kami menyambut baik antusiasme anak-anak ini. Penting bagi mereka memahami bahwa dalam dunia usaha, setiap tahapan produksi harus dilakukan dengan teliti agar menghasilkan produk yang berkualitas,” ujar Srinah di sela kegiatan.
Tidak hanya mengamati alat, siswa juga mencermati bahan baku yang digunakan. Mereka mengamati tekstur tepung terigu, warna kuning keemasan margarin, serta kelembutan isian kacang hijau dan cokelat. Seluruh data dicatat secara saksama agar sesuai dengan komposisi asli yang digunakan perajin.
Sinkronisasi Materi Teks Prosedur
Puncak kegiatan PLK terjadi saat siswa mengamati alur kerja produksi secara kronologis, yang menjadi inti pembelajaran teks prosedur. Pengamatan dimulai dari tahap penyiapan adonan, ketika bahan kering dan basah disatukan menggunakan mesin pengaduk hingga mencapai elastisitas yang tepat.
Proses berlanjut pada tahap pelapisan kulit pia, memperlihatkan keterampilan perajin melipat adonan berulang kali untuk menghasilkan tekstur renyah berlapis. Siswa kemudian mencatat teknik pengisian dan pencetakan, mulai dari memasukkan isian ke tengah adonan hingga membentuk bulatan sempurna melalui gerakan memutar.
Tahap akhir berupa pemanggangan menunjukkan transformasi adonan dari warna pucat menjadi cokelat keemasan di bawah pengawasan suhu oven yang ketat. Seluruh rangkaian proses tersebut dicatat secara sistematis menggunakan kata kerja operasional sesuai kaidah teks prosedur.
Belajar Mandiri Lewat Analisis Lapangan
Suasana belajar semakin hidup saat siswa berdialog langsung dengan instruktur produksi untuk melengkapi data dalam lembar analisis. Ketelitian menjadi poin utama. Bahkan, detail pengemasan pia yang telah dingin agar teksturnya tetap terjaga turut menjadi perhatian.
Koordinator kegiatan PLK kelas IV, Mochamad Rafiansyach Hartono, S.Pd., menilai pembelajaran langsung di lingkungan industri lebih efektif dalam mengasah daya kritis siswa.
“Kami ingin siswa tidak hanya menghafal teori teks prosedur di kelas, tetapi memahami penerapannya di lapangan. Dari sini mereka belajar bahwa satu langkah yang terlewat dapat memengaruhi kualitas hasil akhir. Ini pelajaran nyata tentang akurasi dan tanggung jawab,” ujarnya.
Melalui kunjungan ini, siswa memperoleh gambaran konkret bahwa teks prosedur merupakan refleksi kedisiplinan dan ketepatan tindakan di dunia nyata. Pengalaman belajar di Pia Mahen berhasil mentransformasikan aktivitas observasi menjadi karya tulis deskriptif yang sistematis. Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi dan pengumpulan lembar analisis sebagai bahan evaluasi guru terhadap pemahaman struktur teks prosedur dan kemampuan observasi lapangan siswa. (*)
Penulis Mochamad Rafiansyach Hartono. Editor Fathan Faris Saputro.


