NEW!Incredible offer for our exclusive subscribers! Read More
Pendidikan

Efisiensi Energi: Jalan Hijau UAD Menuju Kampus Ramah Lingkungan di Tengah Krisis Iklim

2 Mins read

SEJUK.ID – Di saat banyak perguruan tinggi masih ragu melangkah menuju efisiensi energi karena dianggap mahal dan rumit, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) justru menjadikannya sebagai kebijakan strategis jangka panjang. Langkah ini tidak hanya bertujuan menekan biaya operasional, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab moral dan ekologis di tengah krisis iklim global.

“Efisiensi energi di UAD tidak lahir dari tekanan eksternal. Ini adalah dorongan internal karena kami menyadari bahwa kampus memiliki tanggung jawab sosial dan ekologis,” ujar Ahid, perwakilan dari Tim Efisiensi Energi UAD.

“Ini bukan sekadar soal penghematan listrik, melainkan tentang membangun kesadaran kolektif bahwa pendidikan tinggi harus menjadi teladan dalam menghadapi krisis lingkungan,” lanjutnya.

Mulai dari Hal Kecil, Berdampak Besar

Kesadaran bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar menjadi prinsip dasar gerakan efisiensi energi di UAD. Kampus yang berada di jantung Kota Yogyakarta ini memulainya dengan mengganti lampu konvensional menjadi LED, beralih ke AC inverter yang lebih hemat energi, serta mendorong budaya mematikan peralatan elektronik saat tidak digunakan.

Langkah konkret lainnya terlihat di Kampus 4 UAD, di mana seluruh penerangan luar ruangan sudah memanfaatkan tenaga surya.

“Ini menunjukkan keseriusan kami dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” kata Ahid.

Pada 2024, UAD membentuk Tim Efisiensi Energi yang langsung bergerak cepat melakukan audit energi, mengidentifikasi titik-titik pemborosan, dan menyusun strategi penghematan yang realistis. Bersama mitra seperti Seribu Cahaya, tim ini mendapat pelatihan teknis yang memperkuat kapasitas mereka.

Hasilnya pun terasa nyata. Meskipun gedung baru delapan lantai mulai beroperasi, tagihan listrik tetap stabil.

“Awalnya kami memprediksi bisa naik hingga Rp200 juta per bulan, tetapi nyatanya tetap terkendali,” jelas Ahid.

Baca Juga:  Keuntungan dan Kerugian Homeschooling: Eksplorasi Pendidikan Alternatif

Perubahan Perilaku sebagai Kunci

Keberhasilan efisiensi energi di UAD tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi lebih pada perubahan perilaku. Pendekatan persuasif digunakan untuk membangun kesadaran di kalangan warga kampus. Sosialisasi hemat energi dilakukan melalui berbagai saluran, termasuk grup WhatsApp civitas akademika, terutama saat libur panjang.

“Kami tidak ingin gerakan ini menjadi beban. Maka dari itu, pendekatannya empatik, bukan koersif,” ujar Ahid. Meski sempat ada resistensi karena dianggap mengurangi kenyamanan, edukasi yang konsisten berhasil menumbuhkan rasa memiliki terhadap gerakan hemat energi.

Perubahan budaya memang memerlukan waktu, namun UAD membuktikan bahwa pendekatan yang konsisten dan manusiawi mampu menembus sekat-sekat kebiasaan lama.

Gerakan efisiensi energi di UAD tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari ekosistem keberlanjutan yang mencakup pengelolaan sampah, penghijauan, dan keterlibatan mahasiswa. Komunitas “Green Campus Community” menjadi motor penggerak berbagai kegiatan lingkungan, dari edukasi hingga aksi konkret.

Sampah diolah secara terpilah. Limbah organik diubah menjadi kompos, sementara plastik diproses melalui mesin pirolisis karya dosen UAD. Sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan kampus, dan gerakan mahasiswa menjadi pilar utama pembentukan budaya hijau.

Peta Jalan Menuju Green Campus

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, UAD tengah menyusun peta jalan (roadmap) Green Campus. Dokumen ini menjadi panduan strategis agar gerakan keberlanjutan tidak terhenti pada satu periode kepemimpinan semata.

Peta jalan tersebut mencakup strategi efisiensi energi, penghijauan, pengelolaan sampah, dan integrasi pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum. Meski tidak gencar melakukan kampanye publik, model UAD justru menginspirasi banyak kampus lain yang datang langsung untuk belajar.

Apresiasi pun berdatangan. Dalam ajang UI GreenMetric, UAD meraih predikat The Best New Participant sebagai bentuk pengakuan atas inovasi dan komitmen yang telah ditunjukkan.

Baca Juga:  Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan Bagi Peserta Didik

“Keberhasilan kami bukan terletak pada anggaran besar, tetapi pada keberanian untuk memulai dan komitmen kolektif yang konsisten,” tutur Ahid menutup.

Dengan pendekatan partisipatif, UAD membuktikan bahwa kampus bukan hanya tempat mencetak intelektual, tetapi juga bisa menjadi pelopor perubahan demi menjaga kelestarian bumi. (*)

Penulis Alif Jihad Rais

1090 posts

About author
Penulis buku Dahsyatnya Surah Yusuf: Strategi Hidup dari Seorang Nabi (2025), Kenapa Harus Berubah? Karena Tuhan Sesayang Itu (2024), dan Luwesitas IMM (2023). Akun IG : iamfaris.28
Articles
Related posts
Pendidikan

MI Tahfidz Alhaniif Cirebon Raih Medali Perunggu di Olimpiade Bahasa Arab Nasional 2025

1 Mins read
SEJUK.ID – Prestasi yang diraih Maryam dan Bilkis ini menegaskan konsistensi MI Tahfidz Alhaniif dalam kompetisi bahasa Arab. Sebelumnya, pada OBA ke-7…
Pendidikan

Mahasiswa UNY Luncurkan G-Waqf: Gerakan Wakaf Hijau untuk Bumi Lestari

2 Mins read
SEJUK.ID – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menorehkan prestasi inovatif melalui gagasan dua mahasiswinya, Marlita Wulansari dan Anisa Rahmawati. Mereka meluncurkan aplikasi…
Pendidikan

Urgensi Self-Care bagi Guru

2 Mins read
Oleh: Khosiyatika, M.Pd., Ketua Bidang IMMawati Jawa Tengah dan Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga SEJUK.ID – Guru merupakan orang tua peserta…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *