SEJUK.ID – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan mencetuskan ide brilian dengan menggelar Camp Literasi perdana bagi pelajar tingkat menengah atas di Kabupaten Magetan. Kegiatan ini dilaksanakan di Graha Pusat Literasi Magetan pada Selasa–Rabu (16–17/9/2025), dan diikuti oleh 50 siswa dari berbagai SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Magetan.
Salah satu rangkaian acara yang paling menyedot perhatian peserta adalah forum bedah buku yang digelar pada hari kedua, Rabu (17/9). Buku yang dibedah berjudul Kisah-Kisah Pustaka: Sebuah Novel Pembangun Literasi karya Rotmianto Mohamad, seorang penulis sekaligus pustakawan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan.
Rotmianto menjelaskan bahwa novel tersebut memuat tiga kisah dengan satu tujuan: literasi Indonesia. Karya ini lahir dari kegelisahannya melihat stigma bahwa pustakawan sering dianggap sekadar penjaga buku, tanpa kemampuan atau minat untuk menulis. Dari keresahan itu, ia menuangkan ide dan imajinasinya hingga lahirlah novel ini.
“Mengetik pakai smartphone mungkin lebih praktis, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa tergantikan oleh cara modern. Terutama faktor seninya. Membuka halaman demi halaman, merasakan goresan tinta di atas kertas, mencium aroma kertas—itu semua adalah seni. Mengetik pakai smartphone, seninya di mana, coba?” demikian salah satu kutipan dialog dalam kisah Taman Baca di Kali Langit.
Novel ini menekankan pentingnya aktivitas membaca dan menuliskannya kembali, misalnya dalam bentuk buku harian. Meskipun kerap dianggap usang, aktivitas tersebut menyimpan nilai mendalam dan sarat makna.
Dalam forum bedah buku, hadir dua pembedah: Bambang Prakoso, Ketua GPMB Jawa Timur sekaligus dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, serta Aditya Akbar Hakim, penulis lintas negara yang juga seorang guru.
Bambang menilai karya Rotmianto sarat dengan filosofi dan relevan dengan kondisi masa kini. “Tiga kisah yang ditulis Mas Rotmianto itu filosofis, futuristik, dan sangat dekat dengan kehidupan nyata. Hanya pembaca tekun yang bisa menulis cerita sedalam ini,” ujarnya.
Sementara itu, Aditya menambahkan bahwa kedekatan Rotmianto dengan dunia petualangan turut memperkaya tulisannya. “Proses kreatifnya lahir dari hati. Ada rasa yang ia bawa, sehingga pembaca bisa larut dalam emosinya—bukan untuk membuat cengeng, tetapi menyerap energi dahsyat dari kisah yang ditulisnya,” tutur penulis yang banyak melahirkan buku bergenre nonfiksi tersebut.
Selain Taman Baca di Kali Langit, novel ini juga memuat kisah Robohnya Perpustakaan Kami serta Seberkas Cahaya dari Graha Literasi, yang menyajikan satire mendalam mengenai isu literasi, bermula dari Magetan hingga menginspirasi Indonesia.
Kehadiran Rotmianto sebagai pustakawan sekaligus penulis menjadi capaian tersendiri. Ia membuktikan bahwa pustakawan bukan sekadar penjaga buku, melainkan juga perajut peradaban yang lahir dari kedekatannya dengan sumber bacaan. Melalui novel ini, Rotmianto memberi teladan bahwa menulis dan melahirkan buku bukanlah perkara sulit, bahkan bagi seorang pustakawan. (*)


