SEJUK.ID – Semangat berbeda terasa di lantai dua Gedung Dakwah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro, Kamis (12/2/2026). Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan peserta memadati ruangan dengan antusias. Mereka hadir bukan sekadar mengikuti lokakarya, melainkan membawa tekad menguatkan kembali gaung dakwah Muhammadiyah di ruang digital.
Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PDM Bojonegoro bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan Workshop dan Pendampingan User Generated Content (UGC) untuk publikasi sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Bojonegoro. Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 15.00 WIB itu diikuti 128 peserta, terdiri atas ketua dan sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PCM se-Bojonegoro serta kepala sekolah dan tim IT sekolah/madrasah Muhammadiyah.
Suasana pembukaan berlangsung khidmat saat Ketua PDM Bojonegoro, Suwito, menyampaikan kajian iftitah dengan mengutip QS Al-Isra ayat 36 tentang tanggung jawab manusia atas pendengaran, penglihatan, dan hati. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah arus informasi digital, setiap konten bukan sekadar materi publikasi, tetapi juga amanah moral.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Himmawan, menegaskan pentingnya percepatan langkah dakwah digital. Ia menilai Muhammadiyah memiliki amal usaha pendidikan yang kuat, tetapi tanpa publikasi yang terarah, gaungnya tidak akan terdengar luas. Pesan itu disambut antusias peserta yang melihat publikasi sebagai bagian dari strategi dakwah modern.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, turut mengapresiasi kemandirian Muhammadiyah dalam mengelola pendidikan. Ia mendorong Majelis Dikdasmen untuk terus bersinergi dengan dinas pendidikan daerah guna memperkuat layanan pendidikan bagi masyarakat. Dukungan tersebut dinilai sebagai energi tambahan agar gerakan pendidikan Muhammadiyah semakin berdampak.
Memasuki sesi materi, Dr. Nurudin memaparkan pentingnya publikasi sekolah untuk membangun branding dan positioning. Menurutnya, di era persaingan terbuka, citra lembaga pendidikan harus dibangun secara strategis, konsisten, dan autentik agar mampu menarik kepercayaan publik.
Sesi berikutnya dipandu Himawan Sutanto yang mengenalkan pemanfaatan UGC sebagai sarana publikasi efektif. Ia mendorong sekolah memberdayakan guru, siswa, dan wali murid sebagai kreator konten positif, mulai dari dokumentasi kegiatan hingga kisah inspiratif peserta didik.
Antusiasme peserta terasa sepanjang kegiatan. Tidak ada kursi kosong hingga acara berakhir. Diskusi berlangsung dinamis, melahirkan pertanyaan, gagasan, hingga rencana kolaborasi antarsekolah. Peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga berkomitmen menerapkan ilmu yang diperoleh.
Workshop ini menjadi penanda kesadaran baru bahwa masa depan pendidikan Muhammadiyah turut ditentukan oleh kehadirannya di ruang digital. Dari Bojonegoro, semangat itu tumbuh—membangun citra, memperkuat dakwah, dan meneguhkan komitmen melayani umat dengan tanggung jawab. (*)
Penulis Suprapto. Editor Fathan Faris Saputro.


